Di usia senja, Arga dan Larasati duduk di teras rumah mereka, bergandengan tangan, melihat cucu-cucu mereka bermain di taman yang indah. Mereka sudah tua sekarang, dengan rambut yang memutih, dengan kulit yang keriput, dengan mata yang masih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
Aisha dan Radit sudah memiliki tiga anak yang sudah besar, dan mereka sering datang ke rumah Arga dan Larasati dengan anak-anak mereka, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
Bima dan Sinta sudah memiliki dua anak yang sudah besar, dan mereka juga sering datang ke rumah Arga dan Larasati dengan anak-anak mereka, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal juga.
Arga dan Larasati menonton cucu-cucu mereka bermain dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Kita sudah melewati begitu banyak bersama-sama, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal. 'Kita sudah melewati begitu banyak bersama-sama, dari pernikahan kontrak yang dingin, dari serangan Nadia, dari penculikan Aisha, dari semua kebohongan dan kebencian, dan kita masih bersama-sama sampai sekarang.'
'Kita sudah melewati begitu banyak bersama-sama, Arga. Kita sudah melewati begitu banyak bersama-sama, dari pernikahan kontrak yang dingin, dari serangan Nadia, dari penculikan Aisha, dari semua kebohongan dan kebencian, dan kita masih bersama-sama sampai sekarang.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak menyesal dengan apa pun yang sudah terjadi. Saya tidak menyesal dengan perjalanan kita, dengan rasa sakit kita, dengan kebahagiaan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa mereka sudah melewati begitu banyak bersama-sama, dan mereka masih bersama-sama, masih mencintai satu sama lain, masih menjadi keluarga yang utuh.
'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa cinta yang kau berikan padaku, tanpa kelembutan yang kau berikan padaku, tanpa kebahagiaan yang kau berikan padaku.'
'Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Anda, Arga. Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa cinta yang Anda berikan pada saya, tanpa kelembutan yang Anda berikan pada saya, tanpa kebahagiaan yang Anda berikan pada saya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Dan saya tidak ingin membayangkan kehidupan tanpa Anda.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, suaranya bergetar. 'Saya juga mencintaimu dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Mereka tidak berhenti berciuman untuk waktu yang lama. Mereka hanya duduk di teras rumah mereka, bergandengan tangan, melihat cucu-cucu mereka bermain di taman yang indah, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Aisha dan Radit datang ke teras dengan anak-anak mereka, dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
'Papa, Mama, kami datang untuk menghabiskan waktu dengan kalian,' kata Aisha dengan suara yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
'Papa, Mama, kami juga datang untuk menghabiskan waktu dengan kalian,' kata Bima dengan suara yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan juga.
Arga dan Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Kami juga senang kalian datang untuk menghabiskan waktu dengan kami, sayang,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kami juga senang kalian datang untuk menghabiskan waktu dengan kami.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan cucu-cucu mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga dan Larasati merasa bahwa perjalanan mereka sudah selesai. Bahwa mereka sudah sampai di tujuan. Bahwa mereka sudah menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata selamanya.
Mereka sudah menjadi keluarga yang seharusnya. Dan itu sudah cukup.
TAMAT.