Pagi itu Aurel sudah duduk di ruang kerja Aditya sejak pukul delapan lewat sedikit. Rambutnya diikat sederhana, laptop terbuka, dan di sampingnya ada kopi yang dari tadi tidak diminum karena terlalu sibuk memperhatikan dokumen.
Sejak beberapa minggu terakhir, Aurel memang semakin sering membantu pekerjaan ringan di kantor. Bukan karena Aditya menyuruhnya menjadi pegawai, tetapi karena Aurel sendiri yang meminta.
Katanya, daripada cuma duduk menunggu Aditya selesai meeting.
Hari itu tugasnya sederhana.
Memeriksa kembali beberapa angka dalam laporan proyek sebelum dokumen tersebut dikirimkan kepada bagian keuangan.
Aurel membaca satu per satu.
"Yang ini..."
Klik.
"Sudah."
Scroll.
"Yang ini juga."
Klik.
Ia mulai merasa percaya diri.
"Kayaknya gue udah jago."
Maya yang duduk tidak jauh dari sana mengangkat wajah dari layarnya.
“Sudah selesai semua, Mbak?”
“Sudah.”
“Cepat sekali.”
Aurel tersenyum lebar.
“Ternyata gampang.”
“Cuma nyocokin angka.”
Maya tersenyum sopan.
Tapi tidak ikut mengatakan gampang.
Aurel tidak menyadari itu.
Ia menekan tombol kirim, lalu meregangkan tangan sampai bahunya berbunyi.
“Selesai jam sembilan lewat sepuluh.”
“Rekor.”
Ia bahkan sempat memotret layarnya sendiri.
Bukan untuk siapa-siapa.
Cuma untuk dirinya sendiri.
Kemarin ia bilang mau pekerjaan yang kalau salah ada akibatnya.
Hari ini pekerjaan itu sudah selesai sebelum kopinya dingin.
Aurel bersandar dengan puas.
Untuk pertama kalinya sejak menikah kontrak dengan Aditya, ia merasa dirinya bukan cuma tamu di gedung ini.
---
Pukul sebelas lewat empat puluh, telepon di meja Maya berdering.
Aurel sedang membaca berita di ponselnya ketika ia mendengar suara Maya berubah.
“Iya, Pak.”
“Sebentar, Pak.”
“Saya cek dulu.”
Maya menaruh gagang telepon.
Wajahnya tidak enak dilihat.
“Mbak Aurel.”
“Hm?”
“Dari bagian keuangan.”
“Kenapa?”
“Total di lampiran laporan proyek Cikarang katanya nggak cocok.”
Aurel meletakkan ponselnya.
“Nggak cocok gimana?”
“Selisihnya seratus delapan puluh juta.”
Ada satu detik di mana Aurel tidak merasakan apa-apa.
Kemudian dadanya seperti jatuh.
“Nggak mungkin.”
“Gue cek semua tadi.”
Maya membuka dokumen itu di layarnya.
Aurel berdiri, lalu berjalan cepat ke meja Maya.
Mereka membaca bersama.
Baris demi baris.
Dan Aurel menemukannya sendiri.
Baris ketujuh.
Biaya sewa alat.
Di lembar sumber angkanya satu miliar dua ratus empat puluh juta.
Di lampiran yang ia periksa tertulis satu miliar empat ratus dua puluh juta.
Angkanya tertukar.
Dua dan empat.
Aurel menatap layar itu tanpa berkedip.
“Ini...”
“Gue tadi lihat baris ini.”
“Gue klik sudah.”
Maya diam.
“May.”
“Iya?”
“Gue lihat, tapi gue nggak cocokin ke lembar sumbernya.”
Aurel merasa telinganya berdengung.
Ia ingat betul apa yang ia lakukan tadi pagi.
Ia membaca cepat.
Angkanya terlihat wajar.
Angka miliaran memang selalu terlihat mirip kalau dibaca sambil merasa sudah jago.
Klik.
Sudah.
Aurel menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan.
“Mati gue.”
Maya buru-buru bicara.
“Mbak, tenang dulu.”
“Ini bisa dibetulin.”
“Saya kirim versi barunya sekarang.”
“Nggak usah bilang siapa-siapa.”
Aurel mengangkat wajah.
“Maksudnya?”
Maya menurunkan suaranya.
“Bagian keuangan cuma bilang nggak cocok.”
“Belum tanya siapa yang periksa.”
“Kalau kita kirim revisi sekarang, biasanya selesai.”
Untuk beberapa detik, Aurel benar-benar ingin mengangguk.
Ia bisa membayangkan semuanya beres tanpa ada yang tahu.
Ia bisa membayangkan wajah Aditya yang tidak perlu mendengar apa pun.
Dan lebih dari itu, ia bisa membayangkan kalimat yang paling ia takuti.
Makanya.
Model kok disuruh ngurus laporan.
Kalimat itu terdengar persis seperti suara Pak Hardi kemarin.
Aurel menutup matanya sebentar.
Lalu ia teringat sesuatu yang lain.
Catatan di bukunya, beberapa halaman ke belakang.
Berani mengakui kesalahan.
Ia sendiri yang menulis kalimat itu.
Dengan spidol.
Aurel membuka mata.
“Nggak, May.”
“Mbak?”
“Kirim revisinya tetap.”
“Tapi gue yang bilang ke Aditya.”
Maya menatapnya kaget.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
“Beliau lagi ada tamu, Mbak.”
Aurel sudah berdiri.
“Gue tunggu di depan pintunya.”
---
Tamu itu keluar pukul dua belas kurang lima.
Aurel masuk sebelum sempat berubah pikiran.
Aditya sedang menutup laptopnya.
“Kenapa?”
Aurel berdiri di depan meja.
Tangannya dingin.
“Gue bikin kesalahan.”
Aditya mengangkat wajahnya.
“Laporan Cikarang.”
“Baris tujuh.”
“Biaya sewa alat.”
“Angkanya tertukar.”
“Harusnya satu koma dua empat miliar, yang terkirim satu koma empat dua miliar.”
“Selisih seratus delapan puluh juta.”
“Sudah masuk ke keuangan jam sembilan lewat sepuluh tadi.”
Aurel berhenti sebentar untuk menarik napas.
“Gue lihat baris itu.”
“Tapi gue nggak cocokin ke lembar sumbernya.”
“Gue cuma baca, terus gue anggap benar.”
Ruangan hening.
Aurel menunggu.
Ia sudah menyiapkan diri untuk suara yang naik.
Untuk kalimat tentang orang yang tidak tahu bidangnya.
Aditya menaruh pulpennya.
Kemudian bertanya dengan nada biasa.
“Sudah dikirim koreksinya?”
Aurel mengerjap.
“Maya sedang kirim.”
“Bagian keuangan sudah tahu itu keliru?”
“Sudah.”
“Mereka baru mau memproses atau sudah?”
“Belum.”
“Katanya baru dicek.”
Aditya mengangguk.
“Kalau begitu belum ada yang rusak.”
Aurel masih berdiri kaku.
“Lo nggak marah?”
Aditya menatapnya.
“Untuk apa?”
“Gue salah.”
“Saya tahu.”
“Terus?”
Aditya menyandarkan punggungnya.
“Aurel.”
“Duduk dulu.”
Aurel duduk.
“Ada tiga hal yang saya tanyakan setiap kali orang saya bikin kesalahan.”
Aurel mengambil bukunya dengan tangan yang masih agak gemetar.
“Apa?”
“Satu, apa yang salah.”
“Dua, sejauh mana dampaknya sudah jalan.”
“Tiga, apa rencana perbaikannya dan kapan.”
Aditya mengetuk meja sekali.
“Tadi kamu menjawab ketiganya sebelum saya bertanya.”
Aurel menunduk.
“Berarti gue tetap salah.”
“Iya.”
“Kamu tetap salah.”
“Tapi salahnya berhenti di situ.”
Aurel mengangkat wajah.
“Maksudnya?”
Aditya menatapnya lurus.
“Kesalahan yang mahal itu bukan kesalahannya.”
“Tapi jaraknya.”
“Jarak?”
“Jarak antara kamu tahu ada yang salah dan orang lain tahu ada yang salah.”
“Semakin jauh jaraknya, semakin mahal.”
Aurel menulis pelan.
“Kalau tadi gue diam?”
Aditya menjawab tenang.
“Kalau tadi kamu diam, keuangan mungkin tetap menemukan.”
“Tapi mereka menemukannya sebagai selisih yang tidak jelas datangnya dari mana.”
“Terus?”
“Mereka akan menahan pembayaran.”
“Vendor terlambat dibayar.”
“Vendor menanyakan ke tim proyek.”
“Tim proyek mencari-cari di file yang salah.”
“Dan pekerjaan tiga orang berhenti dua hari untuk mencari satu angka yang sebenarnya sudah kamu tahu jam sebelas empat puluh.”
Aurel terdiam lama sekali.
“Astaga.”
“Seratus delapan puluh juta jadi dua hari kerja tiga orang.”
“Betul.”
“Dan itu belum termasuk hal yang paling mahal.”
“Apa?”
Aditya menatapnya.
“Kepercayaan.”
“Sekali orang tahu kamu menyembunyikan yang kecil, semua angka yang kamu periksa setelah itu akan dicek ulang orang lain.”
“Selamanya.”
Aurel menulis kalimat itu.
Tangannya sudah tidak gemetar.
---
Aditya berdiri, berjalan ke jendela.
“Saya juga pernah.”
Aurel langsung mengangkat kepala.
“Lo?”
“Tahun kedua saya kerja.”
“Belum jadi apa-apa.”
“Salah apa?”
“Salah membaca tanggal jatuh tempo di satu kontrak.”
“Perusahaan kena denda keterlambatan.”
Aurel membelalak.
“Berapa?”
“Cukup untuk membuat saya tidak bisa tidur tiga malam.”
Aurel menahan tawa kecil, walau situasinya tidak lucu.
“Terus lo ngapain?”
“Saya masuk ke ruangan atasan saya dua puluh menit setelah tahu.”
“Dia marah?”
“Tidak.”
“Dia cuma tanya satu hal.”
“Apa?”
Aditya menoleh.
“Sudah kamu beri tahu siapa lagi selain saya.”
Aurel mengerutkan kening.
“Kenapa itu yang ditanya?”
“Karena yang dia pikirkan bukan siapa yang bersalah.”
“Tapi berapa banyak orang yang masih bekerja dengan angka yang keliru saat itu.”
Aurel meletakkan pulpennya perlahan.
“Oh.”
“Jadi begitu tahu salah, yang pertama dipikirin bukan gue gimana.”
“Tapi siapa yang harus tahu supaya nggak ikut salah.”
Aditya mengangguk.
“Itu jawaban terbaik yang kamu berikan minggu ini.”
Aurel tersenyum tipis.
“Tapi gue tetap malu.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Malu itu tanda kamu peduli sama hasil kerja kamu.”
“Yang bahaya itu orang yang salah dan biasa saja.”
---
Setelah makan siang, Aditya menaruh selembar kertas di depan Aurel.
“Sekarang bagian yang lebih penting.”
“Apa?”
“Supaya tidak terulang.”
Aurel mengambil pulpennya.
“Kesalahan yang cuma disesali akan datang lagi.”
“Kesalahan yang diubah jadi cara kerja tidak.”
“Jadi gue harus bikin apa?”
“Daftar periksa.”
“Punya kamu sendiri.”
Aurel mulai menulis.
“Satu.”
Ia berpikir sebentar.
“Jangan pernah mencocokkan angka dari ingatan.”
“Selalu buka lembar sumbernya.”
Aditya mengangguk.
“Dua.”
“Angka besar dibaca per bagian.”
“Satu, koma, dua, empat.”
“Bukan sekali lihat.”
“Tiga.”
Aurel berhenti.
“Apa lagi ya.”
Aditya menambahkan.
“Beri tanda pada baris yang sudah kamu cocokkan.”
“Bukan di kepala.”
“Di dokumennya.”
Aurel menulis.
“Empat?”
“Empat, jangan memeriksa lebih dari dua puluh menit tanpa berhenti.”
“Kenapa?”
“Karena mata orang berhenti membaca setelah itu.”
“Yang jalan tinggal kebiasaannya.”
Aurel tertawa kecil.
“Berarti tadi gue nggak baca.”
“Kamu cuma melihat.”
“Nah.”
Aurel menulis nomor lima sendiri.
“Lima.”
“Kalau angkanya di atas satu miliar, minta satu orang lagi ikut lihat.”
Aditya melirik kertas itu.
“Itu poin paling penting.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang paling sering salah bukan yang paling bodoh di ruangan.”
“Tapi yang paling yakin dirinya tidak mungkin salah.”
Aurel berhenti menulis.
Ia teringat kalimatnya sendiri pagi tadi.
Kayaknya gue udah jago.
Wajahnya memanas.
“Dit.”
“Hm?”
“Tadi pagi gue sempat bilang gue udah jago.”
Aditya menahan senyum.
“Saya dengar dari Maya.”
“Ya ampun.”
Aurel menutup wajahnya dengan buku.
Aditya akhirnya tertawa.
Bukan tawa yang mengejek.
Tawa yang jarang sekali keluar dari pria itu, dan entah kenapa membuat Aurel diam-diam ikut tersenyum di balik bukunya.
---
Pukul empat sore, koreksi resmi laporan Cikarang dikirim ulang.
Kali ini Aurel memeriksanya dengan lima poin di kertas itu di sebelah keyboard-nya.
Ia mencocokkan tiap baris ke lembar sumbernya.
Ia menandai setiap baris yang sudah dicocokkan.
Ia berhenti dua kali.
Dan ia meminta Maya melihat dua angka terbesar.
Butuh satu jam lebih lama daripada tadi pagi.
Tapi ketika ia menekan tombol kirim, perasaannya sama sekali berbeda.
Bukan bangga karena cepat.
Tenang karena yakin.
Malamnya, Aurel menuliskan satu kalimat di halaman baru bukunya.
Orang yang tidak pernah salah bukan orang yang paling hebat. Biasanya cuma orang yang tidak pernah dipercaya mengerjakan sesuatu yang penting.
Ia menatap kalimat itu lama.
Dulu ia pikir kesalahan adalah sesuatu yang harus disembunyikan supaya orang tetap menganggapnya sempurna.
Hari ini ia belajar hal yang berbeda.
Kesalahan yang diakui cepat cuma jadi satu jam kerja tambahan.
Kesalahan yang disembunyikan bisa jadi dua hari kerja tiga orang, dan kepercayaan yang tidak pernah kembali utuh.
Aurel menutup bukunya.
Di ujung ruangan, pintu kamar Aditya masih tertutup.
Pria itu belum tidur.
Aurel tahu karena lampunya masih menyala di celah bawah pintu.
Ia berdiri sebentar di lorong.
Ada dorongan untuk mengetuk dan mengucapkan sesuatu.
Terima kasih, mungkin.
Atau sekadar selamat malam.
Tapi ia tidak jadi.
Ada pasal di kontrak mereka yang mengatur banyak hal.
Sayangnya tidak ada satu pun pasal yang menjelaskan harus bagaimana kalau seseorang mulai ingin mengetuk pintu tanpa alasan pekerjaan.
Aurel kembali ke kamarnya.
Besok pagi ada laporan lain yang menunggu.
Dan kali ini, ia tidak akan mulai dengan merasa jago.