Sore mulai menjelang malam. Langit yang terlihat dari balik kaca balkon perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, menandakan matahari akan segera terbenam. Di dalam kamar yang luas itu, suasana masih terasa tenang meski tumpukan dokumen sudah menanti.
Aurel duduk bersila di atas sofa empuk milik Aditya. Di pangkuannya tertumpuk beberapa map tebal berisi laporan lengkap mengenai perkembangan perusahaan Mahendra Group, sementara sebuah tablet diletakkan di sampingnya dengan layar yang menyala menampilkan berbagai grafik dan angka penjualan yang rumit.
Aurel mengusap pelipisnya perlahan, wajahnya terlihat sedikit bingung dan lelah.
"Ya ampun..." keluhnya pelan.
Ia membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, matanya menyusuri barisan tulisan yang padat.
"Ini apaan sih? Semuanya penuh istilah asing."
Aditya yang saat itu sedang duduk di meja kerja sambil membalas pesan dan surel hanya melirik sekilas ke arahnya.
"Ada masalah?" tanyanya tenang.
Aurel langsung mengangkat salah satu map itu ke atas.
"Masalahnya ada di semuanya, Dit."
"Hah? Maksudnya?"
"Banyak banget angkanya, banyak istilah yang gue gak ngerti, terus ada grafik-grafik rumit begini, belum lagi laporan keuangan yang panjangnya minta ampun."
Aurel menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan napas berat.
"Sulit juga ya jadi pemimpin perusahaan besar ini."
Aditya perlahan menutup laptopnya, lalu berbalik badan menghadap Aurel.
"Gitu lah kenyataannya, Rel. Awalnya memang bikin pusing dan bingung luar biasa."
Aurel mengembuskan napas panjang sekali lagi.
"Gue kira jadi CEO itu cuma duduk manis di kursi besar, terus tanda tangan dokumen doang."
Aditya tertawa kecil mendengar ucapan polos itu.
"Kalau cuma tugasnya tanda tangan doang, semua orang juga pasti bisa jadi CEO kan?"
"Iya juga sih bener," jawab Aurel sambil tersenyum malu.
Jari telunjuknya menunjuk ke salah satu baris di halaman depan.
"Nih, Dit. EBITDA itu apaan sih?"
Aditya tersenyum tipis melihat semangat ingin tahunya itu.
"Mulai penasaran ya?"
"Banget malah. Soalnya tadi pas rapat semua orang ngomongnya cepat banget pakai istilah itu, gue cuma bisa senyum-senyum pura-pura paham padahal bengong."
Aditya bangkit dari kursi kerjanya, lalu berjalan mendekat dan duduk di sisi lain sofa, tepat di samping Aurel. Ia mengambil map yang ditunjuk itu, lalu menatapnya sebentar sebelum mulai menjelaskan.
"EBITDA itu sederhananya... ukuran untuk melihat seberapa bagus performa operasional perusahaan kita, sebelum memperhitungkan bunga, pajak, biaya penyusutan, dan amortisasi."
Aurel langsung mengerutkan dahi dalam-dalam, wajahnya makin bingung.
"Lo ngomong apa sih barusan? Gue makin pusing dengernya."
Aditya tertawa renyah melihat ekspresi itu.
"Oke, oke. Gampangnya begini... misalnya lo punya usaha sendiri, kan?"
"Iya, terus?"
"Terus usaha lo itu dapat untung. Nah, EBITDA itu tujuannya buat bantu kita lihat seberapa bagus usaha itu sebenarnya menghasilkan keuntungan dari kegiatan utamanya saja, tanpa terganggu faktor lain."
Aurel langsung mengangguk lega.
"Nah gitu dong! Kalau gitu gue baru ngerti. Kenapa dari tadi nggak ngomongnya kayak gitu aja?"
"Karena tadi gue pakai bahasa bisnis resmi," jawab Aditya santai.
"Jangan-jangan dong. Bahasa manusia aja yang gampang dimengerti," timpal Aurel cepat.
Mereka berdua pun tertawa bersama, suasana yang tadinya tegang karena rumitnya angka-angka jadi lebih cair dan menyenangkan.
Aurel kembali membuka halaman lain yang masih bersih.
"Dit..."
"Hm?"
"Kalau gue nanti belajar terus-serius kayak gini setiap hari... kira-kira bisa nggak ya gue ngerti semua beginian sampai habis?"
Aditya menatap wajahnya yang penuh harap itu cukup lama dengan pandangan yang lembut.
"Bisa dong."
"Serius lo bilang gitu?"
"Iya. Asal lo sabar aja, dan jangan malas buat bertanya."
Aurel langsung mengacungkan jempolnya dengan semangat.
"Siap, Komandan!"
Aditya menepuk pelan sampul map yang ada di tangan Aurel.
"Lagian nanti sekretaris gue juga bakal siap bantu dan ngajarin lo secara rinci. Lo bebas nanya apa aja, mau ke dia... atau ke gue langsung kapan pun."
Aurel tersenyum tulus, senyum yang menunjukkan rasa terima kasih yang besar.
"Makasih ya, Dit."
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?"
"Karena lo nggak pernah sekalipun ngeremehin gue cuma karena..." Aurel terdiam sejenak sebelum melanjutkan pelan, "...padahal gue cuma seorang model."
Aditya langsung menggeleng pelan.
"Jangan pernah bilang 'cuma model' gitu ya."
Aurel menatapnya lekat-lekat.
"Dunia pekerjaan yang lo jalanin itu juga butuh kerja keras luar biasa, disiplin tinggi, dan kemampuan yang nggak semua orang punya. Setiap pekerjaan itu punya nilainya masing-masing dan sama pentingnya."
Aurel terdiam beberapa saat, hatinya terasa hangat mendengar penuturan itu.
"Lo kalau lagi serius ngomong gini... ternyata bijak juga ya orangnya."
Aditya mendengus pelan sambil membuang muka pura-pura acuh.
"Jangan dibiasakan muji gitu. Nanti kepala gue malah jadi besar."
Aurel langsung tertawa terbahak-bahak.
"Terlambat! Ego lo itu udah besar banget dari duluan, Dit."
"Rel..." tegur Aditya sambil menoleh kembali.
"Iya, Pak CEO?"
"Berisik."
"Siap, Pak CEO yang berhati besar!"
Aditya hanya menggeleng sambil tetap tersenyum tipis yang tak bisa disembunyikan.
Beberapa menit berlalu, Aurel kembali menatap tumpukan dokumen tebal itu dengan wajah yang mulai lelah. Perlahan ia menutup map paling atas hingga menutupi semuanya.
"Udah ah. Nggak usah dipikirin dulu buat sekarang," ucapnya tegas.
Aditya ikut membantu menumpuk dan menutup map tersebut dengan rapi.
"Bagus juga. Otak dan pikiran juga butuh istirahat biar nggak macet."
Mendengar itu, mata Aurel langsung berbinar penuh semangat. Ia menatap Aditya dengan pandangan berharap.
"Dit..."
"Hm?"
"Daripada duduk di sini terus belajar dan pusing mikirin angka... gimana kalau kita jalan-jalan keluar?"
"Ke mana tujuan lo?"
"Ke Malioboro dong!"
Aditya berpikir sejenak sambil menimbang waktu.
"Mau belanja atau cari oleh-oleh?"
"Bukan. Mau makan enak, terus jalan-jalan santai lihat suasana malamnya. Katanya sih suasana malam di Malioboro itu seru banget, penuh warna dan hidup."
Aditya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kebetulan kerjaan gue hari ini juga udah selesai semua kok."
"Nah kan! Pas banget dong waktunya," sahut Aurel makin bersemangat.
"Sekalian..." tambahnya tiba-tiba.
"Apa lagi nih ide baru?"
"Nanti kita bisa sekalian mampir ke Prambanan juga."
Aditya mengangkat sebelah alinya terkejut.
"Sekarang juga lo maunya?"
"Iya bisa sekarang, kalau nggak besok paginya juga boleh. Pokoknya selama kita masih ada di Jogja ini harus sempatkan ke sana."
Aurel menyatukan kedua telapak tangannya di depan d**a, menatap Aditya dengan wajah memelas yang manis.
"Ayo dong Dit... pliiis sekali aja."
Melihat ekspresi memohon yang sulit ditolak itu, Aditya akhirnya tak kuasa menahan tawa kecil.
"Beh... dasar manja. Ya sudah ayo, kita berangkat."
Aurel langsung melonjak berdiri dari sofa dengan riang.
"Yes! Asyik! Gue siap-siap ganti baju dulu ya sebentar aja."
"Tunggu sebentar," panggil Aditya lagi sebelum Aurel sempat melangkah jauh.
"Ada apa lagi?" tanyanya berbalik badan.
"Nanti kalau kita udah sampai di Malioboro yang ramai itu... ingat ya jangan lari-larian."
"Kenapa emangnya?"
"Bisa hilang atau terpisah orangnya."
Aurel mendengus kesal sambil cemberut.
"Ih apaan sih? Gue bukan anak TK yang gampang hilang lho."
"Iya gue tau. Tapi kadang tingkah laku lo itu persis kayak anak kecil yang belum paham keadaan," canda Aditya santai.
"Ih apaan sih lo!"
Aurel mengambil bantal sofa di sebelahnya lalu melemparkannya ke arah Aditya dengan gerakan cepat. Aditya dengan mudah menangkap bantal itu tepat di depan wajahnya sambil tertawa makin keras.
"Dasar bandel," gumam Aditya sambil tersenyum lebar.
"Lima belas menit aja ya! Gue udah siap sempurna pas waktunya habis," seru Aurel dari ambang pintu.
"Oke, gue tunggu di sini," jawab Aditya.
Saat Aurel keluar dari kamar sambil bersenandung riang, Aditya kembali duduk diam di sana sambil menatap pintu yang tertutup itu. Ia menggeleng pelan perlahan. Entah sejak kapan, perjalanan kerja dinas yang biasanya membosankan, kaku, dan penuh tekanan itu kini berubah terasa ringan dan menyenangkan persis seperti liburan. Dan anehnya, ia sama sekali tidak merasa keberatan dengan perubahan itu.