Arga pensiun setelah bertahun-tahun menjadi CEO Mahesa Group. Ia menyerahkan perusahaan kepada Aisha, dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kepercayaan yang tidak bisa diganggu gugat, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Aisha menerima perusahaan dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal juga, dengan kepercayaan yang tidak bisa diganggu gugat juga, dengan keinginan untuk menjadi CEO yang lebih baik dari Arga.
Arga dan Larasati menghadiri serah terima perusahaan itu dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aisha, aku menyerahkan Mahesa Group kepadamu karena aku tahu bahwa kau akan menjadi CEO yang lebih baik dariku,' kata Arga dengan suara yang serak, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Aisha, aku menyerahkan Mahesa Group kepadamu karena aku tahu bahwa kau akan menjadi CEO yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang akan menjadi CEO yang lebih baik dariku.'
'Aisha, aku juga menyerahkan Mahesa Group kepadamu karena aku juga tahu bahwa kau akan menjadi CEO yang lebih baik dari Papa,' kata Larasati dengan suara yang serak juga, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Aisha, aku juga menyerahkan Mahesa Group kepadamu karena aku juga tahu bahwa kau akan menjadi CEO yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang akan menjadi CEO yang lebih baik dari Papa.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kepercayaan yang tidak bisa diganggu gugat, dengan keinginan untuk menjadi CEO yang lebih baik dari Arga.
'Saya akan menjadi CEO yang baik untuk Mahesa Group, Papa, Mama. Saya akan menjadi CEO yang baik untuk Mahesa Group seperti Papa menjadi CEO yang baik untuk Mahesa Group.' Aisha menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi seperti Arga.
'Aisha, kau sudah menjadi wanita yang baik seperti Mama,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi CEO yang lebih baik lagi untuk Mahesa Group.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Aisha, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang akan menjadi CEO yang lebih baik dari Arga.
'Aisha, Papa tidak bisa lebih bangga lagi padamu,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Papa tidak bisa lebih bangga lagi dengan wanita yang sudah kau menjadi, dengan kehidupan yang sudah kau bangun untukmu sendiri, dengan keinginanmu untuk menjadi CEO yang lebih baik dari Papa.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Malam itu, ketika Aisha dan Radit sudah pulang dan Bima tertidur di kamarnya, Arga dan Larasati duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal.
'Aku akhirnya pensiun, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kelegaan yang tidak bisa disangkal. 'Aku akhirnya pensiun, dan aku akhirnya bisa menghabiskan sisa hidupku denganmu, dengan keluarga kita, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.'
'Anda akhirnya pensiun, Arga. Anda akhirnya pensiun, dan Anda akhirnya bisa menghabiskan sisa hidup Anda dengan saya, dengan keluarga kita, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan Anda, Arga. Saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan Anda, dengan keluarga kita, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu menemaninya untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan menghabiskan sisa hidup kita bersama-sama, Arga. Kita akan menghabiskan sisa hidup kita dengan keluarga kita, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kelegaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya CEO yang kuat. Ia juga pria yang akhirnya bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan Larasati, dengan keluarga mereka, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
Dan itu sudah cukup.