Arga dan Larasati merayakan dua puluh tahun pernikahan mereka dengan pesta besar bersama keluarga dan teman-teman. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak mereka menikah dengan kontrak, dua puluh tahun sudah berlalu sejak mereka jatuh cinta tanpa mereka sadari, dua puluh tahun sudah berlalu sejak mereka menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata.
Pesta itu besar, dengan semua keluarga, teman, dan orang-orang yang mereka sayangi. Aisha dan Radit datang dengan anak mereka yang baru lahir, Bima datang dengan Sinta, ibu Arga datang dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Arga dan Larasati berdiri di tengah ruang keluarga dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk berbagi kebahagiaan mereka dengan semua orang yang mereka sayangi.
'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak kami menikah dengan kontrak,' kata Arga dengan suara yang serak, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak aku menawarkan Larasati pernikahan kontrak untuk menghukum Nadia, dan dua puluh tahun sudah berlalu sejak aku jatuh cinta pada Larasati tanpa aku sadari.'
'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibu saya,' kata Larasati dengan suara yang serak juga, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibu saya, dan dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya jatuh cinta pada Arga tanpa saya sadari.'
Semua tamu bertepuk tangan dengan keras, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, dengan keinginan untuk berbagi kebahagiaan Arga dan Larasati yang tidak bisa dijelaskan.
Aisha dan Radit berdiri di depan Arga dan Larasati dengan anak mereka yang baru lahir di pelukan Aisha, dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
'Papa, Mama, kami ingin mengucapkan selamat untuk dua puluh tahun pernikahan kalian,' kata Aisha dengan suara yang serak, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kami ingin mengucapkan selamat untuk dua puluh tahun pernikahan kalian yang penuh dengan cinta, yang penuh dengan kebahagiaan, yang penuh dengan kekuatan.'
'Papa, Mama, kami juga ingin mengucapkan selamat untuk dua puluh tahun pernikahan kalian,' kata Bima dengan suara yang serak juga, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kami juga ingin mengucapkan selamat untuk dua puluh tahun pernikahan kalian yang penuh dengan cinta, yang penuh dengan kebahagiaan, yang penuh dengan kekuatan.'
Arga dan Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap Aisha dan Bima dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aisha, Bima, kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah menjadi anak-anak yang luar biasa untuk kami,' kata Arga akhirnya, suaranya serak. 'Kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah mencintai kami dengan sepenuh hati, karena sudah membuat kami bangga setiap hari, karena sudah menjadi keluarga yang utuh untuk kami.'
'Aisha, Bima, kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah menjadi anak-anak yang luar biasa untuk kami,' kata Larasati akhirnya, suaranya serak juga. 'Kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah mencintai kami dengan sepenuh hati, karena sudah membuat kami bangga setiap hari, karena sudah menjadi keluarga yang utuh untuk kami.'
Aisha dan Bima tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya memeluk satu sama lain dengan erat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Malam itu, ketika semua tamu sudah pulang dan Aisha, Radit, Bima, dan Sinta tertidur di kamar mereka masing-masing, Arga dan Larasati duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak kita menikah dengan kontrak, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak kita menikah dengan kontrak, dan dua puluh tahun sudah berlalu sejak kita jatuh cinta tanpa kita sadari.'
'Dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibu saya, Arga. Dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibu saya, dan dua puluh tahun sudah berlalu sejak saya jatuh cinta pada Anda tanpa saya sadari.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak menyesal dengan apa pun yang sudah terjadi. Saya tidak menyesal dengan perjalanan kita, dengan rasa sakit kita, dengan kebahagiaan kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa cinta yang kau berikan padaku, tanpa kelembutan yang kau berikan padaku, tanpa kebahagiaan yang kau berikan padaku.'
'Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Anda, Arga. Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa cinta yang Anda berikan pada saya, tanpa kelembutan yang Anda berikan pada saya, tanpa kebahagiaan yang Anda berikan pada saya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak ingin membayangkan kehidupan tanpa Anda.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, suaranya bergetar. 'Saya juga mencintaimu dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah suami istri yang sudah melewati dua puluh tahun bersama-sama, dengan cinta yang nyata, dengan kebahagiaan yang nyata, dengan kehidupan yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang utuh selama dua puluh tahun. Dan itu sudah cukup.