Bima mulai berkencan dengan seorang gadis di sekolah musiknya yang ia sukai. Gadis itu bernama Sinta, dan ia adalah penyanyi muda yang berbakat, yang juga belajar di sekolah musik yang sama dengan Bima.
Arga dan Larasati memberikan nasihat dengan bijak untuk Bima tentang berkencan. Mereka tidak melarang Bima untuk berkencan, tidak memaksanya untuk tidak berkencan, hanya memberikan nasihat dengan bijak tentang bagaimana cara berkencan dengan benar, bagaimana cara mencintai dengan benar, bagaimana cara menjadi pria yang baik untuk Sinta.
Suatu sore, ketika Bima memberitahu mereka bahwa ia menyukai Sinta dan ingin berkencan dengannya, Arga dan Larasati duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan Bima, dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebijaksanaan yang tidak bisa disangkal.
'Bima, kau sudah tumbuh menjadi pria yang baik,' kata Arga pelan, menatap Bima dengan tatapan yang penuh dengan kebijaksanaan yang tidak bisa disangkal. 'Bima, kau sudah tumbuh menjadi pria yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi pria yang baik untuk Sinta.'
'Bima, kau juga akan menjadi pria yang baik untuk Sinta,' kata Larasati pelan, menatap Bima dengan tatapan yang lembut. 'Bima, kau juga akan menjadi pria yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi pria yang baik untuk Sinta.'
Bima tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi pria yang baik untuk Sinta, dengan keinginan untuk mencintai Sinta dengan benar, dengan keinginan untuk menjadi seperti Arga.
'Saya akan menjadi pria yang baik untuk Sinta, Papa, Mama. Saya akan menjadi pria yang baik untuk Sinta seperti Papa menjadi pria yang baik untuk Mama.' Bima menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi seperti Arga.
'Bima, kau sudah menjadi pria yang baik seperti Papa,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi pria yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi pria yang lebih baik lagi untuk Sinta.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Bima, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Bima sudah tumbuh menjadi pria yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang akan menjadi pria yang baik untuk Sinta.
'Bima, Papa tidak bisa lebih bangga lagi padamu,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Papa tidak bisa lebih bangga lagi dengan pria yang sudah kau menjadi, dengan kehidupan yang sudah kau bangun untukmu sendiri, dengan keinginanmu untuk menjadi pria yang baik untuk Sinta.'
Bima tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebijaksanaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Malam itu, ketika Aisha dan Radit sudah pulang dan Bima tertidur di kamarnya, Arga dan Larasiti duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebijaksanaan.
'Bima sudah tumbuh menjadi pria yang luar biasa, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebijaksanaan. 'Bima sudah tumbuh menjadi pria yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang akan menjadi pria yang baik untuk Sinta.'
'Bima sudah tumbuh menjadi pria yang luar biasa, Arga. Bima sudah tumbuh menjadi pria yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang akan menjadi pria yang baik untuk Sinta.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena kita bersama-sama. Itu semua karena kita menjadi orang tua yang baik untuk Bima bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima bersama-sama. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebijaksanaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya ayah yang protektif. Ia juga ayah yang bangga dengan Bima yang sudah tumbuh menjadi pria yang luar biasa yang akan menjadi pria yang baik untuk Sinta.
Dan itu sudah cukup.