Pagi itu Aurel sudah tiba di kantor bersama Aditya. Setelah beberapa hari mengikuti berbagai kegiatan, ia mulai terbiasa dengan suasana kantor yang awalnya terasa terlalu serius baginya.
Dulu setiap kali masuk gedung itu, Aurel hanya tahu satu hal: dirinya adalah istri kontrak sang CEO.
Sekarang berbeda.
Ia mulai tahu nama beberapa pegawai.
Mulai mengenal sekretaris Aditya.
Mulai memahami istilah bisnis.
Bahkan mulai berani membuka laporan sendiri tanpa menunggu Aditya menjelaskan.
Pagi itu Aurel sedang duduk di ruang kerja Aditya sambil membaca beberapa dokumen ketika Maya, sekretaris Aditya, masuk.
"Mbak Aurel."
"Hm?"
"Jam sepuluh nanti ada meeting dengan pihak Arvanta Group."
Aurel langsung menutup tabletnya.
"Yang kemarin itu?"
"Iya."
"Pak Aditya ikut?"
"Ikut."
Aurel mengangguk pelan.
“Berarti gue ikut lagi?”
“Iya.”
“Nama Mbak Aurel sudah dimasukkan ke daftar peserta.”
Aurel tersenyum kecil.
Dulu ia ikut meeting karena diajak.
Sekarang namanya ditulis di daftar.
Rasanya berbeda.
“Oke.”
“Gue siapin catatan dulu.”
Maya mengangguk.
Tapi tidak langsung keluar.
Aurel menyadari itu.
“Kenapa, May?”
Maya ragu sebentar.
“Anu...”
“Hari ini yang datang bukan Pak Yudha.”
“Terus siapa?”
“Pak Hardi.”
Aurel mengerutkan kening.
“Yang mana?”
“Yang kemarin duduk paling ujung.”
“Yang dari awal sampai selesai nggak ngomong sama sekali?”
“Iya.”
Aurel mengingat wajah itu.
Pria berkacamata.
Umurnya mungkin empat puluhan.
Sepanjang meeting kemarin ia hanya memandangi layar dan sesekali menulis sesuatu.
“Kenapa dia?”
Maya menurunkan suaranya sedikit.
“Kata teman saya di kantor sebelah, meeting sama Pak Hardi biasanya... panas.”
“Panas gimana?”
“Suka memotong orang yang sedang bicara.”
“Suka bilang angka kita nggak masuk akal.”
“Dan...”
Maya berhenti.
“Dan?”
“Kadang beliau menyinggung hal yang nggak ada hubungannya sama pekerjaan.”
Aurel diam sebentar.
“Nggak ada hubungannya kayak apa?”
Maya menunduk.
“Kayak... siapa yang duduk di ruangan.”
Aurel langsung mengerti.
Ia menyandarkan punggungnya.
“Oh.”
“Gue.”
Maya buru-buru menggeleng.
“Saya nggak bilang begitu, Mbak.”
“Nggak apa-apa.”
Aurel tersenyum, walau senyumnya tipis sekali.
“Makasih udah kasih tahu.”
Maya keluar.
Ruangan kembali sepi.
Aurel menatap tabletnya.
Kemarin ia pulang dengan perasaan bangga.
Hari ini perutnya mendadak terasa dingin.
---
Aditya masuk sepuluh menit kemudian sambil membawa map biru.
Ia langsung melihat wajah Aurel.
“Kenapa?”
Aurel mengangkat bahu.
“Nggak apa-apa.”
Aditya meletakkan map itu di meja.
“Aurel.”
“Hm?”
“Kalau nggak apa-apa, wajah kamu nggak begitu.”
Aurel mendengus pelan.
“Ternyata lo juga bisa baca bahasa tubuh.”
“Itu pelajaran minggu lalu.”
“Iya, iya.”
Aurel akhirnya menyerah.
“Maya bilang hari ini yang datang Pak Hardi.”
“Betul.”
“Dan katanya orangnya susah.”
Aditya duduk.
“Betul juga.”
Aurel menatapnya.
“Lo tahu?”
“Tahu.”
“Terus kenapa gue tetap dimasukin ke daftar?”
Aditya menyilangkan tangan.
“Karena kalau kamu cuma ikut meeting yang enak, kamu nggak akan belajar apa-apa.”
Aurel terdiam.
“Meeting yang lancar itu cuma latihan duduk.”
“Meeting yang susah itu latihan berpikir.”
Aurel menghela napas panjang.
“Lo tuh kalau ngomong selalu ada benarnya, tapi tetap bikin kesel.”
Aditya tersenyum tipis.
“Kamu boleh nggak ikut.”
Aurel langsung menegakkan punggungnya.
“Siapa bilang gue nggak ikut.”
“Bagus.”
Aditya membuka mapnya.
“Kalau begitu, hari ini pelajarannya satu.”
“Apa?”
“Menghadapi orang sulit.”
Aurel mengambil buku catatannya.
“Ada aturannya?”
“Ada tiga.”
“Pertama.”
Aditya mengangkat satu jari.
“Jangan menjawab saat masih panas.”
“Kedua.”
“Pisahkan orangnya dari masalahnya.”
“Ketiga.”
“Jawab dengan data, jangan dengan perasaan.”
Aurel menulis cepat.
“Kalau dia nyerang gue duluan?”
Aditya menatapnya.
“Kalau itu terjadi, biar saya.”
Aurel mengangkat wajah.
Ada sesuatu di dadanya yang bergerak sedikit.
Ia buru-buru menunduk lagi ke bukunya.
“Ya udah.”
---
Pukul sepuluh lewat lima menit, Pak Hardi masuk ruang meeting.
Tanpa minta maaf.
Ia menarik kursi, membuka map, lalu bicara sebelum semua orang selesai duduk.
“Saya harap hari ini kita tidak membahas hal yang sama seperti kemarin.”
Aditya menjawab tenang.
“Tentu.”
Staf Aditya mulai menampilkan revisi data di layar.
Baru dua slide, Pak Hardi memotong.
“Sebentar.”
“Angka empat belas persen ini dari mana?”
Staf itu tergagap.
“Dari... proyeksi tahun lalu, Pak.”
“Tahun lalu?”
Pak Hardi melepas kacamatanya.
“Berarti kalian menawarkan proyek tahun ini dengan angka tahun lalu.”
Ruangan hening.
Aurel membuka halaman lampiran di tabletnya.
Angka itu ada di sana.
Dan itu bukan angka tahun lalu.
Ia menarik napas.
Lalu bicara.
“Maaf, Pak.”
“Angka empat belas persen itu ada di lampiran halaman tujuh.”
“Itu hasil hitung ulang tiga bulan terakhir, bukan proyeksi tahun lalu.”
Pak Hardi menoleh perlahan.
Menatap Aurel dari atas sampai bawah.
Kemudian tersenyum.
Bukan senyum yang enak dilihat.
“Mbak siapa, ya?”
“Aurel.”
“Ini rapat teknis, Mbak.”
“Saya kira Mbak lebih terbiasa berdiri di depan kamera.”
Beberapa orang di ruangan langsung menunduk.
Ada yang pura-pura membetulkan dokumen.
Wajah Aurel terasa panas sampai ke telinga.
Ada kalimat yang sudah sampai di ujung lidahnya.
Kalimat yang biasanya ia pakai kalau ada orang menyerangnya di depan kamera.
Kalimat yang tajam, cepat, dan pasti membuat ruangan ini gaduh.
Tapi ia teringat tiga aturan tadi pagi.
Jangan menjawab saat masih panas.
Aurel menutup mulutnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia menghitung dalam hati sampai napasnya turun.
Kemudian ia memutar layar tabletnya ke arah Pak Hardi.
“Halaman tujuh, Pak.”
“Baris ketiga dari bawah.”
Hanya itu.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada nada tinggi.
Pak Hardi menatap layar itu beberapa detik.
Rahangnya bergerak sekali.
“Hm.”
Ia memakai kacamatanya kembali.
“Lanjutkan.”
Meeting berjalan lagi.
Dua kali lagi Pak Hardi memotong.
Sekali menanyakan biaya perawatan yang menurutnya terlalu murah.
Sekali lagi menanyakan jadwal yang menurutnya mustahil.
Yang kedua, Aurel tidak tahu jawabannya.
Ia sempat ingin menebak.
Tapi tidak jadi.
“Untuk yang ini saya belum tahu, Pak.”
“Saya cek dulu, nanti kami kirimkan hari ini juga.”
Pak Hardi mengangkat alis.
Tapi tidak berkata apa-apa.
Menjelang akhir, ia kembali ke topik yang tadi.
“Saya cuma heran.”
“Perusahaan sebesar ini membawa orang yang bukan bidangnya ke meja teknis.”
Kali ini Aditya yang bicara.
Suaranya tidak naik sedikit pun.
“Pak Hardi.”
“Kalau ada data kami yang kurang, sebutkan bagiannya.”
“Kami perbaiki hari ini juga.”
Jeda sebentar.
“Tapi soal siapa yang duduk di ruangan ini, itu keputusan saya.”
“Dan saya tidak akan membahasnya di rapat teknis.”
Tidak ada yang keras.
Tidak ada yang kasar.
Tapi ruangan langsung terasa berubah.
Pak Hardi menutup mapnya.
“Baik.”
“Kirim revisi dua poin tadi sebelum jam lima.”
“Akan kami kirim.”
Meeting selesai.
---
Begitu pintu tertutup, Aurel mengembuskan napas panjang sekali.
“Astaga.”
Aditya membereskan dokumennya.
“Kenapa?”
“Gue hampir ngelempar tablet ke kepala orang itu.”
Aditya tertawa kecil.
“Tapi nggak jadi.”
“Nggak jadi.”
“Kenapa?”
Aurel berpikir sebentar.
“Karena kalau gue lempar, yang diingat orang bukan angka di halaman tujuh.”
Aditya berhenti membereskan dokumen.
Ia menatap Aurel agak lama.
“Itu jawaban yang bagus.”
Aurel langsung tersenyum bangga.
“Berarti gue lulus?”
“Belum.”
Senyum Aurel hilang.
“Yah.”
Aditya menarik kursi dan duduk menghadapnya.
“Sekarang kita bahas.”
“Orang sulit itu ada beberapa jenis.”
Aurel membuka bukunya.
“Sebutin.”
“Yang suka memotong.”
“Yang tidak pernah puas apa pun yang kamu berikan.”
“Yang diam di ruangan, tapi membatalkan semuanya di belakang.”
“Dan yang menyerang orangnya, bukan pekerjaannya.”
Aurel menulis satu per satu.
“Pak Hardi yang mana?”
“Dua terakhir sekaligus.”
Aurel mendengus.
“Paket lengkap.”
Aditya menahan senyum.
“Sekarang bagian pentingnya.”
“Apa?”
“Yang paling sering bikin kita kalah menghadapi orang seperti itu bukan kata-katanya.”
“Terus?”
“Reaksi kita.”
Aurel berhenti menulis.
“Kenapa?”
“Karena begitu kita marah, pembicaraannya pindah.”
“Pindah ke mana?”
“Dari masalah ke perasaan.”
Aditya mengetuk meja pelan.
“Dan begitu pindah ke perasaan, kita kehilangan kendali.”
“Orang seperti Pak Hardi menang bukan karena datanya lebih kuat.”
“Dia menang karena lawan bicaranya emosi duluan.”
Aurel menatap catatannya.
“Berarti tadi dia lagi mancing.”
“Kurang lebih.”
“Terus gue harus gimana kalau ketemu orang begitu lagi?”
Aditya mengangkat jarinya lagi.
“Satu, kasih jeda.”
“Tiga detik cukup.”
“Dua, ambil isi pertanyaannya, buang nadanya.”
Aurel mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Tadi dia bilang angka kalian angka tahun lalu.”
“Nadanya menghina.”
“Tapi isinya pertanyaan tentang sumber angka.”
“Kamu jawab isinya.”
“Nadanya nggak usah dijawab.”
Aurel mengangguk perlahan.
“Oh.”
“Jadi bukan dilawan.”
“Bukan juga didiamkan.”
“Dipilah.”
“Betul.”
Aurel menulis kata itu besar-besar.
Dipilah.
“Tiga?”
“Tiga, kalau dia terus menyerang pribadi, baru pasang batas.”
“Kayak yang lo lakuin tadi?”
“Iya.”
“Tapi kenapa lo nggak marah?”
Aditya diam sebentar.
“Karena marah itu mahal.”
Aurel mengangkat wajah.
“Mahal?”
“Sekali saya marah di ruangan itu, besok yang diceritakan orang bukan revisi dua poin.”
“Tapi CEO yang naik darah.”
“Dan proyeknya jadi urusan nomor dua.”
Aurel terdiam cukup lama.
Kemudian menulis.
Menghadapi orang sulit bukan tentang siapa yang paling berani membalas, tapi siapa yang paling bisa menjaga pembicaraan tetap pada masalahnya.
Ia membaca ulang kalimatnya.
“Ini gue simpan.”
Aditya melirik.
“Simpan yang benar.”
“Kenapa?”
“Karena orang seperti Pak Hardi bukan yang terakhir.”
---
Sore harinya revisi dua poin itu dikirim pukul empat lewat dua puluh.
Aurel ikut mengecek lampirannya sebelum dikirim.
Ia bahkan menemukan satu nomor halaman yang salah tulis.
Kecil.
Tapi tetap salah.
Dan ia senang bisa menemukannya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, Aurel menatap ke luar jendela.
“Dit.”
“Hm?”
“Tadi... makasih.”
Aditya tidak menoleh.
“Untuk?”
“Yang lo bilang di ruangan.”
“Soal siapa yang duduk di situ itu keputusan lo.”
Aditya menjawab datar.
“Saya cuma menyebut fakta.”
Aurel mengangguk pelan.
“Iya.”
“Fakta.”
Ia memalingkan wajah ke jendela supaya Aditya tidak melihat sudut bibirnya yang naik sendiri.
Dulu ia pikir kalimat semacam itu cuma ada di kontrak.
Pasal-pasal.
Kewajiban.
Batas yang tidak boleh dilewati.
Sekarang ada kalimat yang tidak tertulis di pasal mana pun, tapi terasa jauh lebih nyata daripada semua pasal itu.
Aurel menutup bukunya.
“Dit.”
“Hm?”
“Besok gue mau kerjaan beneran.”
Aditya menoleh.
“Kerjaan beneran?”
“Iya.”
“Bukan cuma duduk dan mengamati.”
“Kasih gue sesuatu yang kalau salah, ada akibatnya.”
Aditya menatapnya beberapa detik.
“Serius?”
“Serius.”
Aditya kembali menatap jalan.
“Ada laporan proyek yang harus dicek angkanya sebelum masuk ke bagian keuangan.”
Aurel langsung duduk tegak.
“Gue mau.”
“Nggak susah.”
“Tapi harus teliti.”
“Bisa.”
Aditya tidak menjawab lagi.
Hanya tersenyum sangat tipis, dan Aurel tidak sempat melihatnya.
Malam itu, sebelum tidur, Aurel membuka bukunya sekali lagi.
Ia membaca catatan hari ini dari atas sampai bawah.
Jangan menjawab saat masih panas.
Pisahkan orangnya dari masalahnya.
Ambil isinya, buang nadanya.
Pasang batas kalau perlu.
Dan jangan pernah membiarkan orang lain memindahkan pembicaraan ke perasaanmu.
Dulu, kalau ada yang meremehkannya, Aurel akan langsung membalas dua kali lebih keras.
Ia pikir itu namanya kuat.
Hari ini ia tahu, yang seperti itu bukan kuat.
Itu cuma cepat tersinggung.
Aurel mematikan lampu meja.
Besok ia akan memegang laporan sungguhan.
Dan untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak itu, ia merasa gugup bukan karena takut dinilai orang.
Tapi karena ingin melakukannya dengan benar.