Mengenal Bahasa Tubuh dan Waktu yang Tidak Boleh Terbuang
Pagi itu, Aurel sudah duduk di ruang meeting sejak sepuluh menit yang lalu.
Di depannya ada tablet, buku catatan, dan secangkir kopi yang baru disentuh dua kali.
Hari ini Aditya mengajaknya menghadiri pertemuan dengan salah satu klien lama perusahaan. Katanya, pertemuan itu penting karena mereka sedang membicarakan kelanjutan sebuah proyek besar.
Aurel sebenarnya sudah terbiasa mengikuti meeting.
Tetapi kali ini Aditya memberikan tugas khusus.
"Amati."
Begitu saja katanya.
Bukan mencatat angka.
Bukan membuat laporan.
Bukan mempresentasikan sesuatu.
Hanya mengamati.
Aurel sampai bingung.
"Ngapain gue harus mengamati?"
Aditya menjawab santai,
"Karena kadang orang bilang satu hal, tapi ekspresi dan gerak tubuhnya menunjukkan hal yang berbeda."
Aurel langsung tertarik.
"Maksudnya baca bahasa tubuh?"
"Kurang lebih."
"Berarti gue harus jadi detektif?"
Aditya menahan senyum.
"Bukan."
"Jangan sok tahu."
"Lo yang bilang."
Aurel mendengus.
"Ya udah."
"Terus gue harus lihat apa?"
"Perhatikan."
"Jangan langsung menyimpulkan."
Aurel mengangguk.
"Siap."
---
Pertemuan dimulai pukul sembilan.
Aditya duduk di ujung meja.
Aurel berada di sampingnya.
Di seberang meja ada tiga orang dari pihak klien.
Salah satunya bernama Pak Dimas, pria sekitar lima puluh tahun yang menjadi pengambil keputusan utama.
Pembicaraan awal berjalan lancar.
Mereka membahas perkembangan proyek, target, biaya, dan rencana tahap berikutnya.
Pak Dimas beberapa kali mengangguk.
"Ya, saya setuju dengan konsep itu."
Aditya membalas,
"Baik."
Kemudian salah satu staf Aditya menampilkan proyeksi biaya di layar.
Begitu angka total muncul...
Aurel memperhatikan perubahan kecil pada Pak Dimas.
Tadinya pria itu bersandar santai.
Sekarang tubuhnya sedikit maju.
Tangannya yang sejak tadi terbuka mulai menggenggam pulpen.
Jari telunjuknya mengetuk meja sekali.
Kemudian berhenti.
Aditya tetap melanjutkan pembicaraan.
"Untuk tahap berikutnya, kami memperkirakan anggaran berada di kisaran—"
Pak Dimas tersenyum.
"Ya."
"Saya rasa tidak masalah."
Namun saat angka tersebut kembali disebut...
Pak Dimas mengalihkan pandangan ke dokumen di depannya.
Bukan ke layar.
Bukan ke Aditya.
Ia juga tidak lagi mengangguk.
Aurel diam-diam mencatat sesuatu.
Angka proyek → tangan menggenggam pulpen → kontak mata berkurang.
Meeting berlanjut.
Salah satu staf bertanya,
"Kalau begitu, kita bisa lanjutkan ke tahap finalisasi?"
Pak Dimas tersenyum.
"Bisa."
Aurel kembali memperhatikannya.
Jawabannya iya.
Tapi wajahnya tidak sepenuhnya menunjukkan antusiasme.
Setelah beberapa pembahasan, meeting akhirnya selesai.
Semua orang berdiri.
Mereka berjabat tangan.
Pak Dimas tersenyum.
"Kita lanjutkan komunikasi lewat tim saya."
Aditya mengangguk.
"Tentu."
Begitu pihak klien keluar dari ruangan...
Aurel langsung menatap Aditya.
"Dit."
"Hm?"
"Pak tadi sebenarnya nggak setuju, kan?"
Aditya yang sedang membereskan dokumen berhenti.
Ia menoleh.
"Kenapa?"
Aurel langsung duduk kembali.
"Tadi waktu angka proyek disebut, tangannya terus menggenggam pulpen."
"Terus?"
"Setiap kali angka itu disebut, dia menghindari kontak mata."
Aditya diam beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
"Bagus."
Aurel langsung tersenyum bangga.
"Berarti benar?"
"Belum tentu."
Senyum Aurel langsung hilang.
"Hah?"
Aditya duduk di depannya.
"Lo mulai memperhatikan."
"Tapi jangan langsung bilang dia tidak setuju hanya karena dia menggenggam pulpen."
Aurel mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena bahasa tubuh bukan alat untuk membaca pikiran."
Aurel mengangguk perlahan.
"Terus?"
"Bahasa tubuh cuma memberi kita petunjuk."
"Petunjuk?"
"Iya."
"Misalnya seseorang terus melihat jam ketika lo bicara."
"Bisa jadi dia bosan."
"Bisa juga karena dia memang sedang menunggu waktu tertentu."
"Atau mungkin ada janji setelah meeting."
Aurel mengangguk.
"Jadi satu gerakan nggak bisa dijadikan kesimpulan."
"Betul."
"Harus lihat konteks."
"Dan kebiasaan orang tersebut."
Aurel mulai mencatat.
"Berarti tadi?"
Aditya mengambil berkas.
"Tadi lo punya dugaan yang masuk akal."
"Tapi kita harus memastikan lewat komunikasi."
"Caranya?"
"Tanya."
"Misalnya?"
Aditya berpikir sebentar.
"Kita bisa menghubungi Pak Dimas setelah meeting."
"Terus?"
"Tanyakan apakah ada bagian proposal yang ingin didiskusikan kembali."
Aurel mengangguk.
"Jadi jangan bilang, 'Bapak tadi sebenarnya nggak setuju, ya?'"
Aditya tertawa.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena itu membuat orang defensif."
Aurel tertawa.
"Iya juga."
Aditya melanjutkan.
"Kalau kita ingin tahu keberatan seseorang, beri ruang supaya dia bisa mengatakannya."
"Jangan memaksa dia mengaku."
Aurel menatap catatannya.
"Ini ternyata lebih susah dari yang gue kira."
"Makanya latihan."
Aurel tersenyum.
"Berarti pengalaman gue sebagai model ada gunanya."
"Kenapa?"
"Karena gue terbiasa memperhatikan ekspresi orang."
"Gerakan."
"Pose."
"Kontak mata."
Aditya mengangguk.
"Betul."
"Dan kemampuan itu bisa berguna dalam komunikasi."
Aurel langsung tersenyum.
"Berarti gue nggak cuma modal cantik."
Aditya menatapnya datar.
"Siapa bilang cuma modal cantik?"
Aurel terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
"Nah."
---
Setelah makan siang, Aurel kembali ke ruang kerja.
Ia melihat jadwal Aditya untuk hari berikutnya.
Kemudian matanya membesar.
"Dit."
"Hm?"
"Jadwal lo besok gila."
Aditya masih mengetik.
"Kenapa?"
Aurel menunjukkan tabletnya.
"Jam tujuh sarapan."
"Jam delapan meeting."
"Jam sepuluh ke proyek."
"Jam dua belas makan."
"Jam satu presentasi."
"Jam tiga survei."
"Jam tujuh dinner."
"Terus jam sembilan ada video call."
Aditya mengangguk.
"Iya."
Aurel menatapnya.
"Lo nggak capek?"
"Capek."
"Terus kenapa dijalani?"
"Karena harus."
Aurel menghela napas.
Ia kemudian membuka aplikasi catatan.
"Kalau gue yang bikin jadwal..."
Aditya melirik.
"Silakan."
Aurel mulai mengetik.
07.00 — Sarapan
08.00 — Meeting
10.00 — Proyek
12.00 — Makan
13.00 — Presentasi
15.00 — Survei
19.00 — Dinner
Aurel tersenyum.
"Udah."
Aditya melihat.
"Belum."
"Lah?"
"Jam sepuluh selesai meeting?"
"Kan."
"Jam sepuluh langsung sampai proyek?"
"Iya."
"Perjalanan?"
Aurel diam.
Aditya menunjuk jadwal.
"Jam dua belas makan."
"Perjalanan dari proyek ke restoran?"
Aurel mulai berpikir.
"Oh..."
"Belum ada."
"Terus?"
"Kalau meeting molor tiga puluh menit?"
Aurel menghapus beberapa bagian.
"Berarti berantakan."
"Betul."
Aditya mengambil tablet Aurel.
"Jadwal bukan cuma memasukkan kegiatan."
"Harus ada waktu perjalanan."
"Waktu persiapan."
"Waktu istirahat."
"Dan buffer."
"Buffer?"
"Waktu cadangan kalau sesuatu tidak berjalan sesuai rencana."
Aurel mengangguk.
"Jadi jangan bikin jadwal terlalu padat."
"Betul."
"Prioritas juga harus jelas."
Aurel menatap layar.
"Misalnya ada meeting penting."
"Tapi ada kegiatan yang sebenarnya bisa dipindahkan."
"Yang dipindahkan yang mana?"
"Yang prioritasnya lebih rendah."
Aurel mengangguk.
"Jadi semuanya nggak bisa dianggap penting."
"Kalau semuanya dianggap paling penting..."
Aditya berhenti sebentar.
"Pada akhirnya tidak ada yang benar-benar diprioritaskan."
Aurel langsung menulis kalimat itu.
"Bagus."
Aditya menatapnya.
"Apanya?"
"Quote."
Aurel membacanya lagi.
"Kalau semuanya dianggap paling penting, pada akhirnya tidak ada yang benar-benar diprioritaskan."
"Ini gue simpan."
Aditya tersenyum kecil.
Aurel kemudian memperbaiki jadwal.
"Jadi..."
"Jam delapan meeting."
"Jam sembilan empat puluh lima selesai."
"Jam sepuluh sampai sepuluh tiga puluh perjalanan."
"Jam sepuluh tiga puluh sampai sebelas tiga puluh proyek."
"Terus ada waktu cadangan."
Aditya mengangguk.
"Nah."
Aurel bersandar.
"Berarti jadwal yang terlalu penuh malah bikin semua kegiatan berantakan."
"Betul."
"Produktif bukan berarti sibuk sepanjang hari."
Aditya menatapnya.
"Kamu mulai ngerti."
Aurel tersenyum.
"Jadi kalau suatu hari gue punya bisnis..."
"Jangan bikin jadwal yang isinya cuma meeting."
"Betul."
"Harus ada waktu mikir."
"Harus ada waktu istirahat."
"Dan waktu untuk mengevaluasi."
"Betul."
Aurel mengangguk puas.
"Ini ilmu yang gue suka."
"Kenapa?"
"Karena bisa dipakai sehari-hari."
Aditya mengangkat alis.
"Contohnya?"
Aurel mulai menghitung dengan jarinya.
"Kalau mau kuliah."
"Kerja."
"Olahraga."
"Belajar."
"Ketemu teman."
"Semua nggak bisa dimasukin dalam satu hari tanpa perhitungan."
"Harus tahu mana yang prioritas."
Aditya tersenyum.
"Benar."
Aurel menutup tabletnya.
"Dit."
"Hm?"
"Kayaknya gue mulai ngerti kenapa lo bisa kerja terus."
"Karena jadwal?"
"Bukan."
"Karena lo tahu mana yang harus dikerjakan dulu."
Aditya diam sebentar.
"Dan mana yang bisa menunggu."
Aurel mengangguk.
"Berarti sibuk belum tentu produktif."
"Betul."
Aurel tersenyum puas.
"Wow."
"Aku belajar banyak hari ini."
Aditya berdiri.
"Besok belajar lagi."
Aurel langsung menatapnya.
"Apalagi?"
"Belajar mengambil keputusan."
Aurel langsung mengeluh.
"Dit!"
"Apa?"
"Pelan-pelan."
Aditya tertawa.
"Katanya mau belajar."
"Mau."
"Tapi otak gue juga punya kapasitas."
"Kalau penuh?"
Aurel menunjuk kepalanya.
"Hang."
Aditya tertawa kecil.
"Makanya istirahat."
Aurel terdiam.
Kemudian tersenyum.
"Nah."
"Ini juga penting."
"Apa?"
"Produktif bukan berarti harus terus bekerja."
Aditya mengangguk.
"Bagus."
Aurel mengambil bukunya dan menulis kalimat terakhir hari itu.
"Produktif bukan berarti sibuk sepanjang hari. Produktif berarti tahu apa yang penting, mengerjakannya dengan baik, dan tahu kapan harus berhenti."
Ia memandang tulisan tersebut beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
Tanpa sadar, perjalanan Aurel bersama Aditya mulai mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal.
Dulu ia berpikir pekerjaan hanya tentang terlihat sibuk.
Sekarang ia mulai memahami bahwa pekerjaan adalah tentang cara berpikir, cara berkomunikasi, cara mengambil keputusan, dan cara menghargai waktu.
Dan Aditya?
Ia mulai menikmati setiap pertanyaan Aurel.
Karena semakin banyak Aurel bertanya, semakin ia melihat perempuan itu bukan sekadar model yang sedang mencoba masuk ke dunia bisnis.
Aurel benar-benar sedang tumbuh.