Keesokan malamnya, Larasati tidak berharap Arga akan pulang untuk makan malam. Ia sudah meminta Bu Tini menyiapkan makanan untuk satu orang, seperti biasa. Tapi ketika ia turun ke ruang makan, Arga sudah duduk di meja, masih dengan kemeja kerja, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
'Saya pikir Anda tidak pulang,' kata Larasati, berhenti di ambang pintu.
'Aku pulang lebih awal hari ini.' Arga tidak tersenyum, tapi suaranya tidak sedingin kemarin. 'Duduk. Makan bersama.'
Larasati ragu, tapi ia duduk di ujung meja, jauh dari Arga seperti biasa. Bu Tini melayani mereka dengan makanan, dan mereka makan dalam keheningan untuk beberapa menit.
Akhirnya, Arga berbicara, suaranya pelan. 'Maaf tentang kemarin. Aku tidak seharusnya membentakmu.'
Larasati mengangkat kepalanya, terkejut. 'Tidak apa-apa. Saya yang salah masuk ke kamar itu.'
'Tidak. Kau tidak salah. Aku yang salah karena mengunci semua itu di dalam.' Arga menatap piringnya, tidak melihat ke arah Larasati. 'Aku sudah lama tidak berbicara tentang itu. Tentang Nadia. Tentang masa lalu.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendengarkan.
Arga melanjutkan, suaranya lebih pelan, lebih rapuh. 'Ayahku berselingkuh ketika aku berumur sepuluh tahun. Ibuku mengetahuinya, dan dia... dia tidak pernah pulih. Dia menjadi depresi, tidak mau makan, tidak mau keluar kamar. Aku melihatnya hancur sedikit demi sedikit, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.'
Larasati merasakan dadanya sesak. 'Arga—'
'Ayahku tidak pernah minta maaf. Dia hanya pergi, meninggalkan kami, dan memulai keluarga baru dengan wanita lain. Ibuku meninggal dua tahun kemudian, karena serangan jantung. Dokter bilang karena stres. Karena patah hati.' Arga akhirnya menatap Larasati, dan ada sesuatu yang dalam dan gelap di matanya. 'Aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menjadi seperti ayahku. Aku tidak akan pernah mengkhianati orang yang aku cintai. Dan aku tidak akan pernah membiarkan seseorang menghancurkanku seperti ayahku menghancurkan ibuku.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat pria di balik CEO yang dingin itu. Pria yang terluka. Pria yang hancur. Pria yang hanya ingin melindungi dirinya dari rasa sakit yang sama.
'Itu sebabnya aku menikahi Nadia,' lanjut Arga, suaranya lebih pelan sekarang. 'Aku pikir aku bisa membangun sesuatu yang berbeda. Aku pikir aku bisa membuktikan bahwa pernikahan bisa berhasil, bahwa cinta bisa bertahan. Tapi aku salah. Aku hanya mengulangi sejarah.'
'Anda tidak mengulangi sejarah,' kata Larasati pelan. 'Anda tidak mengkhianati. Nadia yang mengkhianati. Anda tidak seperti ayah Anda.'
Arga menatapnya, dan untuk satu detik, Larasati melihat sesuatu yang lembut di matanya. 'Terima kasih.'
Mereka tidak berbicara untuk beberapa menit, hanya makan dalam keheningan yang tidak lagi canggung. Keheningan yang terasa seperti kebersamaan.
Akhirnya, Larasati berbicara, suaranya pelan. 'Ibu saya juga pernah dikhianati. Oleh ayah saya. Dia meninggalkan kami untuk wanita lain ketika saya berumur delapan tahun. Itu sebabnya saya mengerti.'
Arga menatapnya, terkejut. 'Aku tidak tahu.'
'Itu sebabnya saya tidak pernah dekat dengan Nadia. Karena dia adalah anak dari wanita yang merebut ayah saya dari ibu saya.' Larasati menatap piringnya. 'Tapi saya tidak membencinya. Saya hanya... saya hanya tidak bisa dekat dengannya.'
Arga mengangguk pelan. 'Aku mengerti.'
Mereka melanjutkan makan dalam keheningan, tapi kali ini keheningan itu terasa berbeda. Keheningan itu terasa seperti jembatan yang mulai terbentuk di antara mereka, jembatan yang dibangun dari pengalaman yang sama, dari rasa sakit yang sama.
Setelah makan, Arga berdiri dan berjalan ke arah jendela besar di ruang makan. Ia berdiri di sana, menatap keluar ke taman yang gelap, dan berkata tanpa berbalik, 'Kau tidak seperti yang aku kira, Larasati. Kau lebih kuat dari yang aku kira.'
Larasati berdiri juga, berjalan ke arahnya, dan berhenti di sampingnya. 'Anda juga tidak seperti yang saya kira, Arga. Anda lebih baik dari yang saya kira.'
Arga menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum. Bukan senyum yang besar. Bukan senyum yang lebar. Tapi senyum yang kecil, yang rapuh, yang nyata.
'Terima kasih,' katanya pelan.
Larasati tersenyum kembali, dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Arga, ia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ada sesuatu yang baik yang bisa tumbuh dari kontrak ini. Sesuatu yang bukan dendam, bukan kebencian, tapi sesuatu yang lebih dalam: pengertian.
Mereka berdiri di sana bersama, di depan jendela, menatap keluar ke malam yang gelap, dan tidak berkata apa-apa lagi. Tapi keheningan itu tidak lagi terasa seperti kekosongan. Keheningan itu terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.