Makan malam dengan investor berlangsung di restoran mewah di pusat kota. Larasati mengenakan dress hitam yang elegan, rambutnya digelung rapi, dan berdiri di samping Arga dengan senyum yang sopan. Ia sudah mempersiapkan diri sepanjang hari dengan Bu Sari: siapa yang akan datang, apa yang harus dikatakan, bagaimana bersikap.
Investor-investor itu adalah pria dan wanita paruh baya dengan jas mahal dan tatapan menilai. Mereka menatap Larasati dengan rasa ingin tahu, mencoba mencari tahu siapa wanita yang berhasil mendapatkan Arga Mahesa setelah perceraian yang dramatis.
'Jadi ini istri baru Anda, Pak Arga,' kata salah satu investor, Pak Hendra, dengan senyum yang tidak sampai ke mata. 'Sangat muda dan cantik.'
Arga meletakkan tangannya di pinggang Larasati, gestur yang protektif tapi tidak intim. 'Larasati, ini Pak Hendra, salah satu investor terbesar Mahesa Group.'
Larasati mengulurkan tangannya. 'Senang bertemu dengan Anda, Pak Hendra.'
Pak Hendra menjabat tangannya, menatapnya dengan tatapan yang membuat Larasati tidak nyaman. 'Anda pasti sangat istimewa kalau bisa membuat Arga move on begitu cepat dari perceraiannya.'
Larasati merasakan pipinya memanas, tapi ia menahan diri. 'Saya tidak istimewa, Pak. Saya hanya orang yang beruntung.'
Makan malam berlangsung dengan percakapan tentang bisnis, tentang proyek-proyek Mahesa Group, tentang rencana ekspansi. Larasati tidak banyak bicara, hanya mendengarkan dan tersenyum pada saat yang tepat. Arga sesekali meliriknya, seperti memastikan ia baik-baik saja.
Semuanya berjalan lancar sampai akhir makan malam, ketika mereka berdiri untuk pergi, dan Larasati melihat sosok yang tidak ia inginkan melihatnya di sini.
Nadia.
Nadia berdiri di pintu masuk restoran dengan dress merah yang mencolok, rambutnya tergerai sempurna, dan di sampingnya, Dimas Prasetyo dengan jas abu-abu. Mereka berjalan masuk dengan percaya diri, dan ketika Nadia melihat Arga dan Larasati, wajahnya berubah.
Bukan terkejut. Bukan sedih. Tapi marah.
Nadia berjalan langsung ke arah mereka, langkahnya cepat, dan berhenti di depan Arga dan Larasati. Matanya tidak melihat Arga. Matanya hanya melihat Larasati.
'Jadi ini dia,' kata Nadia, suaranya cukup keras untuk didengar meja-meja di sekitar mereka. 'Istri baru yang misterius. Adik tiriku sendiri.'
Arga langsung bergerak, berdiri di antara Nadia dan Larasati. 'Nadia, pergi.'
Nadia tidak menghiraukan Arga. Matanya menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. 'Kau benar-benar tidak tahu malu, Larasati. Kau merebut suami kakakmu sendiri. Kau pikir kau siapa?'
Larasati merasakan darahnya naik ke wajahnya, tapi ia menahan diri. 'Saya tidak merebut siapa-siapa, Nadia. Arga dan Anda sudah bercerai sebelum kami menikah.'
'Oh, jadi sekarang kau membela diri?' Nadia tertawa, suara tawa yang pahit. 'Kau selalu iri padaku, Larasati. Selalu. Sejak kita kecil, kau selalu ingin apa yang aku punya. Dan sekarang kau mendapatkan suamiku. Selamat. Kau menang.'
Beberapa orang di meja sekitar mulai memperhatikan. Larasati merasakan malu yang mendalam, tapi ia menahan diri untuk tidak menunjukkannya.
'Nadia, aku tidak ingin bertengkar denganmu di sini,' kata Larasati, suaranya tenang meskipun hatinya berdebar keras. 'Ini bukan tempatnya.'
'Kau tidak ingin bertengkar? Tapi kau tidak keberatan menikahi mantan suamiku?' Nadia mencondongkan tubuh ke depan, suaranya lebih pelan tapi lebih tajam. 'Kau tahu apa yang orang-orang katakan tentangmu sekarang? Mereka bilang kau pelacur yang menjual diri untuk uang. Mereka bilang kau hanya mau harta Arga. Dan kau tahu apa? Mereka benar.'
Arga bergerak maju, suaranya dingin dan berbahaya. 'Nadia, aku tidak akan mengulanginya. Pergi. Sekarang. Atau aku akan memanggil keamanan dan memastikan kau tidak bisa masuk ke restoran ini lagi.'
Nadia menatap Arga, dan untuk satu detik, Larasati melihat sesuatu yang lain di matanya: rasa sakit. Tapi itu hilang dengan cepat, digantikan oleh kebencian.
'Kau akan menyesal ini, Arga,' kata Nadia. 'Kau pikir kau sudah menang dengan menikahi adikku? Kau pikir kau sudah menghancurkanku? Kau salah. Aku baru mulai.'
Ia berbalik, mengambil lengan Dimas, dan berjalan keluar dari restoran dengan langkah yang anggun, seperti tidak terjadi apa-apa.
Keheningan yang tersisa terasa berat. Para investor tidak tahu harus berkata apa. Arga menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat kekhawatiran di matanya.
'Kau tidak apa-apa?' tanya Arga pelan.
Larasati mengangguk, meskipun ia tidak yakin. 'Saya tidak apa-apa.'
Arga menatapnya selama beberapa detik, lalu berbalik ke para investor. 'Maaf atas gangguan itu. Makan malam ini selesai. Bu Sari akan mengatur pertemuan berikutnya.'
Mereka keluar dari restoran, dan Arga membawa Larasati ke mobil dengan tangan protektif di pinggangnya. Di dalam mobil, keheningan terasa lebih berat dari sebelumnya.
Akhirnya, Larasati berbicara, suaranya pelan. 'Maaf.'
Arga menatapnya, alisnya terangkat. 'Kenapa kau minta maaf?'
'Karena saya membawa masalah ini. Karena Nadia adalah kakak saya. Karena—'
'Berhenti.' Suara Arga tidak keras, tapi tegas. 'Kau tidak membawa masalah apa-apa. Nadia yang membawa masalah ini ke dalam hidup kita. Kau tidak bersalah.'
Larasati menatapnya, terkejut dengan kata-kata itu. 'Tapi—'
'Tidak ada tapi.' Arga menatap lurus ke depan. 'Kau menunjukkan kekuatan yang luar biasa tadi. Kau tidak terpancing. Kau tidak membalas. Kau tetap tegar. Aku... aku menghargai itu.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang bukan dingin di matanya: penghargaan, dan mungkin, kekaguman.
Mereka tidak berbicara lagi sepanjang perjalanan pulang. Tapi keheningan itu tidak lagi terasa berat. Keheningan itu terasa seperti sesuatu yang mereka bagi bersama, sesuatu yang menghubungkan mereka dengan cara yang tidak mereka mengerti.