Aisha menikah dengan pria pilihannya: seorang sastra muda yang cerdas, yang baik, yang mencintai Aisha dengan sepenuh hati. Pria itu bernama Radit, dan ia adalah penulis muda yang sudah menerbitkan beberapa buku puisi yang indah.
Arga dan Larasati menyetujui pernikahan Aisha dengan Radit dengan bahagia. Mereka tidak bisa lebih bangga lagi dengan Aisha yang sudah menemukan pria yang mencintainya dengan sepenuh hati, dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Pernikahan Aisha berlangsung di gereja besar di pusat kota, dengan semua keluarga, teman, dan orang-orang yang mereka sayangi. Aisha mengenakan gaun pengantin putih yang elegan, rambutnya digelung rapi dengan bunga-bunga kecil, dan berdiri di depan altar dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
Radit berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang rapi, dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Arga mengantar Aisha ke altar dengan tangan yang gemetar, dengan air mata yang mengalir di wajahnya, dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal.
'Aisha, kau sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa,' bisik Arga di telinga Aisha ketika mereka berjalan ke altar. 'Aisha, kau sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi istri yang luar biasa untuk Radit.'
'Aisha, kau juga akan menjadi suami yang luar biasa untuk Radit,' bisik Larasati di telinga Aisha juga, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Aisha, kau juga akan menjadi suami yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi istri yang luar biasa untuk Radit.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasiti dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
'Saya akan menjadi istri yang baik untuk Radit, Papa, Mama. Saya akan menjadi istri yang baik untuk Radit seperti Mama menjadi istri yang baik untuk Papa.' Aisha menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi seperti Larasati.
'Aisha, kau sudah menjadi wanita yang baik seperti Mama,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi istri yang lebih baik lagi untuk Radit.'
Arga menyerahkan Aisha kepada Radit dengan tangan yang gemetar, dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aku menyerahkan putriku kepadamu, Radit,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Aku menyerahkan putriku kepadamu karena aku tahu bahwa kau akan mencintainya dengan sepenuh hati, karena aku tahu bahwa kau akan menjaganya dengan sepenuh hati, karena aku tahu bahwa kau akan membuatnya bahagia dengan sepenuh hati.'
Radit menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal. 'Saya akan mencintainya dengan sepenuh hati, Pak. Saya akan menjaganya dengan sepenuh hati. Saya akan membuatnya bahagia dengan sepenuh hati.'
Pernikahan Aisha dan Radit berlangsung dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan, dengan kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.
Arga dan Larasati menonton Aisha dan Radit menikah dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aisha sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Aisha dan Radit dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan. 'Aisha sudah menemukan kebahagiaannya sendiri dengan Radit, dan itu semua karenamu.'
'Aisha sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, Arga. Aisha sudah menemukan kebahagiaannya sendiri dengan Radit, dan itu semua karena kita bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita sudah menjadi orang tua yang baik untuk Aisha bersama-sama, Arga. Kita sudah menjadi orang tua yang baik untuk Aisha bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima bersama-sama. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya ayah yang protektif. Ia juga ayah yang bangga dengan Aisha yang sudah menemukan kebahagiaannya sendiri dengan Radit.
Dan itu sudah cukup.