Arga dan Larasati memulai perjalanan keliling dunia mereka setelah Arga pensiun. Mereka pergi ke Paris pertama kali, dengan kegembiraan yang tidak bisa disangkal, dengan keinginan untuk mengalami dunia bersama-sama, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Paris indah, dengan Menara Eiffel yang megah, dengan Louvre yang indah, dengan Seine yang romantis. Arga dan Larasati berjalan-jalan di Paris dengan tangan yang bergandengan, dengan kegembiraan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Kita akhirnya di Paris, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kegembiraan yang tidak bisa disangkal. 'Kita akhirnya di Paris, dan kita akhirnya bisa mengalami dunia bersama-sama.'
'Kita akhirnya di Paris, Arga. Kita akhirnya di Paris, dan kita akhirnya bisa mengalami dunia bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang kita kunjungi, Arga. Kita akan mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang kita kunjungi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra petualangnya, juga mitra hidupnya, juga orang yang akan selalu menemaninya untuk mengalami dunia bersama-sama.
'Aku tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersamamu di setiap tempat yang kita kunjungi, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersamamu di setiap tempat yang kita kunjungi, untuk menghabiskan sisa hidupku denganmu, untuk menghabiskan sisa hidupku dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.'
'Saya juga tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersama Anda di setiap tempat yang kita kunjungi, Arga. Saya juga tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersama Anda di setiap tempat yang kita kunjungi, untuk menghabiskan sisa hidup saya dengan Anda, untuk menghabiskan sisa hidup saya dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang kita kunjungi, Arga. Kita akan mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang kita kunjungi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga penuh dengan kegembiraan, juga penuh dengan keinginan untuk mengalami dunia bersama-sama, juga orang yang akan selalu menemaninya untuk petualangan yang tidak bisa disangkal.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang kita kunjungi, Arga. Kita akan mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang kita kunjungi. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kegembiraan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Mereka melanjutkan perjalanan keliling dunia mereka ke Italia, ke Yunani, ke Jepang, ke semua tempat yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka mengalami dunia bersama-sama di setiap tempat yang mereka kunjungi, dengan kegembiraan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa kehidupan mereka tidak hanya tentang bertahan. Kehidupan mereka juga tentang mengalami dunia bersama-sama, tentang menghabiskan sisa hidup mereka dengan petualangan yang tidak bisa disangkal, tentang menjadi keluarga yang bahagia selamanya.
Dan itu sudah cukup.