Seminggu setelah makan malam dengan investor, Larasati mulai terbiasa dengan kehidupan di mansion Arga. Ia punya rutinitas: bangun pagi, makan pagi sendirian (Arga biasanya sudah berangkat lebih awal), pergi ke rumah sakit untuk menemani ibunya, kembali ke mansion, membaca atau berkebun di taman belakang, makan malam sendirian (Arga sering pulang larut), lalu tidur.
Arga jarang ada di rumah. Ia bekerja dari pagi sampai malam, kadang bahkan tidak pulang. Larasati tidak keberatan. Ia menyukai keheningan, menyukai ruang yang besar, menyukai kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura.
Tapi hari itu, ketika Larasati sedang berjalan-jalan di lorong lantai dua, ia melihat sesuatu yang tidak biasa: sebuah pintu di ujung lorong yang selalu tertutup. Bukan pintu kamar biasa. Pintu itu berbeda — lebih tua, dengan pegangan kuningan yang sudah berkarat, dan selalu tertutup rapat.
Larasati tidak pernah melihat Bu Tini atau siapa pun membuka pintu itu. Ia penasaran, tapi ia tidak bertanya. Ia tidak ingin terlihat seperti orang yang mencampuri urusan rumah tangga.
Tapi hari itu, entah kenapa, ia berhenti di depan pintu itu. Ia menatapnya, mencoba mendengar apakah ada suara dari dalam. Tidak ada. Hanya keheningan.
Ia mencoba memutar pegangan pintu. Terkunci.
'Nona tidak boleh masuk ke kamar itu.' Suara Bu Tini dari belakang membuat Larasati melompat.
Larasati berbalik, wajahnya memerah karena ketahuan. 'Maaf, Bu Tini. Saya hanya penasaran.'
Bu Tini berjalan ke arahnya dengan tatapan yang hati-hati. 'Kamar itu... kamar itu tidak boleh dibuka oleh siapa pun kecuali Pak Arga.'
'Kenapa?'
Bu Tini tidak menjawab untuk waktu yang lama. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, ia berkata, 'Kamar itu menyimpan masa lalu Pak Arga. Masa lalu yang tidak ingin beliau lihat lagi.'
Larasati tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya mengangguk dan berjalan pergi. Tapi keingintahuannya tidak hilang. Malam itu, ketika ia tidak bisa tidur, ia turun ke dapur untuk mengambil air, dan ketika melewati lorong lantai dua, ia melihat pintu kamar itu sedikit terbuka.
Hanya sedikit. Hanya celah kecil. Tapi cahaya dari dalam kamar keluar, jatuh di lantai lorong.
Larasati berhenti. Ia tahu ia tidak seharusnya. Ia tahu ini bukan urusannya. Tapi ia tidak bisa menahan diri. Ia berjalan pelan ke arah pintu, dan melihat ke dalam.
Kamar itu bukan kamar tidur. Itu adalah kamar kerja, atau mungkin kamar penyimpanan. Ada rak-rak di dinding, penuh dengan kotak-kotak dan album foto. Ada meja di tengah dengan lampu yang menyala redup. Dan di atas meja itu, ada foto-foto yang tersebar.
Larasati melangkah masuk, tidak bisa menahan diri. Ia berjalan ke meja dan melihat foto-foto itu.
Foto-foto Arga dan Nadia.
Foto mereka saat masih muda, saat masih bahagia. Foto mereka di pantai, di pesta, di pernikahan mereka. Foto Arga yang tersenyum — benar-benar tersenyum, dengan mata yang berbinar — sesuatu yang tidak pernah Larasati lihat sejak ia mengenal Arga.
Larasati mengambil satu foto: Arga dan Nadia di hari pernikahan mereka. Arga mengenakan jas hitam, Nadia mengenakan gaun putih, dan mereka berciuman di depan altar dengan seluruh dunia menonton. Mereka terlihat sangat bahagia. Sangat jatuh cinta.
Larasati merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan iri. Bukan cemburu. Tapi kesedihan. Kesedihan untuk pria yang dulu bisa tersenyum seperti itu, dan sekarang tidak bisa lagi.
'Kau tidak seharusnya di sini.'
Suara Arga dari belakang membuat Larasati hampir menjatuhkan foto itu. Ia berbalik, dan Arga berdiri di ambang pintu, masih dengan pakaian kerja, wajahnya gelap.
'Maaf,' kata Larasati, meletakkan foto itu kembali dengan tangan gemetar. 'Saya tidak sengaja. Pintunya terbuka, dan saya—'
'Keluar.' Suara Arga tidak keras, tapi dingin.
Larasati berjalan ke arah pintu, tapi berhenti ketika melewati Arga. Ia menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang rapuh di mata Arga.
'Anda masih mencintainya,' kata Larasati pelan. Bukan pertanyaan.
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap Larasati dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
'Saya tidak tahu apa yang terjadi antara Anda dan Nadia,' kata Larasati, suaranya pelan. 'Tapi saya tahu bahwa Anda tidak seharusnya menyimpan semua ini di kamar yang terkunci. Itu tidak sehat.'
Arga menatapnya, dan untuk satu detik, Larasati berpikir Arga akan marah. Tapi Arga hanya berkata, suaranya hancur, 'Keluar, Larasati. Tolong.'
Larasati mengangguk dan keluar dari kamar itu. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia hanya berjalan ke kamarnya, menutup pintu, dan duduk di tempat tidur dengan jantung yang berdebar keras.
Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tidak tahu kenapa ia berkata seperti itu pada Arga. Tapi ia tahu satu hal: Arga Mahesa tidak sedingin yang ia kira. Arga Mahesa masih terluka, masih hancur, masih belum pulih.
Dan entah kenapa, Larasati ingin membantunya pulih.
Malam itu, Larasati tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan memikirkan foto-foto itu. Foto Arga yang tersenyum. Foto Arga yang bahagia. Foto Arga yang masih mencintai Nadia.
Ia tidak tahu kenapa itu membuatnya sedih. Ia tidak tahu kenapa ia peduli. Tapi ia peduli. Dan itu membuatnya takut.