Malam di Malioboro semakin ramai saja. Lampu-lampu jalan memantul di permukaan trotoar yang dipenuhi wisatawan yang berjalan santai. Aroma sate klathak, bakpia hangat, dan kopi jos bercampur di udara, menciptakan wangi khas Jogja yang selalu dirindukan.
Aurel berjalan di samping Aditya sambil menatap layar ponselnya, sesekali terkikik sendiri melihat video yang sedang ia putar.
Aditya melirik sekilas.
"Apa sih yang bikin lo senyum-senyum sendiri dari tadi?"
Aurel langsung menyodorkan ponselnya ke depan wajah Aditya.
"Dit, lihat deh."
"Hm?"
"Kita coba jajanan yang lagi viral di t****k yuk? Semuanya yang ada di sini."
Aditya melihat sekilas deretan video yang menampilkan orang-orang sedang menikmati kuliner khas kota ini.
"Lo serius mau coba semuanya?"
"Iya dong! Kan kita lagi di sini sekarang. Sayang banget kalau cuma lewat aja."
Aditya mengangguk pelan.
"Boleh."
Aurel langsung bersorak pelan menahan kegembiraan.
"Yeeey!"
"Tapi..." potong Aditya sambil menunjuk keramaian di sekeliling mereka. "Kalau kita beli satu-satu keliling jalanan, bisa sampai tengah malam baru selesai."
Aurel mengerutkan dahi sebentar, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.
"Lah, ada GoFood kan?!"
Aditya tertawa kecil.
"GoFood?"
"Iya! Nanti pesan semuanya sekaligus, dikirim langsung ke hotel. Di sana kita makan santai-santai sambil nggak perlu berebut tempat."
Aditya mengangguk setuju.
"Masuk akal juga."
Aurel langsung membuka aplikasi pesan antar dengan semangat.
"Siap... operasi borong makanan dimulai sekarang!"
Aditya menyandarkan punggungnya ke bangku taman sambil memperhatikan Aurel yang tampak sangat serius menggeser layar.
"Lama juga ya milihnya."
"Diam dikit. Ini butuh strategi."
"Strategi apanya?"
"Kalau salah pilih nanti nyesel seharian."
Aditya hanya tersenyum tipis melihat tingkah istrinya.
Beberapa menit berlalu...
"Dit..." panggil Aurel tiba-tiba.
"Hm?"
"Gue pesan gudeg ya?"
"Pesan."
"Bakpia?"
"Pesan."
"Sate klathak?"
"Pesan."
"Oseng mercon?"
Aditya langsung menoleh cepat.
"Lo yakin?"
"Kenapa emangnya?"
"Itu pedas banget, Rel."
Aurel mengangkat dagunya dengan percaya diri.
"Gue kuat kok."
Aditya terkekeh pelan.
"Nanti jangan nangis minta minum ya."
"Ih, jangan ngeremehin gitu."
Aurel kembali menatap layar.
"Lumpia Samijaya?"
"Pesan."
"Es cokelat?"
"Pesan."
"Es dawet?"
"Pesan."
"Roti bakar?"
"Pesan."
"Dimsum?"
"Pesan."
"Cireng isi?"
"Pesan."
"Pentol mercon?"
"Pesan."
"Donat?"
"Pesan."
"Croffle?"
"Pesan."
"Cheesecake?"
"Pesan."
Aurel tiba-tiba berhenti bergerak. Ia menoleh perlahan ke arah Aditya dengan wajah sedikit memerah.
"Dit..."
"Hm?"
"Kamu sadar nggak kalau kayaknya gue emang beneran lagi lapar banget?"
Aditya tertawa renyah.
"Baru sadar sekarang? Tadi semangat banget nambah-nambahinnya."
Aurel menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya ampun... ini banyak banget isinya."
Aditya melirik sekilas total pesanan di layar.
"Udah selesai semua?"
"Belum... masih ada sedikit lagi."
Aditya menghela napas sambil tetap tersenyum.
"Silakan lanjutkan. Beli apa pun yang lo mau, gue sanggup."
Aurel langsung menurunkan tangannya dan tersenyum lebar.
"Siap, Pak CEO! Kapan lagi kan provider lagi baik hati begini."
Aditya menggeleng pelan.
"Provider lagi..."
"Iya, provider makanan dan kebahagiaan gue."
Tak lama kemudian Aurel menekan tombol pesan.
"Done!"
Aditya berdiri dari duduknya.
"Yuk, kita balik ke hotel nunggu pesanan datang."
Tiga Puluh Menit Kemudian
Begitu sampai di kamar, belum sempat mereka duduk santai, bel pintu berbunyi.
Ting-tong...
Aurel langsung berlari kecil menuju pintu.
"Aku yang buka!"
Saat pintu terbuka, seorang kurir berdiri sambil tersenyum membawa tumpukan kantong makanan.
"Ini pesanannya ya, Kak? Terima kasih banyak."
Kurir pertama pergi, namun belum berlalu lima menit bel berbunyi lagi. Lalu yang kedua, ketiga, keempat, hingga kelima. Bahkan resepsionis yang sempat lewat di depan pintu sampai ikut tersenyum melihat tumpukan kantong yang hampir memenuhi meja.
Aurel menatap semua makanan itu dengan mata berbinar-binar.
"Dit..."
"Hm?"
"Kayaknya gue emang kebanyakan pesen deh."
Aditya melipat tangan di d**a sambil tersenyum.
"Baru sadar sekarang?"
"Iya... tadi emang gue kalap."
"Ya udah nggak apa-apa. Makan pelan-pelan aja. Yang penting jangan dipaksa habis semuanya malam ini juga."
Aurel mengangguk cepat.
"Siap!"
Ia mulai membuka satu per satu kantong makanan itu.
"Dit, lihat deh! Gudegnya wanginya sampai ke sini. Sate klathaknya juga masih berasap hangat. Bakpianya masih anget banget, terus Kopi Jos-nya juga ada!"
Aditya hanya diam memperhatikan Aurel yang sibuk menata makanan sambil tersenyum sendiri. Kamar hotel yang tadinya rapi kini berubah seperti meja prasmanan kecil berisi aneka kuliner khas Jogja. Dan melihat antusiasme Aurel yang begitu tulus, Aditya merasa perjalanan kerja yang awalnya terasa berat perlahan berubah menjadi momen yang tak pernah ia rencanakan, namun justru ia nikmati sepenuhnya.
Begitu semua kotak makanan tersusun rapi di atas meja, Aurel langsung mengusap kedua telapak tangannya dengan semangat.
"Oke... operasi makan dimulai sekarang!"
Aditya yang baru saja selesai mencuci tangan kembali duduk di hadapannya sambil menggeleng pelan.
"Lo seneng banget ya kalau soal makanan."
"Ya iyalah! Ini kan wishlist gue dari setahun lalu yang belum sempat dicoba."
Aurel mengambil kotak pertama.
"Yang pertama kita mulai dari gudeg."
Ia membuka tutup kotak perlahan. Aroma nangka muda yang dimasak santan dan rempah langsung menyebar memenuhi ruangan.
"Wangi banget..."
Aurel menyendok sedikit nasi dan lauknya, lalu menyodorkan sendok itu ke arah Aditya.
"Dit, coba dulu."
Aditya mengernyit sedikit.
"Kenapa? Gue bisa makan sendiri kok."
"Tau. Tapi ini suapan pertama, nggak afdal kalau bukan dari tangan gue."
Aditya akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
"Hm... gurih, sedikit manis, bumbunya meresap sampai ke dalam. Enak."
Aurel langsung tersenyum lebar.
"Kan gue bilang juga apa. Sekarang gantian!"
Aditya mengambil sendok lain dan menyendokkan untuk Aurel.
"Nih, buka mulutnya."
Aurel langsung membuka mulut lebar-lebar.
"Nah gitu dong, baru enak."
Aurel mengunyah pelan sambil mengangguk berkali-kali.
"Ya ampun... pantes banget kalau ini jadi makanan favorit banyak orang."
Aditya tersenyum tipis melihat ekspresi puas itu.
"Oke, selanjutnya apa?"
Aurel mengambil tusukan sate klathak.
"Sate ini."
Begitu dibuka, aroma daging kambing yang baru dibakar dengan bumbu kecap dan bawang langsung tercium harum.
"Wangi banget sih semuanya."
Mereka pun duduk lesehan di atas karpet sambil menikmati sate itu bergantian. Sesekali Aurel memejamkan mata menikmati rasa daging yang empuk dan bumbu yang meresap sempurna.
"Dit..."
"Hm?"
"Kalau gue pindah tinggal di Jogja..."
"Terus?"
"Berat badan gue pasti naik sepuluh kilo dalam sebulan."
Aditya tertawa kecil.
"Belum sampai dua hari aja udah kalap begini."
"Ya salah makanannya dong, semuanya enak banget!"
Setelah sate habis, Aurel mengambil kotak bertuliskan Oseng Mercon.
"Ini yang ditunggu-tunggu."
Aditya langsung menahan tangan Aurel sebentar.
"Rel, inget ya. Ini pedas beneran."
Aurel mengibaskan tangannya santai.
"Tenang aja, gue biasa makan pedas."
Ia langsung menyendok cukup banyak dan memakannya sekaligus.
Lima detik... sepuluh detik... lima belas detik kemudian...
Mata Aurel perlahan membesar.
"Dit..."
"Hm?"
"Panas..."
Aditya langsung tertawa menahan geli.
"Katanya kuat?"
Aurel buru-buru mengambil gelas air mineral.
"Ini bukan pedas biasa... ini rasanya kayak mulut gue lagi kebakaran!"
Aditya menundukkan kepala menahan tawa yang makin besar.
"Tadi udah gue bilangin dari awal."
Aurel memukul pelan bahu Aditya.
"Ketawa lagi aja deh! Cepet kasih minum lagi!"
Aditya menyodorkan botol air yang baru.
"Nih, pelan-pelan minumnya."
Aurel meminumnya sampai tersisa setengah.
"Hah... akhirnya napas gue balik lagi."
"Kapok kan?"
"Enggak! Besok kita beli lagi!"
Aditya menggeleng tak habis pikir.
"Keras kepala banget sih lo."
"Namanya juga pencinta makanan pedas."
Tak lama kemudian Aurel membuka kotak dimsum yang masih mengepulkan uap.
"Lihat deh bentuknya lucu banget."
Ia hendak mengambilnya tapi langsung menarik tangannya kembali.
"Aduh panas!"
Aditya mengambil sumpit.
"Sini biar gue yang ambilin."
Ia memotong dimsum itu menjadi dua bagian kecil.
"Nah, sekarang udah aman."
Aurel memperhatikan gerakan Aditya yang begitu teliti.
"Kamu tuh..."
"Kenapa?"
"Sebenarnya kalau lagi perhatian begini, kamu itu orangnya baik banget lho."
Aditya berhenti sejenak.
"Gitu maksudnya?"
"Iya."
"Gue cuma nggak mau lo kesakitan terus ribut sendiri di sini."
Aurel tertawa renyah.
"Nah itu namanya perhatian kan?"
"Bukan, itu namanya biar suasana kamar nggak heboh gara-gara mulut lo kepedesan."
"Iya iya, apa aja deh."
Perlahan meja kembali penuh dengan sisa makanan yang belum dicicipi. Ada croffle, cheesecake, bakpia, cireng isi, pentol mercon, roti bakar, es dawet, es cokelat, hingga kopi jos yang masih mengepul hangat.
Aurel melihat sekeliling meja sambil menghela napas panjang.
"Dit..."
"Hm?"
"Kita ini kalau dilihat orang, kayak food vlogger yang lagi nge-review tempat makan ya?"
Aditya mengangguk kecil.
"Bedanya apa?"
"Food vlogger dibayar buat makan. Kita yang bayar terus makan."
Aurel langsung tertawa sampai hampir tersedak.
"Ya ampun... iya juga sih!"
Mereka pun kembali mencicipi makanan satu per satu sambil memberikan penilaian santai.
"Gudeg... sembilan dari sepuluh."
"Sate klathak... sepuluh dari sepuluh."
"Croffle... delapan dari sepuluh."
"Bakpia... sepuluh dari sepuluh."
Aditya menyambung sambil tersenyum.
"Kalau oseng mercon?"
Aurel langsung menggeleng keras.
"Sepuluh dari sepuluh buat rasanya... tapi minus lima buat rasa pedasnya yang nyiksa!"
Aditya kembali tertawa mendengar jawaban itu.
Suasana kamar yang biasanya sunyi dan dingin kini dipenuhi obrolan ringan dan tawa lepas mereka berdua. Di luar jendela, lampu-lampu kota Jogja tampak makin indah diterangi cahaya malam.
Aurel menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memegang gelas es dawet yang manis segar.
"Dit..."
"Hm?"
"Makasih ya."
"Buat apa?"
"Udah mau bawa gue ke sini, udah sabar ngajarin gue soal bisnis, dan... udah mau nurutin semua kemauan gue yang aneh-aneh hari ini."
Aditya menatap wajah Aurel cukup lama, lalu senyum tipis yang tulus mengembang di bibirnya.
"Selama lo senang dan bahagia... gue nggak merasa keberatan sama sekali."
Kalimat sederhana itu membuat Aurel terdiam sejenak. Ia tak pernah menyangka bahwa pria yang awalnya ia kenal dingin, kaku, dan jauh, bisa bicara begitu lembut dan tulus padanya.
Di dalam hati Aditya sendiri, malam itu menyadarkan satu hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: melihat perempuan itu tertawa lepas menikmati hal-hal sederhana ternyata jauh lebih berharga daripada semua angka dan grafik yang biasa ia lihat di layar laptop. Dan untuk pertama kalinya, ia tak lagi memandang Aurel sekadar sebagai istri kontrak. Malam itu, di antara tumpukan makanan khas Jogja dan tawa yang lepas, mereka mulai menyadari bahwa perasaan itu perlahan tumbuh dan mengubah segalanya.