Pagi itu Aurel sudah berdiri rapi di depan pintu kantor tepat pukul delapan lewat sepuluh menit. Ia mengenakan blus putih sederhana berkerah, celana bahan berwarna krem yang menjatuh rapi hingga sebatas lutut, dan sepatu tertutup berwarna cokelat muda. Rambutnya dikuncir setengah ke atas, menyisakan helaian lembut yang membingkai wajahnya. Tidak ada jadwal pemotretan hari ini, tidak ada pakaian bermerek berlebihan, tidak ada riasan tebal. Aditya hanya memintanya datang ke kantor seperti biasa.
Yang beda, pagi ini Aurel membawa satu buku catatan bersampul tebal berwarna biru tua. Di halaman depan, ia menuliskan sendiri dengan pulpen berwarna emas huruf-huruf yang cukup besar dan tegak: BELAJAR JADI PEREMPUAN BERGUNA.
Aditya yang berjalan beriringan di sampingnya melirik sekilas ke arah buku itu, lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Itu apaan?"
Aurel buru-buru menutup bukunya rapat-rapat dan mendekapnya ke d**a.
"Nggak boleh lihat."
Aditya tertawa kecil, suaranya rendah dan terdengar geli.
"Kenapa jadi rahasia?"
"Isinya rahasia perkembangan hidup gue."
"Lebay banget."
"Yang penting niatnya tulus."
Mereka pun melangkah masuk ke gedung kantor.
Setelah urusan pagi selesai, Aditya mengajak Aurel makan siang di sebuah pusat perbelanjaan tidak jauh dari kantor. Langit siang itu cerah, angin berhembus hangat, dan keduanya berjalan santai di lorong-lorong toko sambil berbincang pelan. Saat melewati sebuah butik barang-barang kulit impor, mata Aurel tiba-tiba terpaku pada satu barang yang dipajang di etalase.
Ia berhenti melangkah.
"Dit..."
Aditya ikut berhenti dan menoleh. "Hm?"
"Itu..." Aurel menunjuk dengan ujung jari tas yang terpajang di balik kaca. "Bagus banget ya?"
Sebuah tas berwarna cokelat tua berbahan kulit asli, modelnya sederhana tanpa banyak hiasan, namun bentuknya tegas dan terlihat sangat elegan. Aditya melirik sekilas label harga yang tergantung di dekatnya. Angkanya lumayan besar, tapi bagi Aditya itu bukan angka yang berarti.
"Beli," ucap Aditya santai.
Aurel menoleh cepat ke arahnya. "Serius?"
"Iya. Kalau suka ambil saja."
Aurel melangkah maju, tangannya bahkan sudah hampir menyentuh gagang pintu kaca toko itu. Namun tiba-tiba ia berhenti. Jari-jarinya menahan diri, lalu menarik kembali tangannya perlahan. Ia berdiri diam sejenak menatap tas itu, lalu menggeleng pelan.
"Nggak jadi."
Aditya mengerutkan dahi. "Kenapa berubah pikiran?"
Aurel masih menatap tas itu lekat-lekat. "Gue emang pengen banget."
"Terus?"
"Tapi..." Aurel menoleh menatap Aditya dengan mata yang berbinar serius. "Belum tentu gue butuh."
Aditya terdiam sejenak menatap wajah Aurel. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Siapa yang ngajarin kamu bedain itu?"
Aurel menunjuk dadanya sendiri dengan jempol. "Gue sendiri belajar."
Aditya tertawa pelan. "Pantesan beda."
Aurel tersenyum bangga, lalu melipat kedua tangan di depan d**a.
"Gue sadar, kalau gue beli semua yang cuma sekadar gue suka, berapapun uang gue pasti bakal habis juga."
"Kan uang kamu cukup banyak," ucap Aditya santai.
"Justru karena itu gue harus tahu cara ngelolanya," jawab Aurel mantap. "Bukan berarti punya banyak uang berarti bisa dihabiskan begitu saja."
Aditya berhenti berjalan sejenak. Ia menatap Aurel lekat-lekat, seakan baru pertama kali melihat sisi lain dari perempuan itu.
"Nah," ucapnya singkat. "Pertahankan pemikiran itu."
Aurel tersenyum puas. Lalu keduanya kembali berjalan menyusuri lorong toko.
"Kalau begitu," tanya Aurel tiba-tiba, "orang yang punya penghasilan besar itu seharusnya gimana ngatur uangnya?"
Aditya menjawab dengan tenang, langkah kakinya tetap berirama.
"Pertama, kenali dulu mana kebutuhan pokok dan mana yang cuma keinginan."
"Terus?"
"Buat rencana pengeluaran. Atur anggaran. Jangan sampai pengeluaran melebihi pemasukan."
"Terus?"
"Sisihkan sebagian untuk dana darurat. Itu penting. Bisa kapan saja ada hal mendesak yang butuh biaya."
Aurel mengangguk pelan sambil menyimak. "Terus?"
"Menabung dan alokasikan sebagian uang untuk tujuan jangka panjang."
Aurel menatapnya. "Berarti investasi?"
Aditya mengangguk pelan. "Secara umum ya. Tapi ingat, investasi itu harus dipahami dulu aturannya. Jangan ikut-ikutan cuma karena orang lain bilang untung besar."
Aurel langsung menyambung cepat. "Berarti kalau ada orang datang bilang 'dijamin untung berlipat ganda dalam waktu singkat', gue jangan langsung percaya?"
Aditya menatapnya tajam namun tenang. "Betul. Selalu tanya: apa risikonya? Kalau ternyata rugi, apa dampaknya? Dan jangan pernah pakai uang yang sebenarnya dibutuhkan dalam waktu dekat untuk sesuatu yang berisiko."
Aurel mengangguk mantap. Matanya berbinar seakan mendapat pelajaran berharga.
"Itu penting banget ya..."
"Makanya gue bilang," ucap Aditya pelan.
Tak lama kemudian Aurel menunjuk sebuah toko sepatu di seberang jalan. "Nah, itu gue butuh."
Aditya melirik sekilas. "Sepatu?"
"Iya." Aurel mengangguk yakin. "Sepatu gue yang dipakai tiap hari solnya udah mulai tipis dan licin. Harus ganti."
Aditya tersenyum tipis. "Nah, itu namanya kebutuhan. Silakan pilih."
Aurel tertawa kecil. "Berarti gue mulai pintar ya?"
Aditya menggeleng pelan sambil tersenyum. "Belum tentu."
"Kenapa?"
"Karena lima menit lagi kamu bisa berubah pikiran lagi."
Aurel mendengus kesal namun tersenyum. "Nyebelin banget sih lo."
Siang harinya mereka kembali ke kantor untuk mengikuti pertemuan dengan seorang klien baru. Ruangan rapat itu berukuran sedang, berpenampilan formal, dan di dalamnya duduk beberapa orang dari pihak perusahaan mitra. Aurel duduk di samping Aditya, membawa buku catatan barunya dan pulpen. Ia mendengarkan, mencatat, dan tidak banyak bersuara.
Hingga pembicaraan beralih ke pembagian tugas dan tanggung jawab proyek.
Salah satu pria dari pihak klien, yang sejak tadi memperhatikan Aurel dengan tatapan menilai, tiba-tiba menyela.
"Maaf, boleh saya tanya?"
Semua mata beralih ke arah pria itu.
"Bu Aurel ini ikut serta dalam proyek ini sebagai apa?"
Aurel tersenyum sopan, lalu menjawab dengan tenang.
"Saya mendampingi Pak Aditya sekaligus mempelajari proses kerja dan seluruh alur proyek ini."
Pria itu mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis yang terasa kurang ramah.
"Kalau saya tidak salah... Anda kan seorang model, ya?"
"Betul," jawab Aurel tenang.
"Berarti sebelumnya belum ada pengalaman di dunia bisnis dan proyek seperti ini?"
Ruangan menjadi hening sejenak. Pria itu seakan sengaja menonjolkan latar belakang Aurel untuk meremehkannya. Aditya duduk tegak di kursinya, tidak langsung menyela, hanya menatap Aurel dengan pandangan yang memberi ruang.
Aurel menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dulu mungkin ia akan tersinggung, membalas tajam, atau pergi meninggalkan ruangan. Tapi hari ini ia memilih menatap pria itu dengan tenang dan senyum yang tetap sopan.
"Betul sekali, Pak. Sebelumnya saya memang seorang model."
Pria itu tersenyum seakan menang.
"Kalau begitu mungkin agak sulit bagi Anda mengikuti pembahasan yang cukup teknis ini."
Aurel tetap tenang. Ia tidak membiarkan emosinya naik.
"Memang saya masih dalam tahap belajar, Pak."
Aurel menatap lurus ke mata pria itu, suaranya terdengar lembut namun tegas dan jelas.
"Tapi hari ini saya datang ke sini untuk belajar, bukan untuk pamer pengalaman. Dan saya sangat berharap Bapak menilai saya dari apa yang saya kerjakan di ruangan ini, dari sikap saya, dari ketekunan saya, dan dari hasil kerja saya nantinya — bukan hanya dari pekerjaan saya sebelumnya."
Suara Aurel jatuh dengan tenang namun tegas ke seluruh ruangan. Tidak ada nada marah, tidak ada nada membela diri berlebihan. Hanya ketegasan dan harga diri yang terjaga.
Ruangan hening sejenak. Pria itu terdiam, lalu perlahan mengangguk.
"Tentu saja. Mohon maaf jika perkataan saya kurang berkenan."
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Aurel tersenyum kembali.
Pertemuan pun berlanjut. Aurel tidak berusaha membuktikan dirinya dengan berbicara berlebihan. Ia kembali mendengarkan, mencatat dengan teliti, dan membiarkan sikap tenangnya yang berbicara.
Setelah pertemuan selesai dan mereka berjalan menyusuri lorong kantor, Aurel baru mengembuskan napas panjang.
"Dit..."
"Hm?"
"Tadi gue sebenernya emosi banget."
Aditya meliriknya sambil tetap berjalan. "Kelihatan sedikit."
"Tapi gue nahan," ucap Aurel pelan. "Dulu mungkin gue udah jawab panjang lebar dan bikin suasana panas."
Aditya mengangguk pelan.
"Tapi kamu nggak melakukannya."
"Karena gue mulai ngerti," Aurel menatap lurus ke depan. "Nggak semua orang yang meremehkan kita harus dilawan pakai emosi. Kadang cukup dibuktikan lewat sikap dan kerja nyata."
Aditya menoleh menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis.
"Bagus. Itu baru pelajaran yang berharga."
Sore harinya, saat kembali ke ruangan kerja, Aurel membantu memeriksa dan memasukkan data ke dalam laporan. Ia sudah mulai terbiasa dengan angka dan tabel. Namun tiba-tiba tangannya berhenti bergerak. Matanya menatap layar komputer dengan wajah yang berubah pucat.
"Astaga..."
Aurel buru-buru mengecek ulang. Lalu mengecek lagi. Dan hatinya seakan mencelos ke bawah.
Tanpa berpikir lama, ia berjalan cepat menuju ruangan Aditya. Ia mengetuk pintu dengan napas yang sedikit terengah.
"Masuk."
Aurel membuka pintu dan masuk. Wajahnya tampak cemas.
"Dit..."
Aditya mendongak dari tumpukan berkas di mejanya. "Ada apa?"
Aurel meletakkan laptopnya di atas meja kerja Aditya dengan hati-hati.
"Gue salah."
"Salah apa?"
"Angkanya salah masuk. Tadi gue kurang teliti saat memasukkan data." Suara Aurel terdengar cemas. "Maaf ya... gue perbaiki sekarang juga."
Aditya menarik laptop itu mendekat, memeriksa sebentar, lalu menatap Aurel yang tampak takut menunggu dimarahi.
"Perbaiki saja," ucap Aditya tenang.
Aurel mengerjap. "Hanya itu?"
"Iya."
"Gue kira..." Aurel menunduk pelan. "Gue kira lo bakal marah."
Aditya menatapnya lekat-lekat.
"Kenapa harus marah?"
"Karena gue bikin kesalahan."
Aditya menyandarkan punggungnya ke kursi, suaranya terdengar tenang dan tegas.
"Aurel, kesalahan itu bisa diperbaiki. Yang jauh lebih buruk adalah kalau kamu tahu salah tapi kamu sembunyikan, berharap tidak ada yang tahu."
Aurel terdiam. Kata-kata itu menembus lurus ke dalam hatinya.
"Jadi," lanjut Aditya pelan namun jelas, "kesalahan yang diakui dan diperbaiki jauh lebih baik daripada kesalahan yang disembunyikan."
Aurel mengangguk pelan. Ia segera mengambil buku catatannya, lalu menuliskan kalimat itu dengan rapi.
Kesalahan yang diakui dan diperbaiki lebih baik daripada kesalahan yang disembunyikan.
Setelah selesai menulis, Aurel menatap Aditya.
"Kalau gue salah lagi nanti?"
"Perbaiki lagi."
"Kalau salahnya besar?"
"Evaluasi, cari penyebabnya, lalu perbaiki."
"Kalau salahnya berulang?"
"Berarti caranya yang harus diubah, bukan terus menyalahkan orangnya."
Aurel tersenyum lega. Dadanya terasa jauh lebih ringan.
"Semakin lama gue belajar sama lo," ucapnya pelan, "semakin banyak hal yang gue dapatkan. Bukan cuma soal kerjaan."
Aditya tersenyum tipis. "Itu tujuannya."
"Tapi..." Aurel tertawa kecil. "Cara ngajar lo emang pelit banget ngasih pujian."
"Karena gue nggak mau kamu cepat puas," jawab Aditya tenang. "Masih banyak yang harus dipelajari."
Menjelang senja, Aurel kembali mengikuti pertemuan kecil yang melibatkan beberapa manajer proyek. Di dalam ruangan itu, beberapa orang saling menyela, berbicara panjang lebar, seakan siapa yang paling lama berbicara dialah yang paling pintar. Aurel memperhatikan mereka. Dulu ia mungkin akan ikut berbicara banyak agar terlihat aktif. Tapi hari ini ia memilih diam. Ia mendengarkan. Ia mencatat. Ia menyaring setiap informasi.
Hingga suasana hening sejenak. Aditya menatap sekeliling ruangan.
"Ada tambahan atau pertanyaan lain?"
Aurel masih diam. Ia membolak-balik catatannya. Lalu mengangkat wajah perlahan.
"Saya boleh bertanya?"
"Silakan, Aurel."
"Kalau kita mengambil langkah sesuai rencana yang kedua..." Aurel menatap satu per satu wajah di ruangan itu dengan tenang. "Apakah biaya pemeliharaan jangka panjang setelah proyek selesai sudah diperhitungkan?"
Ruangan seketika hening. Salah satu manajer segera membuka berkas tebal di hadapannya, membolak-balik dengan cepat, lalu mendongak dengan wajah sedikit terkejut.
"Ternyata... belum ada rincian biayanya."
Aditya menatap Aurel sekilas. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Itu pertanyaan yang sangat penting," ucap Aditya. "Segera lengkapi datanya."
Pertemuan pun berlanjut dengan pembahasan yang lebih terarah.
Setelah pertemuan selesai, Aurel berjalan berdampingan dengan Aditya menuju pintu keluar. Ia tersenyum bangga.
"Tadi gue nggak banyak ngomong kan?"
Aditya mengangguk pelan. "Tapi kamu bicara saat memang ada hal penting yang perlu dikatakan."
"Berarti benar apa yang gue pikir?"
Aditya menatapnya.
"Orang yang paling banyak bicara belum tentu yang paling pintar. Yang pintar itu tahu kapan harus mendengarkan, kapan berpikir, dan kapan baru berbicara."
Aurel tersenyum lebar.
"Berarti gue mulai jadi orang yang lebih pintar ya?"
Aditya tertawa kecil. "Masih jauh."
Aurel tertawa renyah. Tak apa. Setidaknya ia sudah mulai melangkah.
Di dalam perjalanan pulang, Aurel menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang pada semua hal yang baru saja ia pelajari hari ini. Mengelola uang, membedakan kebutuhan dan keinginan, menghadapi orang yang meremehkan tanpa kehilangan kendali diri, berani mengakui kesalahan, serta belajar kapan harus bicara dan kapan harus mendengarkan.
Dulu ia selalu berpikir bahwa menjadi seorang model cantik dan terkenal adalah segalanya. Sekarang ia sadar... kemampuan, wawasan, dan kedewasaan berpikir jauh lebih berharga dan jauh lebih abadi.
Aurel tersenyum melihat bayangannya di kaca jendela.
Teruslah belajar, Aurel. Dunia ini jauh lebih luas daripada sekadar tampilan di depan kamera.