Mbak Sari datang dari dapur dengan celemek masih terikat dan sendok kayu di tangan.
"Ya, Tuan?"
"Nyonya besar mampir jam dua."
Sendok kayu itu jatuh ke lantai. Mbak Sari tidak memungutnya.
"Ibu Wilhelmina? Ke sini? Sekarang?"
"Atau lebih awal."
"Ya Tuhan."
Pak Budi muncul dari pintu lift dengan kemeja setengah terkancing. Rupanya ia mendengar dari lantai bawah. Berita buruk memang selalu naik lebih cepat daripada lift.
"Siap, Bos. Apa yang harus dipindah?"
"Barang Aurel," kata Aditya. "Ke kamar saya."
Pak Budi berkedip. Mbak Sari berkedip. Pak Darto yang kebetulan lewat membawa gunting kebun ikut berkedip.
"Bukan pindah selamanya," Aurel cepat-cepat menambahkan. "Pindah buat dilihat."
"Dilihat siapa, Nona?"
"Dilihat Tante."
Mbak Sari menatapnya dengan wajah orang yang baru saja mengerti betapa rumitnya rumah ini.
"Siap, Nona. Sepuluh menit."
Sepuluh menit berikutnya seperti babak terakhir film komedi. Mbak Sari memeluk setumpuk blus. Pak Budi membawa tiga pasang sepatu dan satu kotak skincare yang ia pegang seperti bom. Pak Darto menerima bantal-bantal di pintu lift, karena ia menolak melangkah lebih jauh dari situ, lalu menyerahkannya satu per satu dengan wajah orang yang sedang menyelundupkan barang.
"Sikat gigi Nona taruh di sebelah sikat gigi Tuan?" tanya Mbak Sari.
"Taruh," kata Aurel.
"Jangan," kata Aditya.
"Taruh, Dit. Namanya juga suami istri."
"Saya tidak mau sikat gigi saya dipandangi."
"Gue juga nggak. Tapi ibu lo bakal ngecek kamar mandi."
Aditya menutup mata sebentar.
"Taruh."
Pukul satu lewat sepuluh, lemari Aditya sudah memuat tiga rak pakaian perempuan. Tempat tidur ukuran besar itu kini punya dua bantal yang lebih. Aurel berdiri di tengah kamar, mengatur napas.
"Kelihatan natural nggak?"
"Kelihatan seperti ada orang yang buru-buru."
"Itu juga natural."
Dari bawah terdengar bunyi lift berdenting.
Aurel dan Aditya saling pandang.
"Lebih awal," bisik Aditya.
---
Wilhelmina Mahendra berdiri di ruang tengah tanpa tergesa, seolah penthouse itu miliknya, dan memang begitu.
Rambutnya tersanggul rapi. Blusnya krem, rok panjangnya jatuh dengan sempurna. Tatapannya menyapu ruangan sekali, lalu berhenti pada Aurel yang baru turun tangga dengan senyum yang ia latih di depan kamera sejak umur tujuh belas.
"Selamat siang, Tante."
"Kamu Aurel."
"Iya, Tante."
"Lebih kecil dari yang Tante kira."
"Tapi lebih cerewet dari fotonya," sahut Aurel tanpa pikir.
Aditya menutup wajah dengan telapak tangan. Mbak Sari menahan napas.
Wilhelmina menatap Aurel tiga detik yang panjang. Lalu sudut bibirnya bergerak tipis.
"Duduk."
Mereka duduk. Mbak Sari datang membawa teh, tangannya sedikit bergetar. Wilhelmina menerima cangkirnya tanpa menoleh.
"Orang tuamu sehat?"
"Sehat, Tante. Papa agak sibuk dengan usahanya."
"Usaha apa?"
"Bahan kemasan, Tante."
"Pasti berat zaman sekarang."
"Berat, tapi Papa orangnya gigih."
"Dan kamu? Masih kerja di depan kamera?"
Aurel melirik Aditya sepersekian detik.
"Sekarang lebih banyak belajar, Tante. Di kantor Aditya."
"Belajar apa?"
"Membaca laporan. Dan salah baca laporan."
Alis Wilhelmina naik sedikit.
"Salah baca?"
"Seratus delapan puluh juta, Tante. Kemarin."
Aditya menegakkan badan. Ia siap menyela.
Tapi Aurel melanjutkan sendiri.
"Saya akui, saya perbaiki, dan sekarang saya punya daftar periksa. Jadi kesalahan itu lunas."
Wilhelmina meletakkan cangkirnya perlahan.
"Kamu bercerita soal kesalahan pada orang yang baru kamu temui."
"Lebih baik Tante dengar dari saya daripada dari orang lain."
Hening.
Wilhelmina memandang putranya. Aditya membalas tatapan itu tanpa berkedip, tapi Aurel melihat jakunnya bergerak.
"Hm," kata Wilhelmina.
Tepat seperti anaknya.
---
Wilhelmina minta melihat rumah. Ia berjalan pelan, tangan di belakang punggung, membuka satu pintu demi satu pintu seperti inspektur.
Di dapur, ia berhenti di depan wajan besi yang menggantung di dinding.
"Siapa yang memasak di sini, Sari?"
"Nona Aurel, Bu. Hampir tiap pagi."
"Tuanmu makan?"
"Habis, Bu. Sampai bersih. Kadang minta tambah, tapi pura-pura tanya dulu apakah masih ada sisa."
Aditya batuk kecil di belakang mereka.
Wilhelmina tidak menoleh, tapi bahunya turun sedikit, seperti orang yang baru melepas sesuatu yang berat.
Di halaman belakang, ia menyentuh daun tanaman jeruk di pot dan bertanya soal bulu tangkis. Pak Budi, yang berdiri kaku di dekat pagar, menjawab bahwa Nona Aurel pernah kalah 21 lawan 19.
"Dari Aditya?"
"Dari Tuan, Bu. Tapi Nona minta main lagi."
"Aditya menang?"
"Menang, Bu. Tapi traktir pizza."
"Kenapa traktir?"
"Menepati janji, Bu."
Wilhelmina mengangguk pelan. Aurel melihat putranya menatap tanah.
Ruang kerja, lalu kamar Aditya.
Ia berdiri di ambang pintu agak lama. Matanya berpindah dari lemari yang separuh terbuka, ke sikat gigi yang sejajar di kamar mandi, ke bantal tambahan.
"Lemari ini baru dipakai," katanya.
"Barang Aurel, Ma," jawab Aditya cepat.
"Tante lihat."
"Baru pindah, Tante," tambah Aurel. "Kami masih menyesuaikan."
"Menyesuaikan," ulang Wilhelmina. Ada sesuatu di nada suaranya yang tidak bisa Aurel tebak. Geli, mungkin. Atau sama sekali bukan.
Ia berbalik ke ruang tengah dan duduk lagi.
"Ada satu hal yang ingin Tante lihat."
"Apa, Tante?"
"Buku catatan birumu. Maya bercerita kamu selalu membawanya."
Aurel kaku. Di dalamnya ada kalimat bijak, daftar periksa, catatan pelajaran. Dan beberapa baris di pinggir halaman yang tak ingin ia perlihatkan pada siapa pun.
Ia menyerahkan buku itu dengan dua tangan, lalu berdoa dalam hati agar Wilhelmina berhenti membaca di halaman pertama.
Wilhelmina membalik halaman. Pelan sekali.
"BELAJAR JADI PEREMPUAN BERGUNA." Ia membaca judulnya. "Siapa yang memberi judul ini?"
"Saya sendiri, Tante."
"Kenapa bukan 'Belajar Jadi Istri Mahendra'?"
"Karena yang ingin saya jadi lebih dulu adalah diri sendiri yang berguna, Tante."
Wilhelmina menutup buku itu dan mengembalikannya.
"Tante menginginkan satu hal darimu."
Aurel menunggu.
"Cucu."
Bantal di pangkuan Aditya bergeser.
"Ma."
"Tante tidak minta sekarang. Tante hanya mengingatkan bahwa umur Tante bukan angka yang bisa ditunda."
"Ma, kami baru..."
"Jumat sore Budi akan menjemput kalian. Menginap di rumah. Sampai Minggu."
"Jumat?" Aurel menoleh pada Aditya. "Tapi..."
"Dan Sabtu tiga pekan lagi," lanjut Wilhelmina, seolah tak mendengar. "Resepsi. Ballroom hotel. Seluruh Jakarta akan melihat kalian."
Ia berdiri. Merapikan rok. Mencium pipi Aditya, lalu menepuk bahu Aurel sekali.
Di ambang lift, ia menoleh.
"Satu pertanyaan lagi, Aurel."
"Iya, Tante?"
"Bagaimana kalian bertemu?"
"Di acara amal," jawab Aurel.
"Di kantor," jawab Aditya, di detik yang sama.
Keduanya berhenti.
Wilhelmina menatap bergantian. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya ketenangan yang jauh lebih menakutkan.
"Rapikan dulu ceritanya," katanya, lalu pintu lift menutup.