Pintu lift sudah lama menutup, tapi Aurel dan Aditya masih berdiri di tempat yang sama.
"Acara amal," kata Aurel akhirnya.
"Kantor."
"Kenapa kantor? Lo mau bilang gue datang bawa proposal?"
"Kenapa acara amal? Saya tidak pernah datang ke acara amal."
"Lo pernah. Lo kan CEO. CEO selalu ke acara amal."
"Saya mengirim cek, bukan badan."
Mbak Sari yang sedang mengumpulkan cangkir teh mengangkat wajah.
"Maaf, Tuan. Boleh saya kasih saran?"
"Tidak," kata Aditya.
"Boleh," kata Aurel.
"Kalau Nona dan Tuan bohong, jangan bohong dua versi. Satu saja, yang sama-sama enak diingat."
Ia mengangkat nampan, lalu menghilang ke dapur dengan sopan dan tergesa.
Aurel menatap pintu dapur, lalu Aditya.
"Dia benar."
"Dia asisten rumah tangga."
"Dia benar dan dia asisten rumah tangga. Dua-duanya bisa."
Aditya menghela napas dan duduk di sofa. Aurel mengambil buku catatan birunya, membuka halaman kosong, dan menulis di bagian atas dengan pulpen emas: KISAH RESMI.
"Oke. Acara amal."
"Acara amal apa?"
"Lelang lukisan. Biar ada alasan kita berdiri bareng. Lo beli satu lukisan, gue yang ikut nawar."
"Saya tidak beli lukisan."
"Di cerita lo beli."
"Lukisan apa?"
"Pemandangan sawah. Biar kelihatan lo juga bisa lembut."
Aditya menatapnya datar. Aurel menahan tawa.
"Terus?"
"Terus kita ngobrol soal harga. Gue bilang lukisannya kemahalan. Lo bilang, 'lukisan itu tidak mahal, selera kamu yang murah.'"
"Saya tidak pernah bilang begitu."
"Di cerita lo bilang. Soalnya itu persis lo."
"Lalu?"
"Lalu kita saling kenal, jalan sebentar, dan lo nggak mau nunggu lama. Makanya nikah cepat."
"Kenapa saya nggak mau nunggu?"
Aurel mengetuk pulpen ke dagunya.
"Karena lo takut gue diambil orang."
Hening dua detik.
Aditya menatap ke arah jendela.
"Itu lebih baik dari versi awalmu."
"Gue tahu."
Mereka berlatih di ruang tengah seperti dua aktor yang naskahnya baru dibagikan. Aurel berperan sebagai Wilhelmina, menaikkan alis dan mengeraskan suara.
"Kapan kalian pertama kali berpegangan tangan?"
"Di pelelangan," jawab Aditya.
"Siapa yang mulai?"
"Dia."
"Gue?" Aurel melepas peran. "Kenapa gue?"
"Karena kamu yang berani."
"Oke. Gue mulai. Terus?"
"Terus saya tidak melepaskannya."
Mereka sama-sama diam sebentar. Aurel berdeham dan kembali pada perannya.
"Makanan favorit Aurel?"
"Nasi goreng kampung dan ayam lada hitam."
"Warna favorit Aditya?"
"Hitam."
"Itu bukan warna."
"Abu-abu tua."
"Itu juga bukan."
"Hijau zamrud," kata Aditya pelan, dan Aurel baru sadar itu warna gaunnya di Jogja.
Ia menunduk dan menulis cepat-cepat di bukunya supaya tidak ketahuan tersenyum.
"Pertanyaan jebakan," katanya, kembali menaikkan alis ala Wilhelmina. "Kapan Aditya pertama kali bilang kalau dia menyukai istrinya?"
Aditya membuka mulut. Menutupnya lagi.
"Itu belum ada di naskah."
"Makanya sekarang kita isi."
"Saya tidak perlu mengisi."
"Dit, kalau Tante tanya begitu, lo mau jawab 'Hm'?"
"Jawaban itu cukup untuk banyak orang."
"Bukan buat ibu lo."
Aditya mengusap tengkuknya.
"Di pelelangan," katanya akhirnya. "Waktu kamu menawar lukisan yang lebih mahal dari harga yang kamu bilang kemahalan."
Aurel berhenti menulis.
"Itu bagus."
"Saya tahu."
"Itu bagus banget. Lo ngarang atau..."
"Ngarang," potong Aditya cepat, lalu berdiri dan mengambil gelas yang sama sekali tidak kosong.
---
Menjelang malam, urusan tidur muncul seperti tamu yang tidak diundang.
"Barang gue masih di kamar lo," kata Aurel, berdiri di ambang pintu kamar Aditya.
"Biarkan dulu."
"Sampai kapan?"
"Sampai Mama yakin."
"Terus gue tidurnya?"
"Di kamarmu."
"Gue pikir..."
"Kamu pikir apa?"
Aurel mengerjapkan mata.
"Gue pikir lo bakal minta sekamar."
Aditya menatapnya tanpa ekspresi, tapi daun telinganya merah.
"Saya tidak akan pernah minta itu tanpa kamu yang bilang dulu."
"Oh."
"Aturan kedua kontrak. Kamar terpisah."
"Iya. Aturan kedua."
"Barangmu di sini hanya untuk dilihat kalau Mama datang lagi. Kamu tetap tidur di kamarmu."
"Setuju."
"Dan kalau suatu hari kamu ingin berubah pikiran, bilang."
Aurel mengangguk. Lalu menunjuk sikat gigi mereka yang bersebelahan di kamar mandi.
"Itu sebelah-sebelahan bagian dari akting."
"Bagian dari akting."
"Oke."
Ia berbalik, lalu kembali lagi.
"Dit."
"Hm."
"Lo nggak marah kita jadi pembohong?"
"Kita bukan pembohong. Kita sedang menyusun versi."
Aurel tertawa kecil.
"Itu kalimat paling lawyer yang pernah gue dengar."
---
Pukul sembilan malam, ponsel Aurel berdering. Mamanya.
Aurel menarik napas panjang, mengangkat, dan memasang suara paling ceria.
"Halo, Ma!"
"Aurel."
Cuma satu kata, tapi nadanya sudah cukup.
"Ma, aku bisa jelasin."
"Mama sudah dengar jelasannya. Sehari sesudah akad, lewat telepon. Kamu menikah dengan pengusaha yang kamu kenal di acara amal, dan kamu bilang jadwal kamu penuh sampai tidak bisa bawa dia ke rumah."
"Ma..."
"Mama ibumu. Mama nggak bisa pura-pura nggak tahu bahwa anak Mama tiba-tiba menikah dan menyuruh Mama menunggu."
Suara di seberang terdengar lebih lelah dari biasanya. Aurel menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga.
"Maaf, Ma."
"Papa kamu bahkan belum tahu nama lengkap menantunya."
"Aditya Mahendra, Ma."
"Mahendra? Mahendra Group?"
"Iya."
Hening sebentar. Lalu napas panjang.
"Besok malam. Jam tujuh. Di rumah. Kalian berdua."
"Ma, besok mungkin..."
"Tidak bisa ditawar."
"Iya, Ma."
"Mama masak. Papa belum bilang mau pesan apa, tapi dia sudah ribut dari tadi mencari raket lamanya."
"Raket?"
"Dia mau tanya apakah suamimu bisa main bulu tangkis."
Aurel menutup mulut dengan tangan supaya tawa kagetnya tidak terdengar.
"Mama?"
"Apa?"
"Papa nggak apa-apa?"
Jeda satu detik terlalu panjang.
"Papa sehat. Cuma kebanyakan pikiran. Sudah ya, besok jam tujuh."
Sambungan putus.
Aurel masih memegang ponselnya ketika Aditya muncul di ambang ruang tengah.
"Besok malam?"
"Jam tujuh."
"Saya bisa."
"Ibu lo bakal ngecek apa lagi?"
"Mama saya tidak gampang dibohongi."
"Gue tahu."
"Nanti kita lihat siapa yang lebih sulit," kata Aditya sambil menatap jendela. "Mama saya atau Mama kamu."
Aurel tidak menjawab. Pikirannya masih pada satu detik jeda di telepon tadi.
"Rel?"
"Hm?"
"Kamu pucat."
"Gue cuma kepikiran Papa. Dia nggak pernah cari raket kalau lagi baik-baik saja. Biasanya dia cari raket kalau lagi stres."
"Stres kenapa?"
"Nggak tahu."
Ia bohong, dan ia tahu Aditya tahu. Mereka berdua sama-sama membiarkannya.
Di kamarnya, Aurel membuka bukunya di halaman Kisah Resmi, lalu menulis satu baris di bawahnya dengan huruf kecil dan rapat.
Besok: lihat Papa baik-baik. Jangan sampai kelihatan.
Ia menutup buku itu dan menatap langit-langit lama sekali.