Aditya sudah duduk di meja makan ketika Aurel turun dengan rambut yang masih berantakan.
Kopi hitam di depannya. Semangkuk bubur gandum. Tablet terbuka di samping piring.
Pemandangan yang sama seperti tiap pagi.
Bedanya, pagi ini Aditya menurunkan tabletnya begitu Aurel menarik kursi.
"Pagi."
"Pagi."
Aurel menuang air putih. Ia sengaja tidak menatap mata Aditya. Ia menatap gelas, sendok, garam, apa pun yang tidak bisa balas menatap.
"Semalam," kata Aditya.
Gelas di tangan Aurel berhenti di udara.
"Semalam kenapa?"
"Ada yang berdiri di lorong."
"Oh."
"Lama."
"Oh ya?"
"Sekitar semenit. Lalu langkahnya balik ke kamar."
Aurel meletakkan gelas pelan-pelan.
"Mungkin Mbak Sari."
"Mbak Sari sudah masuk kamarnya jam sembilan."
"Pak Darto?"
"Pak Darto tidak pernah naik ke lantai atas."
"Hantu, kalau begitu."
Aditya mengambil sendoknya. Sudut bibirnya bergerak sedikit.
"Hantu yang pakai sandal kamar bulu kelinci."
Aurel menunduk. Sandal kelinci pinknya memang menyembul dari bawah meja, tepat di depan mata.
"Oke, itu gue."
"Hm."
"Gue mau nanya jadwal."
"Jam sebelas malam."
"Gue lupa kalau jadwal lo bisa ditanya besok."
"Kamu bisa ketuk."
Kalimat itu keluar dengan nada biasa saja. Tapi Aurel merasa telinganya memanas.
"Kan lo lagi kerja."
"Pintu saya bukan lift VIP. Boleh diketuk."
Aurel mengangkat sendok ke mulut. Kosong. Ia belum mengambil bubur sama sekali, dan sendok itu cuma menyuap udara.
Aditya mendorong mangkuk bubur miliknya ke seberang meja tanpa berkata apa-apa.
---
Di lorong lantai atas, Aditya berhenti di depan pintu kamarnya sendiri dan tidak langsung masuk.
Semalam ia memang belum tidur. Laporan Cikarang sudah beres, tapi kepalanya belum. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan lampu menyala, mendengar langkah pelan berhenti di balik pintu.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh.
Ia sudah setengah berdiri. Tangannya bahkan sudah menyentuh gagang.
Lalu langkah itu menjauh, dan ia duduk lagi seperti orang bodoh.
Aditya menatap daun pintu hitam di depannya sekarang.
Tiga kali dalam seminggu ia hampir mengetuk pintu kamar Aurel dengan alasan yang sama bodohnya: tanya sudah makan atau belum. Tiga kali pula ia membatalkan.
Mereka berdua rupanya sama-sama punya masalah dengan pintu.
Ia membuka pintunya, mengambil jam tangan, lalu keluar lagi dengan wajah sedatar biasanya.
---
Pukul sembilan, mereka berdua sudah di ruang kerja penthouse.
Dua laptop. Satu papan tulis kecil. Setumpuk kertas yang di bagian tengahnya Aurel tulisi besar-besar: BIAYA PEMELIHARAAN.
"Pertanyaan lo di rapat kemarin," kata Aditya. "Soal biaya pemeliharaan setelah resor jadi."
"Manajer proyeknya bengong."
"Karena belum ada yang menghitung. Arvanta pasti menanyakannya juga. Rapat lanjutan menyusul, jadwalnya belum ditetapkan."
"Jadi laporannya harus siap."
"Kamu yang susun. Saya yang baca."
Aurel menoleh cepat.
"Gue yang susun? Setelah kemarin?"
"Justru karena kemarin."
Aurel menarik kertas daftar periksa lima poin dari buku catatan birunya dan menempelkannya di sisi layar.
"Satu. Buka lembar sumber, bukan ingatan."
Ia mengetuk kertas itu.
"Dua. Angka besar dibaca per bagian. Tiga. Tandai baris yang sudah cocok. Empat. Berhenti tiap dua puluh menit. Lima."
"Angka di atas satu miliar."
"Butuh satu orang lagi untuk lihat."
Aurel menatap Aditya.
Aditya menatap balik.
"Apa?"
"Lo orangnya."
"Saya?"
"Lo kan yang paling yakin nggak mungkin salah. Itu poin paling penting, kata lo sendiri."
Aditya menahan senyum dan memutar kursinya menghadap papan tulis.
"Mulai."
Dua jam berikutnya berjalan seperti latihan tinju. Aurel menyebut angka, Aditya menyahut "sumbernya?", Aurel membuka lembar, mencocokkan, menandai.
Dua kali ia berhenti. Dua kali ia menemukan baris yang hampir tertukar.
"Biaya perawatan kolam: tiga ratus enam puluh juta setahun."
"Sumbernya?"
"Halaman lima."
"Per bagian?"
"Tiga ratus. Enam puluh."
"Lanjut."
Pukul sebelas, Aurel menyandarkan punggung dan menatap papan tulis penuh coretan.
"Tahun kedelapan, biaya pemeliharaan resor lebih besar dari laba bersih tahun itu."
"Kalau kolamnya tidak diganti."
"Atau kalau tarif kamar nggak naik."
"Atau keduanya."
Aurel menulis angka itu dengan spidol merah, melingkarinya dua kali.
"Dit, ini yang bakal ditanyain Pak Hardi."
"Hm."
"Lo nggak kaget?"
"Saya kaget kamu menemukannya sendiri."
Aurel pura-pura sibuk dengan tutup spidol. Padahal pipinya sudah panas lagi.
Ponsel Aditya bergetar sekali. Pesan dari Maya.
"Arvanta sudah balas," katanya sambil membaca. "Dua poin revisi kemarin diterima."
"Serius? Dua-duanya?"
"Dua-duanya. Pak Hardi menambahkan satu baris di akhir."
"Apa isinya?"
Aditya membacakan dengan nada datar.
"Mohon rincian biaya operasional jangka panjang disiapkan untuk rapat lanjutan."
Aurel menunjuk papan tulis dengan spidolnya.
"Berarti kita baru saja ngerjain PR yang belum dikasih."
"Berarti kamu baru saja bikin Pak Hardi kehilangan satu bahan untuk menyindir."
"Gue suka versi itu."
---
Ponsel Aditya bergetar di meja. Layarnya menampilkan satu kata: MAMA.
Aditya menatap layar itu terlalu lama.
"Angkat," bisik Aurel.
"Iya, Ma."
Suara di seberang cukup jelas sampai ke seberang meja. Tenang, rendah, tidak terburu-buru. Suara orang yang terbiasa dituruti.
"Aditya. Mama baru mendarat."
"Dari yayasan?"
"Beberapa minggu itu cukup. Mama kembali ke Jakarta."
Aditya melirik Aurel. Aurel melotot, mengisyaratkan: jangan sebut apa-apa.
"Selamat datang, Ma."
"Mama mau mampir siang ini."
"Ke kantor?"
"Ke penthouse."
Hening.
"Mama ingin bertemu istrimu. Ia ada di rumah, bukan?"
"Ada."
"Bagus. Jam dua. Atau lebih awal kalau jalanan lancar."
"Ma, nanti saya..."
"Biar kalian punya ruang, kata Mama waktu itu. Ruangnya sudah cukup. Mama ingin lihat menantu Mama sendiri."
Sambungan terputus.
Aditya menurunkan ponselnya perlahan.
Aurel sudah berdiri, tangannya memegang kepala.
"Jam dua."
"Atau lebih awal."
"Gue belum mandi. Penthouse belum..."
Ia berhenti. Matanya berpindah dari Aditya ke pintu ruang kerja, ke lorong di baliknya, ke dua pintu kamar yang berjauhan.
"Dit."
"Hm."
"Kamar kita."
"Kamar saya dan kamar kamu."
"Itu masalahnya. Mama lo bakal lihat penthouse ini."
"Lalu?"
"Istri yang kamarnya beda sama kamar suaminya."
"Dua pintu."
"Pernikahan yang katanya udah jalan beberapa minggu, Dit. Dan dua pintu."
Aditya diam dua detik. Lalu berdiri dan membuka pintu ruang kerja.
"Mbak Sari!"
Suaranya terdengar sampai dapur.