Perjalanan pekerjaan Aditya di Yogyakarta akhirnya selesai.
Pagi itu mereka sudah kembali ke Jakarta. Tidak ada lagi jadwal menemui investor, mengecek proyek, ataupun berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Aurel bisa duduk santai di ruang kerja penthouse tanpa harus mengejar jadwal.
Tapi ternyata...
Santai bukan berarti bebas dari pekerjaan.
Aurel baru saja duduk di sofa ketika Aditya datang membawa sebuah map tebal.
"Rel."
Aurel yang sedang membuka ponsel langsung mendongak.
"Hm?"
"Udah sarapan?"
"Udah."
"Bagus."
Aditya meletakkan map itu di meja.
"Nih."
Aurel melihat map tersebut.
"Apa?"
"Laporan."
Aurel langsung mengernyit.
"Laporan apaan?"
"Laporan keuangan sederhana."
Aurel perlahan duduk tegak.
"Dit..."
"Hm?"
"Gue kira hari ini libur."
"Memang."
"Terus ini apa?"
"Belajar."
Aurel menatap Aditya dengan wajah tidak percaya.
"Libur versi lo ternyata begini?"
Aditya santai menarik kursi di depannya.
"Kalau mau berkembang, jangan nunggu ada jadwal kantor."
Aurel menghela napas panjang.
"Ya ampun."
"Model disuruh baca laporan keuangan."
"Makanya belajar."
Aurel mengambil map tersebut.
"Oke."
"Ajari gue."
Aditya mengangguk.
Ia membuka halaman pertama.
"Ini laporan sederhana. Jangan takut lihat angka."
Aurel melihat tabel di depannya.
Ada angka penjualan, biaya operasional, utang, aset, dan beberapa angka lainnya.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Aurel mengerutkan kening.
"Dit."
"Hm?"
"Ini perusahaan untung, kan?"
Aditya langsung mengangkat wajah.
"Belum tentu."
Aurel menunjuk angka penjualan.
"Lah, penjualannya besar."
"Penjualan besar bukan berarti keuntungan besar."
Aurel terdiam.
"Oh."
Aditya menunjuk bagian laporan.
"Misalnya perusahaan menjual barang senilai satu miliar."
Aurel mengangguk.
"Kelihatannya besar."
"Iya."
"Tapi untuk mendapatkan penjualan itu, perusahaan mengeluarkan biaya."
"Produksi."
"Pengiriman."
"Gaji karyawan."
"Sewa."
"Marketing."
"Pajak."
"Dan biaya lainnya."
Aurel mulai mengangguk pelan.
"Jadi satu miliar itu belum tentu masuk ke kantong perusahaan."
"Betul."
Aditya mengambil pulpen.
"Ini yang disebut omzet."
Ia menulis di kertas.
"Omzet adalah total nilai penjualan dalam periode tertentu."
Aurel memperhatikan.
"Terus laba?"
"Uang yang tersisa setelah biaya-biaya tertentu diperhitungkan."
"Oh..."
Aurel kembali melihat laporan.
"Berarti kalau omzet satu miliar, labanya bisa cuma seratus juta?"
"Bisa."
"Bisa lebih kecil?"
"Bisa."
"Atau malah rugi?"
"Betul."
Aurel langsung bersandar.
"Ya ampun."
"Selama ini gue kira kalau penjualan besar berarti perusahaan kaya."
Aditya tersenyum tipis.
"Kesalahan yang sering dilakukan orang."
Aurel mengambil pulpen.
"Oke."
"Catat."
Ia menulis besar-besar di bukunya:
PENJUALAN BESAR ≠ LABA BESAR
Aditya melihat tulisan itu.
"Bagus."
Aurel tersenyum.
"Ini gampang."
"Jangan senang dulu."
"Masih banyak."
Aurel langsung menghela napas.
"Kenapa lo selalu punya kalimat begitu?"
"Karena memang masih banyak."
Aditya menunjuk bagian lain.
"Ini biaya operasional."
Aurel membaca.
"Biaya operasional..."
"Contohnya?"
"Gaji karyawan."
"Benar."
"Sewa kantor?"
"Benar."
"Listrik?"
"Benar."
"Internet?"
"Benar."
"Coffee?"
Aditya menatapnya datar.
"Coffee kantor?"
"Iya."
"Kalau memang masuk biaya perusahaan dan sesuai kebijakan, bisa."
Aurel mengangguk serius.
"Berarti kopi gue selama ini bagian dari ekonomi perusahaan."
Aditya menggeleng.
"Jangan mulai."
Aurel tertawa.
"Oke, oke."
Aditya melanjutkan.
"Biaya harus dikendalikan."
"Karena kalau biaya terus naik sementara pendapatan tidak bertambah..."
"Laba turun."
Aurel menyambung.
"Atau malah rugi."
"Bagus."
Aditya kembali menunjuk tabel.
"Nah, sekarang ini."
Aurel melihat.
"Utang?"
"Iya."
"Kalau perusahaan punya utang berarti perusahaan jelek?"
"Belum tentu."
Aurel langsung berhenti menulis.
"Belum tentu lagi?"
"Utang bisa digunakan untuk membiayai ekspansi atau investasi."
"Tapi harus dikelola."
"Yang penting perusahaan tahu kemampuan membayarnya."
Aurel mengangguk.
"Jadi utang itu nggak otomatis buruk."
"Betul."
"Yang buruk kalau ngutang tanpa tahu cara bayar."
Aditya mengangguk.
"Nah."
Aurel tersenyum.
"Mulai ngerti."
"Bagus."
Aditya kemudian membuka halaman berikutnya.
"Ini yang lebih penting."
Aurel melihat angka-angka di sana.
"Cash flow?"
"Iya."
Aurel memicingkan mata.
"Ini apa?"
"Arus kas."
"Uang masuk dan keluar."
"Oh."
"Jadi ini beda dengan laba?"
"Beda."
Aurel mengerutkan kening.
"Kenapa?"
Aditya menjelaskan perlahan.
"Bayangkan perusahaan melakukan penjualan besar."
"Katanya pelanggan akan membayar tiga puluh hari kemudian."
Aurel mengangguk.
"Berarti penjualan sudah tercatat."
"Betul."
"Tapi uangnya belum masuk?"
"Belum."
Aurel terdiam.
"Oh..."
"Jadi perusahaan bisa terlihat menghasilkan banyak penjualan..."
"Tapi uang tunainya belum tersedia."
"Betul."
Aurel mulai memahami.
"Berarti perusahaan bisa kelihatan kaya di atas kertas..."
"Tapi sebenarnya lagi kekurangan uang yang bisa dipakai sekarang."
Aditya tersenyum.
"Nah."
"Ini penting."
Aurel mengangguk cepat.
"Jadi cash flow harus diperhatikan."
"Karena perusahaan tetap punya kewajiban yang harus dibayar."
"Gaji."
"Tagihan."
"Utang yang jatuh tempo."
"Biaya operasional."
"Betul."
Aurel kembali menulis.
Tangannya mulai pegal.
Ia berhenti sebentar.
"Dit."
"Hm?"
"Kenapa dunia bisnis ribet banget?"
Aditya tertawa kecil.
"Karena banyak hal yang harus dipikirkan."
Aurel menutup mata sebentar.
"Pusing juga ya, Dit."
Aditya mengangguk.
"Makanya jangan cuma lihat angka paling besar."
Aurel membuka mata.
"Maksudnya?"
"Kalau suatu hari kamu melihat sebuah perusahaan mengatakan penjualannya naik dua kali lipat..."
"Jangan langsung berpikir perusahaan itu pasti sehat."
"Lihat juga labanya."
"Lihat biaya."
"Lihat utang."
"Lihat arus kas."
"Lihat apakah pertumbuhannya berkelanjutan."
Aurel mengangguk perlahan.
"Jadi jangan gampang kagum sama angka."
"Betul."
Aurel tersenyum.
"Ilmu ini ternyata bisa dipakai buat kehidupan sehari-hari juga ya."
Aditya mengangguk.
"Bukan cuma perusahaan."
"Kalau kamu punya bisnis kecil, kamu juga perlu tahu."
"Kalau kamu punya toko online, kamu harus tahu berapa omzetmu, berapa biaya, dan berapa keuntungan sebenarnya."
"Kalau cuma lihat uang masuk, kamu bisa salah mengira sedang untung."
Aurel langsung mengangguk.
"Benar juga."
Ia menulis lagi.
Kemudian tiba-tiba ia berhenti.
"Dit."
"Hm?"
"Kalau gue punya bisnis nanti..."
Aditya menatapnya.
"Bisnis apa?"
"Belum tahu."
"Fashion mungkin."
Aurel tersenyum.
"Atau skincare."
"Atau boutique."
"Atau makanan."
"Atau semuanya."
Aditya tertawa.
"Jangan semuanya."
"Kenapa?"
"Nanti nggak fokus."
Aurel terdiam.
Kemudian mengangguk.
"Berarti kalau mau bisnis, harus tahu dulu mau fokus di mana."
"Betul."
"Terus bikin perencanaan."
"Iya."
"Hitung modal."
"Iya."
"Hitung biaya."
"Iya."
"Hitung risiko."
"Iya."
Aurel tersenyum puas.
"Wah."
"Gue bisa."
Aditya mengangkat alis.
"Jangan cepat percaya diri."
Aurel langsung manyun.
"Harusnya lo bilang 'kamu pasti bisa'."
"Gue bilang lo bisa."
"Nah."
"Kalau belajar."
Aurel menunjuk Aditya.
"Tuh."
"Galak."
Aditya tertawa kecil.
"Realistis."
Aurel kembali membuka laporan.
"Terus gue harus belajar sampai mana?"
"Sekretaris gue nanti bantu pandu."
"Lo pahami aja ini sampai besok."
Aurel langsung mendongak.
"Besok?"
"Iya."
"Besok gue harus ngerti semua ini?"
"Nggak semua."
"Tapi minimal kamu bisa menjelaskan dengan bahasa kamu sendiri."
Aurel menatap laporan di depannya.
"Dit..."
"Hm?"
"Ini banyak."
"Makanya mulai sekarang."
Aurel menarik napas panjang.
Kemudian mengangguk.
"Siap."
Aditya berdiri.
"Bagus."
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Aurel memanggil.
"Dit."
Aditya berhenti.
"Apa?"
Aurel mengangkat wajahnya dengan senyum manis.
"Kalau gue berhasil ngerti besok..."
"Hm?"
"Tambah gaji ya."
Aditya langsung menatapnya datar.
"Lo belum kerja di perusahaan gue."
Aurel terkekeh.
"Ya anggap aja bonus."
"Bonus karena mau belajar."
Aditya menggelengkan kepalanya.
"Dasar."
Aurel kembali membuka buku.
"Serius."
"Gue belajar keras."
"Siap, Dit. Siap, Tuan."
Aditya hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Belajar."
"Siap!"
Aditya meninggalkan ruangan.
Namun beberapa detik kemudian, dari lorong terdengar suara Aurel.
"DIT!"
"Apa lagi?"
"Kalau omzet dikurangi biaya berarti laba?"
Aditya kembali masuk.
"Tidak sesederhana itu."
Aurel langsung menjatuhkan kepalanya ke meja.
"Ya Allah..."
Aditya tertawa.
"Makanya belajar."
Aurel mengangkat kepala.
"Jangan ketawa!"
"Besok gue harus bisa."
Aditya menatapnya beberapa saat.
Kemudian senyumnya melembut.
"Iya."
"Besok kamu harus bisa menjelaskannya."
Aurel mengangguk mantap.
Dan setelah Aditya pergi, ia kembali menatap angka-angka di depannya.
Untuk pertama kalinya, laporan keuangan yang awalnya terlihat seperti kumpulan angka tidak berarti mulai terasa seperti sebuah cerita.
Ada uang yang masuk.
Ada uang yang keluar.
Ada keuntungan.
Ada kewajiban.
Ada risiko.
Dan ada keputusan yang harus dibuat dengan hati-hati.
Aurel mengambil pulpen lagi.
Di bagian paling atas halaman, ia menulis:
"Jangan lihat perusahaan dari omzetnya saja."
Lalu di bawahnya:
"Lihat laba, biaya, utang, dan cash flow."
Ia tersenyum sendiri.
"Besok gue harus bisa."
Entah kenapa, tantangan kecil itu justru membuatnya semakin bersemangat.
Sebab Aurel mulai sadar, ia tidak lagi sekadar mengikuti Aditya ke kantor untuk mengisi waktu luang.
Ia sedang membangun kemampuan yang suatu hari mungkin akan menjadi miliknya sendiri.