Mobil berhenti di depan rumah orang tua Aurel pukul tujuh kurang lima.
Aurel tidak langsung turun. Tangannya meremas tali tas yang sebenarnya tidak perlu diremas.
"Rel."
"Hm?"
"Garasinya kosong."
Aurel menoleh. Benar. Garasi yang biasanya memuat dua mobil Papa kini hanya berisi motor tua dan rak peralatan.
"Mungkin dibawa ke bengkel," katanya, terlalu cepat.
Aditya tidak menjawab. Ia hanya turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya, kebiasaan kecil yang tidak pernah ia lakukan kalau tidak ada yang melihat. Hari ini ada yang melihat. Mama Aurel berdiri di teras dengan apron dan senyum yang dipaksakan sampai ke telinga.
"Akhirnya," kata Mama.
"Ma." Aurel memeluknya. Tubuh ibunya terasa lebih kurus dari bulan lalu.
"Ini suamimu?"
"Selamat malam, Tante." Aditya mengulurkan tangan, lalu menunduk sedikit. Tinggi badannya membuat gerakan itu tampak hormat sekali. "Saya Aditya. Maaf baru sempat datang."
"Ya ampun. Tinggi sekali. Aurel, kamu nggak bilang."
"Aku bilang, Ma. Dia CEO."
"CEO itu jabatan, bukan tinggi badan."
Dari dalam rumah terdengar suara kursi bergeser keras.
"Mana dia? Mana menantu saya?"
Papa muncul dengan kaus polo, celana kain, dan wajah yang jelas-jelas sudah menyiapkan diri sejak sore. Di tangannya sebuah raket tua dengan senar yang sudah menguning.
"Om." Aditya menyalami.
"Papa saja kalau sudah..." Papa berhenti. Mungkin sadar terlalu cepat. "Om juga boleh. Bisa main bulu tangkis?"
"Pernah, Om."
"Pernah sampai mana?"
"Tingkat nasional waktu kuliah."
Raket di tangan Papa terangkat sedikit.
"Ganda atau tunggal?"
"Ganda campuran, Om. Tunggal kalau terpaksa."
Papa menatap Mama. Mama menatap Aurel. Aurel menatap langit-langit teras.
"Masuk," kata Papa. "Masuk, masuk. Anak ini bisa kita ajak ngobrol."
---
Meja makan sudah penuh sebelum mereka duduk. Rendang, sayur lodeh, tempe goreng, sambal terasi, dan ayam goreng yang jelas dibuat dengan seluruh anggaran belanja minggu ini.
Aurel melihat piring-piring itu dan hatinya mengecil.
"Ma, banyak banget."
"Menantu pertama datang. Masa cuma tahu tempe."
Papa membuka percakapan setelah doa.
"Smash atau drop shot?"
"Tergantung lawan, Om."
"Lawannya Om."
Aditya meletakkan sendoknya, berpikir seolah ini rapat dewan.
"Drop shot. Om lebih sabar dari saya."
Papa terdiam. Lalu tertawa keras sampai bahunya bergoyang.
"Aurel! Kamu dengar? Lebih sabar!"
"Dengar, Pa."
"Saya main sejak umur dua belas. Anak saya cuma main dua kali, dua-duanya kalah."
"Pa!"
"Tapi suamimu pintar menilai orang."
Aurel menunduk menahan geli. Diam-diam ia melihat Aditya, yang dengan sangat serius mengambilkan rendang untuk Mama lebih dulu sebelum untuk dirinya sendiri.
Mamanya memperhatikan itu. Aurel melihat matanya melunak.
"Jadi," kata Mama sambil menyendok nasi, "bagaimana kalian bertemu? Aurel cuma bilang acara amal."
Aurel dan Aditya berpandangan sepersekian detik.
"Lelang lukisan, Ma," kata Aurel.
"Lukisan pemandangan sawah," tambah Aditya.
"Aditya beli?"
"Dia beli," kata Aurel. "Aku bilang kemahalan."
"Dan saya bilang selera dia yang murah," lanjut Aditya datar.
Papa tersedak. Mama menatap Aditya lama.
"Aurel tidak marah?"
"Marah, Tante. Tapi saya tidak melepaskan tangannya."
Sunyi sebentar. Aurel menahan napas, takut ucapan yang hampir tidak ada di naskah itu terdengar terlalu nyata.
Mama tersenyum.
"Kamu benar-benar jatuh cinta ya, Rel."
Aurel menunduk. Pipinya panas.
"Ma."
"Wajahmu bercerita."
"Pa, tolong, kita bahas bulu tangkis lagi."
"Setuju," kata Papa. "Atau usaha Om saja. Nak Aditya kan pengusaha, pasti penasaran."
"Penasaran, Om. Aurel bilang bahan kemasan."
"Dus, plastik pembungkus, label. Semua yang membungkus barang sebelum sampai ke tangan orang." Papa menyendok sambal. "Dua puluh tahun Om bungkus barang orang. Kadang dibayar, kadang ditunda."
"Ditunda, Om?"
"Pembeli besar suka begitu. Sembilan puluh hari. Seratus dua puluh hari."
"Pa," kata Mama.
"Cuma cerita."
"Cerita yang lain saja."
Papa mengangguk, mengambil ayam goreng, dan tidak melanjutkan. Aditya mengamati keduanya dengan wajah yang tidak berubah. Tapi Aurel melihat jarinya mengetuk taplak satu kali, kebiasaan yang ia pakai ketika sedang menghitung sesuatu.
"Pak Darto dulu pernah cerita," kata Aditya santai, mengganti topik, "ada raket yang senarnya sengaja dilonggarkan supaya shuttlecock jatuh lebih dekat net."
"Siapa yang bilang? Itu trik!" Papa langsung bersemangat.
Dan mereka bicara senar selama dua puluh menit sementara Aurel menatap ibunya yang pelan-pelan menghembuskan napas lega.
---
Selesai makan, Papa mengajak Aditya melihat raket-raket tuanya di ruang kerja kecil di belakang. Aurel membantu mamanya membereskan piring, tapi pikirannya tertinggal di sana.
Di dapur, Mama berbisik.
"Dia baik, Rel."
"Aku tahu, Ma."
"Papa suka sekali."
"Iya."
"Kamu bahagia?"
Aurel mengangkat wajahnya dari piring.
"Kenapa nanya begitu?"
"Seorang ibu boleh bertanya."
"Aku..."
Ia berhenti. Jawaban jujur dan jawaban yang aman bertabrakan di kepalanya.
"Aku lagi belajar, Ma."
"Belajar apa?"
"Belajar jadi orang yang lebih berguna."
Mama mengelus rambutnya.
"Kamu sudah berguna sejak lahir."
Dari ruang kerja terdengar suara Papa tertawa, lalu suara kertas dikibas keras-keras.
Aurel dan mamanya sama-sama menoleh.
---
Aditya berdiri di ambang ruang kerja kecil itu, dan pemandangan di dalam terasa tidak enak.
Meja kayu penuh kertas. Beberapa amplop berkop bank terbuka, sebagian lagi belum. Papa sedang menyapu semuanya dengan kedua lengan ke dalam laci, wajahnya tersenyum tapi tangannya terlalu cepat.
"Maaf, Om. Saya tidak sengaja lihat."
"Itu cuma tagihan biasa," kata Papa.
"Kalau boleh, Om, saya bisa..."
"Nak Aditya."
Suara Papa pelan sekali.
"Soal uang itu urusan Om. Jangan ditanyakan lagi."
Aditya menatap laci yang sudah ditutup. Lalu menatap Aurel, yang berdiri di belakangnya di ambang pintu dengan piring masih di tangan.
Aurel tidak tahu sejak kapan ia di sana. Ia hanya tahu kata "tagihan" yang tadi terdengar jelas.
"Pa," katanya pelan.
"Sudah, Rel." Papa tersenyum lagi, senyum yang sama seperti di teras. "Ayo makan buah."
Buah dihidangkan di teras belakang. Semangka, pepaya, dan sepiring pisang goreng yang Mama sebut "sekalian, mumpung masih hangat".
Aurel duduk di sebelah Aditya, dekat sekali, karena ayunan kayu itu memang sempit. Atau karena ia butuh sesuatu untuk bersandar.
"Dit," bisiknya, sementara Papa sibuk memutar-mutar raket di tangan, "lo lihat apa tadi?"
"Amplop."
"Berapa banyak?"
"Banyak."
"Lo lihat tulisan di amplopnya?"
Aditya terdiam. Jari-jarinya masih mengetuk lututnya sendiri.
"Saya hanya sempat membaca satu kata."
"Apa?"
"Peringatan."
Aurel menatap lurus ke depan, ke arah mamanya yang sedang menuang teh. Tangan ibunya sedikit gemetar. Teh hampir tumpah dari cangkir.
"Kita bicara di mobil," kata Aditya pelan.
"Jangan di sini."
"Jangan di sini," ulangnya setuju.
Lalu Aurel merasakan tangan Aditya menyentuh punggung tangannya sekilas di atas kayu ayunan. Tidak menggenggam. Hanya menyentuh, lalu pergi.
"Itu tadi akting?" bisiknya.
Aditya menatap lurus ke arah Papa yang sedang memutar-mutar raket.
"Saya belum memutuskan," katanya.