Pagi itu, Aurel sudah berada di lobi hotel bahkan sebelum Aditya turun dari kamarnya.
Ia mengenakan blouse putih, celana bahan hitam, blazer krem, dan heels rendah. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya ada tablet kecil dan buku catatan yang sejak kemarin tidak pernah lepas dari genggamannya.
Maya yang melihatnya langsung tersenyum.
"Nona sudah siap?"
Aurel mengangguk.
"Siap."
"Padahal jadwal hari ini lebih padat dari kemarin."
Aurel menarik napas.
"Justru itu."
"Kalau saya tahu jadwalnya padat, saya harus lebih siap."
Maya terkekeh.
"Semangat sekali."
"Saya lagi belajar, Kak."
Tak lama kemudian pintu lift terbuka.
Aditya keluar bersama asistennya.
Ia langsung melihat Aurel yang berdiri menunggu.
"Udah dari tadi?"
Aurel menggeleng.
"Baru."
Maya langsung menahan senyum.
Padahal dia tahu Aurel sudah berada di lobi hampir dua puluh menit.
Aditya melihat jam tangannya.
"Jam tujuh lewat lima."
"Jadwal pertama jam delapan."
"Aku tahu."
Aurel mengangkat tabletnya.
"Makanya saya siap dari sekarang."
Aditya mengangguk.
"Bagus."
Mereka kemudian berjalan menuju mobil.
Di dalam perjalanan, Aurel membuka catatan dari hari sebelumnya.
Aditya yang duduk di sampingnya melirik.
"Masih dibaca?"
"Iya."
"Yang kemarin?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena ada beberapa bagian yang belum saya ngerti."
Aditya menghela napas kecil.
"Bagian mana?"
Aurel menunjuk layar.
"Ini."
"Strategi ekspansi."
"Kenapa perusahaan besar harus hati-hati waktu masuk ke daerah baru?"
Aditya menjelaskan dengan bahasa sederhana.
"Bukan cuma soal punya uang."
"Kalau masuk ke pasar baru, kita harus tahu kebiasaan konsumennya, persaingan, regulasi, biaya operasional, sampai kemungkinan gagal."
Aurel mengangguk.
"Jadi nggak boleh cuma lihat peluang."
"Harus lihat risikonya juga."
"Betul."
Aurel langsung mencatat.
Aditya memperhatikannya beberapa detik.
"Lo kalau belajar ternyata serius."
Aurel tersenyum.
"Kan gue bilang."
"Gue nggak mau cuma numpang ikut."
"Kalau gue udah diberi kesempatan, ya harus dimanfaatkan."
Aditya tidak menjawab.
Namun senyum tipis muncul di wajahnya.
---
Agenda pertama mereka adalah pertemuan dengan tim pengembangan proyek.
Begitu masuk ruangan, beberapa direktur langsung berdiri.
"Selamat pagi, Pak Aditya."
"Selamat pagi."
Aurel mengikuti dari belakang.
Ia tersenyum kepada semua orang.
"Selamat pagi."
Salah satu direktur yang belum mengenalnya menoleh kepada Maya.
"Bu Aurel ikut?"
Maya mengangguk.
"Iya."
"Beliau sedang belajar mengenai bisnis perusahaan."
Pria itu tersenyum.
"Bagus."
Aurel duduk di samping Aditya.
Presentasi dimulai.
Laporan mengenai proyek ditampilkan di layar.
Aurel memperhatikan dengan serius.
Tidak bermain ponsel.
Tidak sibuk melihat cermin.
Tidak pula berbicara ketika orang lain sedang menjelaskan.
Sesekali ia mencatat.
Ketika ada bagian yang tidak dipahami, ia menuliskan pertanyaannya di buku.
Setelah presentasi selesai, Aditya menoleh.
"Ada yang mau ditanyakan?"
Aurel ragu sebentar.
"Kalau boleh."
"Tanya."
Aurel menghadap direktur proyek.
"Untuk proyek ini, target konsumennya siapa?"
Ruangan menjadi hening sesaat.
Direktur tersebut kemudian menjawab.
"Menengah ke atas."
"Kalau begitu..."
Aurel berhenti sebentar.
"Apakah strategi promosinya juga akan menyesuaikan gaya hidup mereka?"
Aditya menoleh kepadanya.
Direktur itu mengangguk.
"Benar."
"Saya bertanya karena kalau targetnya spesifik, menurut saya visual promosinya juga harus terasa eksklusif."
"Jangan terlalu ramai."
"Lebih baik menonjolkan pengalaman."
Direktur itu tersenyum.
"Menarik."
"Masukan dari dunia fashion?"
Aurel mengangguk.
"Mungkin."
"Karena saya terbiasa melihat bagaimana sebuah brand menjual image."
"Kadang orang membeli bukan karena produknya saja."
"Tapi karena mereka ingin merasakan seperti apa hidup ketika menggunakan produk itu."
Aditya bersandar di kursinya.
Ia diam.
Tetapi jelas terlihat bahwa ia mendengarkan.
---
Agenda kedua berlangsung lebih lama.
Mereka bertemu dengan pihak investor.
Diskusinya cukup berat.
Ada angka.
Ada proyeksi.
Ada negosiasi.
Ada perbedaan pendapat.
Beberapa kali suara orang di ruangan meninggi.
Namun Aurel tetap tenang.
Ia tidak ikut campur.
Ia hanya mencatat.
Saat salah satu pihak mulai emosi, Aurel bahkan tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.
Ia memahami bahwa dunia kerja tidak selalu berjalan mulus.
Setelah rapat selesai, salah satu direktur menghampirinya.
"Bu Aurel."
"Iya, Pak?"
"Saya kira Anda hanya ikut menemani Pak Aditya."
Aurel tersenyum.
"Awalnya memang begitu."
"Tapi saya memang sedang belajar."
Direktur itu tertawa.
"Kelihatannya serius."
"Saya kagum."
Aurel tersenyum sopan.
"Terima kasih, Pak."
"Masih banyak yang harus saya pelajari."
"Jangan terlalu rendah hati."
"Saya lihat Anda cukup cepat menangkap pembicaraan."
Aurel mengangguk.
"Karena saya punya guru."
Direktur itu menoleh ke arah Aditya.
"Oh..."
Aditya yang mendengar dari kejauhan hanya mengangkat alis.
Aurel langsung menunjuknya.
"Dia."
Direktur itu tertawa.
"Beruntung sekali Pak Aditya punya istri yang mau belajar."
Aurel hanya tersenyum.
Ia tidak tahu bahwa kalimat itu membuat Aditya diam-diam merasa bangga.
---
Siang hari, mereka makan bersama.
Aurel tetap mengikuti Aditya.
Tidak mengeluh.
Tidak bertanya kapan pulang.
Padahal sejak pagi mereka sudah berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Ketika makanan datang, Aditya melihat Aurel hanya makan sedikit.
"Kenapa?"
Aurel mengangkat kepala.
"Hm?"
"Makan."
"Ini udah."
"Sedikit."
"Nanti kenyang."
"Lo dari pagi ikut terus."
"Kalau cuma makan segitu, sore lo lemas."
Aurel tersenyum.
"Baik, Pak."
Ia kemudian mengambil makanan lagi.
Maya yang duduk di seberang mereka tersenyum kecil.
"Pak Aditya..."
"Hm?"
"Nona Aurel ini ternyata gampang diatur."
Aurel langsung menoleh.
"Heh."
"Jangan bilang begitu."
Maya tertawa.
"Tapi benar."
"Kalau diberi aturan, diikuti."
"Kalau dikasih tugas, dikerjakan."
"Kalau belum ngerti, bertanya."
Aurel menunjuk Maya.
"Jangan dipuji terus."
"Nanti saya besar kepala."
Aditya menyela.
"Kayaknya udah."
"Dit!"
Semua tertawa.
---
Sore hari mereka kembali ke kantor cabang.
Aurel mendapat kesempatan melihat bagaimana tim bekerja dari dekat.
Ia diperkenalkan kepada beberapa kepala divisi.
Semua menyambutnya dengan sopan.
Ada yang awalnya canggung karena mengira Aurel hanya datang sebagai istri CEO.
Namun sikap Aurel membuat suasana cepat mencair.
Ia tidak pernah membawa-bawa statusnya.
Ketika seorang staf menjelaskan sesuatu, Aurel mendengarkan.
Ketika diberikan dokumen, ia menerimanya dengan sopan.
Ketika tidak mengerti, ia berkata terus terang.
"Maaf, boleh dijelaskan sekali lagi?"
Tidak ada gengsi.
Tidak ada pura-pura mengerti.
Salah satu staf bahkan berkata kepada Maya setelah Aurel pergi.
"Bu Maya."
"Iya?"
"Bu Aurel ternyata enak diajak ngobrol ya."
Maya tersenyum.
"Iya."
"Saya kira bakal susah didekati."
"Dia justru gampang akrab."
---
Hari mulai malam.
Agenda terakhir mereka adalah makan malam bisnis.
Aurel kembali berganti pakaian.
Kali ini ia mengenakan dress hitam sederhana dengan blazer panjang.
Ketika keluar dari kamar, Aditya sudah menunggu.
Ia melihat Aurel sekilas.
"Siap?"
"Siap."
"Capek?"
Aurel tersenyum.
"Capek."
"Tapi masih bisa jalan."
Aditya mengangguk.
"Kalau nanti sudah nggak kuat, bilang."
"Iya."
Mereka masuk ke mobil.
Di perjalanan, Aurel bersandar sambil melihat catatannya.
Aditya melirik.
"Lo nggak pernah berhenti ya?"
Aurel menutup buku.
"Kenapa?"
"Dari pagi belajar terus."
Aurel tersenyum.
"Karena saya suka."
"Awalnya saya kira cuma mau cari kegiatan."
"Tapi ternyata dunia ini menarik."
Aditya menatapnya.
"Lo mau terus belajar?"
"Iya."
"Walaupun nanti kontrak kita selesai?"
Aurel terdiam.
Pertanyaan itu membuat suasana mobil sedikit berubah.
Ia menatap keluar jendela.
"Kalau sudah bisa..."
"Kenapa harus berhenti?"
Aditya tidak menjawab.
Aurel melanjutkan.
"Saya memang mungkin balik jadi model."
"Tapi ilmu yang sudah saya dapat nggak akan saya buang."
"Siapa tahu suatu hari saya bisa bikin bisnis sendiri."
Aditya tersenyum kecil.
"Bagus."
"Aku dukung."
Aurel menoleh.
"Serius?"
"Serius."
"Kalau begitu..."
Aurel mengulurkan tangannya.
"Semangat?"
Aditya melihat tangannya.
Lalu menjabatnya.
"Semangat."
Aurel tersenyum lebar.
"Deal."
---
Malam itu, setelah semua agenda selesai, mereka akhirnya kembali ke hotel.
Aurel melepas heels begitu masuk kamar.
"Ya ampun..."
"Kaki gue."
Aditya tertawa kecil.
"Besok masih ada jadwal."
Aurel langsung menatapnya.
"Besok?"
"Iya."
"Jam berapa?"
"Jam delapan."
Aurel menghela napas.
"Ya sudah."
"Tinggal bangun."
Aditya mengangkat alis.
"Nggak ngeluh?"
Aurel menggeleng.
"Enggak."
"Kenapa?"
Aurel tersenyum sambil mengambil buku catatannya.
"Karena gue sudah mulai menikmati."
Aditya terdiam.
Ia memandang Aurel yang kembali membuka catatannya, membaca ulang semua yang dipelajari hari itu.
Perempuan itu benar-benar berbeda dari bayangannya.
Cantik, iya.
Terkenal, iya.
Tapi ternyata bukan hanya itu.
Aurel sabar.
Gigih.
Mau belajar.
Mampu menjaga sikap.
Dan yang paling penting, ia tidak pernah menggunakan statusnya sebagai istri CEO untuk merendahkan orang lain.
Aditya bersandar di sofa sambil tersenyum tipis.
Entah sejak kapan...
Ia mulai merasa bangga memperkenalkan Aurel sebagai istrinya.
Bukan karena kecantikannya.
Bukan karena popularitasnya.
Tetapi karena perempuan itu perlahan menunjukkan bahwa ia memang pantas berdiri di sampingnya.