Pukul enam pagi.
Alarm di ponsel Aurel berbunyi nyaring memecah keheningan kamar hotel. Matanya langsung terbuka lebar, tangannya meraba meja samping tempat tidur hingga menyentuh benda itu, lalu buru‑buru menekan tombol mati. Ia duduk tegak sambil mengusap wajahnya yang masih terasa berat karena kantuk.
"Hah... jam enam tepat," gumamnya pelan sambil melirik jam dinding. "Jangan sampai telat."
Kalimat Aditya semalam masih terngiang jelas di telinganya—bahwa ketepatan waktu adalah hal pertama yang tidak bisa ditawar.
Kurang dari empat puluh menit kemudian, Aurel sudah siap berdiri di depan cermin. Ia baru saja selesai mandi, mengenakan blazer berwarna krem yang rapi, kemeja putih bersih, rok span selutut yang sopan, dan sepasang heels warna nude yang ia pilih agar tetap nyaman dipakai berjalan lama. Rambut panjangnya dikuncir rendah—sederhana, rapi, dan tidak akan mengganggu saat ia harus sibuk mencatat atau memperhatikan sesuatu.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri, menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil memberi semangat.
"Oke Aurel... hari pertama. Semoga semuanya lancar dan nggak bikin malu."
Pukul tujuh tepat.
Aurel keluar dari kamar sambil memeluk buku catatan tebal, sebuah tablet kecil, dan pulpen kesayangannya. Begitu melangkah masuk ke restoran hotel, ia langsung melihat sosok yang sudah ia cari. Aditya duduk tenang di dekat jendela besar, menatap keluar sambil sesekali melirik jam tangannya.
Mendengar langkah kaki, ia menoleh, lalu melirik jam di pergelangan tangannya sekilas.
"Tepat waktu," ucapnya singkat, tapi ada nada setuju di sana.
Aurel tersenyum bangga sambil menarik kursi di hadapannya.
"Katanya CEO paling nggak suka orang yang telat. Aku nggak mau jadi alasan kamu kesal dari pagi."
Aditya mengangguk pelan sambil menuangkan teh hangat.
"Bagus. Pertahankan kebiasaan itu."
"Siap," jawab Aurel sambil duduk. "Gimana? Aku udah siap tempur. Jujur aja... deg‑degan juga rasanya."
"Itu reaksi yang normal. Nanti jalani aja apa adanya."
Pelayan datang membawakan pesanan sarapan mereka. Aurel mengambil sepotong roti gandum dan potongan buah, makan secukupnya saja agar tidak terlalu kenyang dan mengantuk nanti. Aditya makan lebih cepat dan sederhana—kebiasaan orang yang waktunya selalu terasa kurang.
Di sela kegiatan makan, Aditya sudah membuka jadwal di layar tabletnya.
"Jam delapan kita berangkat langsung ke lokasi pertama," katanya tanpa menoleh.
"Oke, dicatat."
"Jam sembilan kita bertemu pemilik lahan untuk survei langsung."
"Noted."
"Jam sepuluh masuk ke kantor perwakilan untuk presentasi lengkap rencana pengembangan."
Aurel langsung membuka buku catatannya dan menegakkan pulpen.
"Dit..."
"Hm?" Aditya mendongak.
"Kalau nanti di sana ada istilah yang nggak aku ngerti... aku tulis dulu aja ya? Nggak bakal langsung nyela rapatnya."
Aditya tersenyum tipis melihat keseriusannya.
"Betul. Catat saja semua yang membingungkan. Kita bahas setelah pertemuan selesai."
"Siap dimengerti."
Tepat pukul delapan, mobil yang sudah dipesan meluncur meninggalkan halaman hotel. Di kursi belakang, Aurel duduk dengan posisi tegak, tangannya memegang berkas laporan yang semalam sudah dipelajarinya—meski masih banyak yang belum ia pahami sepenuhnya. Ia membacanya lagi berharap sedikit lebih paham dibanding kemarin.
Aditya melirik sekilas dari samping.
"Masih belajar lagi?"
"Iya," jawab Aurel tanpa mengalihkan pandangan. "Biar nggak terlalu kosong banget otaknya pas mereka mulai ngomongin angka dan rencana."
"Bagus," komentar Aditya singkat, tapi matanya terlihat menghargai usaha itu.
Tak lama kemudian mobil berhenti di lokasi pertama. Beberapa pria berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu di sana dengan sikap hormat. Begitu melihat Aditya, mereka langsung berdiri tegak.
"Selamat pagi, Pak Aditya."
"Selamat pagi," balas Aditya tenang sambil menyalami mereka satu per satu.
Setelah itu ia menoleh ke arah Aurel yang berdiri di sampingnya dengan sikap tenang namun siap menyapa.
"Perkenalkan, ini Aurel... istri saya."
Aurel tersenyum sopan dan menundukkan kepala sedikit.
"Selamat pagi, Bapak‑Bapak. Saya Aurel. Senang sekali bisa bertemu."
Salah satu pria yang terlihat memimpin mereka tersenyum ramah sambil mengangguk.
"Wah... Pak Aditya sekarang sering ditemani istri tercinta ya. Pasti jadi lebih semangat kerjanya."
Aditya hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara.
"Iya."
Pembicaraan pun segera berlanjut menuju area lahan yang cukup luas itu. Mereka berjalan kaki cukup jauh, menyusuri tanah yang kadang masih berumput tinggi dan jalannya belum rata. Matahari semakin naik, menyinari kulit mereka dengan kehangatan yang perlahan berubah menjadi panas.
Aurel tetap mengikuti langkah mereka dari belakang dengan jarak yang pas. Ia tidak mendahului, tapi juga tidak tertinggal jauh. Setiap kali ada penjelasan penting keluar, ia segera berhenti sebentar, mencatat poin utamanya di buku kecilnya, lalu kembali berjalan mengikuti.
Pria yang memandu menjelaskan sambil menunjuk ke arah timur.
"Area sebelah timur ini tanahnya cukup padat, sangat cocok dijadikan akses jalan utama dan area parkir nantinya. Kalau di sisi barat, kita sebaiknya pertahankan pepohonan yang masih banyak tumbuh di sana, supaya lingkungan tetap sejuk dan alami."
Aurel menulis kalimat itu dengan cepat, lalu kembali mendongak untuk mendengarkan lanjutan penjelasan.
Aditya yang berjalan di sampingnya memperhatikan gerak‑geriknya sebentar.
"Capek?" tanyanya pelan agar tidak didengar orang lain.
Aurel menggeleng mantap.
"Belum kok. Lanjut aja."
Menjelang pukul sepuluh mereka berpindah ke gedung kantor perwakilan perusahaan. Ruangan presentasi sudah siap. Begitu masuk, lampu diredupkan dan layar besar di depan menyala menampilkan desain gambar proyek yang sangat rinci.
Aurel duduk di kursi yang tersedia di samping seorang perempuan yang terlihat rapi dan ramah—Maya, sekretaris yang kemarin dibicarakan Aditya.
Maya mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya dan berbisik pelan.
"Jangan sungkan, Bu Aurel. Kalau ada istilah atau angka yang belum dipahami, nanti setelah selesai saya jelaskan pelan‑pelan."
Aurel langsung merasa lega dan tersenyum tulus.
"Wah, makasih banyak ya, Kak Maya. Rasanya jadi nggak takut salah paham lagi."
Selama presentasi berlangsung hampir dua jam itu, Aurel tidak sekali pun menyentuh ponselnya. Ia tidak memainkannya, tidak mengecek notifikasi, bahkan tidak meletakkannya di atas meja. Ia hanya duduk tegak, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pembicara, mencatat hal‑hal yang menurutnya penting, dan sesekali mengangguk tanda mengerti saat penjelasan terdengar masuk akal.
Maya yang dari tadi diam‑diam memperhatikannya tersenyum kecil dalam hati. Jarang sekali ada orang baru—apalagi istri pemilik perusahaan—yang benar‑benar fokus dan tidak bersikap masa bodoh sejak hari pertama.
Saat jam makan siang tiba, mereka berpindah ke ruang makan yang lebih santai di lantai yang sama. Suasana menjadi lebih cair dan obrolan mulai melebar.
Salah satu investor yang duduk di hadapan Aurel tersenyum ramah lalu bertanya,
"Bu Aurel, bosan tidak ikut rapat dari pagi begini? Padahal biasanya kaum wanita lebih suka jalan‑jalan atau berbelanja daripada duduk mendengarkan angka dan rencana pembangunan."
Aurel tertawa kecil mendengar pertanyaan jujur itu.
"Jujur saja boleh ya, Pak?"
"Tentu saja."
"Awalnya capek sih. Tubuh saya biasa bergerak di dunia yang berbeda," jawabnya tulus. "Tapi... seru kok. Soalnya saya bisa belajar banyak hal baru yang sebelumnya nggak pernah saya bayangkan."
Investor itu mengangguk kagum.
"Itu sikap yang sangat bagus. Nggak semua orang mau merendahkan diri untuk belajar dari nol lagi saat sudah punya nama."
Aurel tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Saya masih jauh sekali dari pintar urusan begini. Makanya saya pikir lebih baik banyak bertanya dan mengamati daripada diam saja."
Aditya yang duduk di sebelahnya hanya diam sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia tidak ikut berbicara, tapi dalam hatinya ia mengakui satu hal: jawaban Aurel sederhana, tidak berusaha terlihat hebat, tapi justru itu yang membuat orang lain menghormatinya.
Sore harinya jadwal masih belum selesai. Mereka kembali menuju lokasi proyek kedua yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Jalan yang ditempuh pun tidak selalu mulus.
Langkah kaki Aurel yang tadi mantap mulai terasa sedikit melambat. Tumit kakinya mulai terasa perih dan pegal karena seharian berjalan dan berdiri. Namun ia segera mempercepat langkahnya lagi agar tetap sejajar dengan Aditya. Ia tidak mau terlihat lemah atau membebani pria itu di hari pertamanya.
Maya yang menyadari hal itu berjalan mendekat.
"Nona... capek sekali ya?" bisiknya penuh perhatian.
Aurel tersenyum menahan rasa lelah.
"Sedikit saja, Kak. Tapi nggak apa‑apa. Masih kuat kok mengikuti sampai selesai."
Aditya yang peka terhadap perubahan suasana segera menoleh ke arahnya.
"Kalau capek bilang saja. Nggak usah dipaksa‑paksa," ucapnya dengan nada datar namun tidak bisa menyembunyikan perhatiannya.
Aurel menggeleng tegas.
"Kan aku lagi belajar cara kerja kamu. Masa baru setengah hari udah nyerah? Nanti kamu makin nggak percaya sama aku."
Aditya menatapnya lekat sebentar, lalu hanya mengangguk pelan.
"Baik. Tapi jangan memaksakan diri sampai sakit."
Mereka pun melanjutkan kegiatan hingga matahari mulai turun ke ufuk barat dan langit berubah warna menjadi jingga kemerahan. Dari pagi pukul enam sampai hampir malam, Aurel tidak pernah mengucapkan satu kata keluhan pun. Ia selalu ada di belakang atau di samping Aditya, mengikuti setiap pertemuan, menyimak setiap diskusi, dan mencatat hal‑hal yang ingin diketahuinya lebih lanjut.
Malam itu perjalanan pulang ke hotel terasa jauh lebih tenang. Di dalam mobil, Aurel menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan punggung dan kakinya yang terasa berat.
"Kaki gue rasanya kayak mau copot," keluhnya pelan, tapi suaranya masih terdengar bercanda.
Aditya melirik sekilas dari balik layar ponselnya.
"Makanya tadi gue bilang kalau capek bilang aja. Kamu yang ngeyel terus bilang kuat."
Aurel tersenyum tanpa membuka matanya.
"Capek sih capek banget. Tapi jujur... aku senang hari ini."
"Kenapa senang kalau lelah begini?"
"Soalnya aku jadi tahu banyak hal. Tahu cara orang negosiasi supaya sama‑sama untung, tahu bagaimana persiapan presentasi yang matang, dan tahu kalau sebelum tanda tangan kontrak itu prosesnya panjang dan penuh pertimbangan."
Aditya mengangguk pelan.
"Itu baru sebagian kecil dari seluruh pekerjaan yang harus diselesaikan."
Aurel tiba‑tiba membuka matanya dan menoleh ke arahnya.
"Dit..."
"Hm?"
"Kamu tiap hari benar‑benar jalani rutinitas sepadat ini?"
"Hampir setiap hari," jawab Aditya jujur.
Aurel menghela napas panjang penuh kekaguman.
"Berarti selama ini aku salah paham besar."
"Salah apa?"
"Aku kira jadi CEO itu kerjanya enak aja. Duduk manis di kursi empuk, terima laporan, tanda tangan dokumen, terus selesai. Ternyata... ternyata perjuangannya jauh lebih berat dari yang kelihatan."
Aditya tersenyum tipis sambil menatap jalanan yang gelap.
"Kalau sesederhana itu, pasti semua orang di dunia ini sudah mau jadi CEO."
Aurel tertawa kecil.
"Iya juga sih masuk akalnya."
Suasana kembali hening beberapa saat.
Namun tak lama kemudian, Aurel kembali bergerak merogoh tasnya dan mengeluarkan buku catatan yang tadi ia peluk seharian.
Aditya menoleh heran melihat gerakannya.
"Ngapain lagi? Mau nyatet apa lagi? Bukannya udah mau sampai?"
"Aku takut lupa detailnya kalau nggak langsung ditulis," jawab Aurel sambil membuka halaman baru. "Mumpung kejadiannya masih segar di ingatan."
Aditya menggelengkan kepalanya kecil, tapi senyum samar masih terukir di bibirnya.
"Lo nggak pernah merasa capek ya kalau sudah soal belajar?"
"Capek pasti ada," sahut Aurel sambil sibuk memegang pulpen. "Tapi kalau sekarang aku malas nyatet, besok juga bakal capek mikir karena nggak ngerti. Daripada nyesel nanti, mending dikerjakan sekarang."
Mendengar jawaban yang begitu sederhana namun masuk akal itu, Aditya terdiam. Ia kembali menatap ke luar jendela melihat lampu‑lampu kota yang berkelebat, namun pikirannya tertuju sepenuhnya pada perempuan yang duduk di sebelahnya.
Dulu ia menerima pernikahan ini—dan memilih Aurel—karena faktor luar semata: wajah cantik, karier yang sudah mapan, dan citra yang baik untuk menutupi perjanjian di antara mereka berdua. Ia mengira Aurel adalah perempuan yang terbiasa hidup santai, penuh kemewahan, dan tidak akan mau repot mengurus hal‑hal rumit dunia bisnis.
Tapi hari ini membuktikan dugaan itu salah besar.
Perempuan di sebelahnya ini tidak pernah mengeluh meski lelah, tidak malu memulai belajar dari nol, sangat disiplin mengikuti jadwal yang padat, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik di mana pun ia berada.
Tanpa sadar, rasa hormat dan kagum mulai tumbuh semakin besar di hati Aditya. Ia merasa bangga melihat Aurel berjalan setara di sampingnya sepanjang hari ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak kontrak pernikahan mereka ditandatangani, sebuah pertanyaan muncul di benaknya yang membuatnya terdiam sendiri.
Kalau suatu hari nanti waktu perjanjian ini habis...
Apakah rumah yang biasanya sepi itu akan terasa jauh lebih kosong tanpa suara tawa dan ocehan perempuan ini?