Malam makin larut. Lampu‑lampu kota Yogyakarta di luar jendela masih berkelap‑kelip memantulkan cahaya ke jalanan yang mulai sepi. Di dalam kamar hotel yang luas itu, sisa makanan tadi sudah dibereskan—kotak yang belum habis ditutup rapat, nampan disusun rapi di sudut meja, dan meja makan kini bersih kembali.
Aurel meregangkan kedua tangannya lebar‑lebar sampai bahunya terasa nyaman, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar lega.
"Huft... kenyang banget rasanya," gumamnya sambil menepuk pelan perutnya sendiri.
Aditya yang berdiri di dekat meja menuang air putih ke dalam dua gelas kecil, lalu menoleh sambil tersenyum tipis.
"Baru sadar lo?"
"Iya nih," jawab Aurel sambil duduk bersandar santai di tepi tempat tidur. "Padahal pas makan tadi semangat banget, lupa kalau perut udah penuh."
Aditya menyerahkan segelas air kepadanya.
"Ini, minum dulu. Biar enak."
"Siap, Pak Bos," ucap Aurel sambil tersenyum lebar lalu menerimanya. Ia meneguknya pelan‑pelan.
Suasana hening sejenak. Aditya kembali duduk di meja kerja, membuka tabletnya, dan mulai memeriksa jadwal yang tersusun di sana. Jari‑jarinya bergerak pelan menelusuri layar, memastikan semuanya sudah teratur untuk esok hari.
Melihat itu, Aurel langsung bangkit, mengambil bantal empuk, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi seberangnya.
"Dit..." panggilnya pelan.
"Hm?" Aditya tidak langsung mendongak.
"Besok kegiatan kita apa aja sih?"
Aditya berhenti menggeser layar, lalu menatap sekilas ke arahnya.
"Kenapa? Mau persiapan?"
"Iya lah," jawab Aurel mantap. "Biar aku siap‑siap dari sekarang. Takutnya ada hal khusus yang harus dipersiapkan, terus aku jadi ribetin kamu."
Aditya meletakkan tabletnya perlahan di atas meja, lalu memutar kursinya sedikit menghadap ke arah Aurel.
"Oke kalau gitu dengerin baik‑baik ya."
"Siap!"
"Besok jam tujuh pagi kita sarapan di restoran hotel."
Mendengar itu, Aurel langsung merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul warna cokelat tua lengkap dengan pulpen.
Melihat benda itu, Aditya mengangkat alisnya sedikit terkejut.
"Lo bawa buku catatan?"
"Iya dong," jawab Aurel santai sambil membuka halaman baru yang masih bersih. "Buat nyatet. Daripada cuma diingat terus lupa separuh."
Aditya terkekeh pelan melihat keseriusan perempuan itu.
"Rajin juga ternyata."
"Ya iyalah," sahut Aurel sambil menyiapkan pulpennya. "Oke, jam tujuh sarapan. Terus?"
"Jam delapan kita berangkat menuju lokasi."
"Ketemu siapa di sana?"
"Pemilik lahan yang mau kita ajak kerja sama."
Aurel langsung menulis cepat di kertasnya. Jam delapan – ketemu pemilik lahan.
"Habis itu?"
"Jam sepuluh ada presentasi rencana pengembangan di kantor perwakilan kita."
"Oke, presentasi jam sepuluh," gumamnya sambil menulis. "Terus siang?"
"Makan siang sekalian diskusi lebih lanjut sama investor utama proyek ini."
"Siap. Selesai makan siang?"
"Sore kita keliling langsung ke lokasi proyek buat cek kondisi tanah, jalan akses, dan lingkungan sekitarnya."
Aurel mengangguk terus sambil menggerakkan pulpennya.
"Terus malam?"
"Kemungkinan besar kita makan malam bersama klien juga, masih bahas hal yang sama."
"Oke... sip, semua udah tercatat." Aurel menutup penutup pulpennya sebentar, lalu membukanya lagi seolah ingat ada hal penting lain yang belum ditanyakan.
Aditya memperhatikannya diam‑diam. Ada perasaan aneh tapi menyenangkan melihat Aurel begitu serius.
"Rel..."
"Hm? Ada yang salah?"
"Lo serius banget mau ikut campur urusan ini."
Aurel berhenti menulis, lalu menatap lurus ke arah Aditya dengan wajah yang tulus.
"Iya dong. Kan sekarang aku ikut kerja sama kamu. Nggak pantas kalau aku cuma numpang nama atau numpang jalan doang. Aku mau belajar, biar nggak malu‑maluin kamu juga."
Aditya tersenyum tipis.
"Bagus sikap kayak gitu."
Aurel kembali membuka halaman bukunya.
"Dit..."
"Apa lagi?"
"Besok pakai baju apa? Formal banget atau santai rapi?"
"Formal sopan. Kemeja, blazer, atau setelan yang rapi."
"Oke noted. Terus sepatu?"
"Sepatu yang sopan, boleh heels tapi yang nyaman."
"Siap." Aurel mencatat poin itu juga. "Terus... aku perlu bawa laptop?"
"Nggak wajib banget buat pertemuan pertama."
"Kalau buku catatan ini?"
"Itu justru lebih bagus. Orang bakal lihat kamu memperhatikan mereka."
"Nah, berarti aku bawa ini terus." Aurel tersenyum puas lalu mencoret sedikit catatannya supaya lebih rapi.
Di dalam hatinya, ia berbicara sendiri: Enggak apa‑apa deh kalau aku kayak asisten pribadi kamu sekarang. Lagian aku cuma calon istri kontrak, nggak lebih. Yang penting aku punya kegiatan, bisa belajar hal baru, dan nggak cuma nganggur bengong di kamar hotel sambil nunggu hari perjanjian berakhir.
Ia memang belum mengerti seluk‑beluk dunia bisnis yang rumit ini. Istilah‑istilah asing, angka‑angka besar, dan strategi yang dipakai orang‑orang masih terasa asing di telinganya. Tapi bukan berarti ia mau diam saja dan beralasan "aku nggak bisa jadi nggak usah belajar".
Aditya diam saja sambil memperhatikan ekspresi wajah Aurel. Semakin lama ia mengenal perempuan di depannya ini, semakin banyak hal yang membuat pandangannya berubah total.
Dulu, kalau orang bilang nama Aurel, yang terbayang di kepalanya hanyalah seorang model yang cantik, yang hidupnya dikelilingi kamera, pakaian bagus, dan dunia hiburan yang gemerlap. Ia mengira Aurel tipe perempuan yang manja, tidak mau repot, dan cuma mau tampil cantik saja.
Ternyata dugaan itu salah besar.
Di balik wajah cantiknya, Aurel ternyata sangat disiplin. Kalau diberi instruksi, ia mendengarkan sampai selesai. Kalau ada yang tidak ia pahami, ia berani bertanya dengan sopan tanpa merasa gengsi. Dan yang paling membuat Aditya terkejut—Aurel tidak pernah malu mengakui kalau dirinya belum tahu sesuatu. Justru dia langsung bilang terus minta diajari.
"Dit..."
Suara Aurel menyadarkan Aditya dari lamunannya.
"Eh, iya?"
"Kalau nanti pas meeting..." Aurel menatapnya ragu sebentar. "Aku boleh nanya sesuatu kan? Kalau ada yang nggak ngerti?"
"Boleh banget."
"Terus kalau aku salah ngomong atau salah jawab gimana?"
"Nanti aku benerin pelan‑pelan di sela‑sela atau abis acara selesai. Nggak bakal aku bikin kamu malu di depan orang lain."
"Kalau aku nggak paham istilah bisnis yang rumit?"
"Tanya aja. Jangan dipendem sendiri sampai bingung setengah mati. Itu malah nggak bagus."
Aurel mengangguk mantap berkali‑kali.
"Siap dimengerti, Pak Aditya."
Aditya tersenyum tipis, lalu menambahkan satu hal lagi dengan nada yang lebih lembut.
"Satu lagi pesan aku."
"Apa itu?"
"Jangan minder."
Aurel memiringkan kepalanya sedikit bingung.
"Kenapa harus minder?"
"Karena semua orang hebat, semua orang yang sekarang duduk di kursi direktur atau pemilik perusahaan besar, juga pernah mulai dari nol persis kayak kamu. Mereka juga pernah nggak tahu apa‑apa, pernah bingung, pernah salah langkah."
Kalimat sederhana itu masuk begitu saja ke dalam hati Aurel. Ia tersenyum tulus.
"Iya juga sih. Berarti aku masih punya harapan buat jadi pintar urusan beginian."
"Masih punya harapan? Itu sih masih besar banget harapannya."
Aurel tertawa kecil bahagia.
"Wah... Pak CEO lagi nyemangatin gue nih. Harus aku rekam suara ini terus aku simpan."
Aditya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Jangan lebay ah lo."
"Biarin aja," jawab Aurel sambil tertawa. "Kesempatan langka lho didukung sama bos sekeren kamu."
Mereka berdua tertawa lepas, suasana yang tadinya serius kini jadi terasa hangat dan santai kembali.
Aditya lalu berdiri dan mengambil sebuah map tebal dari meja samping tempat tidurnya.
"Besok juga aku bakal kenalin kamu sama sekretaris aku yang udah lama banget kerja sama aku."
"Namanya siapa?"
"Kak Maya. Dia orangnya teliti banget, sabar, dan tau hampir semua urusan administrasi kantor."
"Wah, asyik berarti!" Mata Aurel langsung berbinar senang. "Jadi aku bakal punya guru pribadi dong buat belajar baca laporan, ngurus surat‑menyurat, sampai cara sikap yang pas ketemu orang penting?"
"Betul sekali."
"Asyiknya!" Aurel mengepalkan tangannya kecil penuh semangat. "Tapi jangan khawatir, aku nggak bakal bikin Kak Maya pusing kok."
Aditya menatapnya seolah meragukan sedikit tapi tetap tersenyum.
"Semoga aja bener janji lo."
"Eh serius aku!" Aurel ikut berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Aditya. "Kita buat kesepakatan resmi yuk."
Aditya menatap tangan itu bingung.
"Apa lagi ini?"
"Deal. Mulai besok aku belajar sungguh‑sungguh, nggak main‑main, dan bantu sebisa aku."
Aditya diam sejenak, lalu perlahan menyambut uluran tangan itu. Genggaman mereka bertemu—kuat, mantap, dan penuh rasa saling menghormati.
"Deal."
Jabat tangan itu berlangsung tidak lama, namun rasanya terasa bermakna.
Aditya melihat Aurel yang kembali duduk sambil merapikan buku catatannya dengan hati‑hati. Ia memperhatikan setiap gerak‑gerik perempuan itu.
Jujur saja, awalnya ia mengajak Aurel ikut hanya karena tidak mau ditinggal sendirian dan sekadar menepati bagian dari perjanjian pernikahan kontrak mereka demi menyenangkan hati ibunya. Ia berpikir kehadiran Aurel mungkin cuma bakal jadi tambahan yang harus ia urus.
Tapi ternyata realitanya jauh berbeda dari bayangannya.
Aurel ternyata bukan beban. Dia adalah perempuan yang pekerja keras, taat pada aturan yang sudah disepakati, tidak gengsi untuk belajar hal yang sama sekali baru baginya, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik meski kemampuannya masih belum seberapa.
Tanpa disadari, rasa kagum mulai tumbuh perlahan di sudut hati Aditya. Ia belum berani menyebutnya cinta—masih terlalu dini untuk kata itu. Tapi untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini terjadi, ia merasa bahwa meminta Aurel ikut bersamanya ke Yogyakarta adalah keputusan yang sangat tepat. Dan mungkin saja, ke depannya, perjanjian yang semula hanya di atas kertas ini bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.