Larasati dan Arga merencanakan perjalanan keliling dunia setelah Arga pensiun. Mereka ingin melihat tempat-tempat yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, mengalami hal-hal yang tidak pernah mereka alami sebelumnya, menghabiskan sisa hidup mereka dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.
Mereka merencanakan perjalanan itu dengan penuh dengan kegembiraan, dengan penuh dengan keinginan untuk mengalami dunia bersama-sama, dengan penuh dengan keinginan untuk menghabiskan sisa hidup mereka dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.
Suatu malam, ketika mereka duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan peta dunia di meja di antara mereka, dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kegembiraan.
'Kita akan pergi ke Paris pertama kali,' kata Arga pelan, menunjuk Paris di peta dengan tatapan yang penuh dengan kegembiraan. 'Kita akan pergi ke Paris dan melihat Menara Eiffel, melihat Louvre, melihat Seine. Kita akan pergi ke Paris dan menghabiskan waktu bersama di kota cinta.'
'Kita akan pergi ke Paris pertama kali, Arga. Kita akan pergi ke Paris dan melihat Menara Eiffel, melihat Louvre, melihat Seine. Kita akan pergi ke Paris dan menghabiskan waktu bersama di kota cinta.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut, dengan kegembiraan yang tidak bisa disangkal juga. 'Dan kemudian kita akan pergi ke Italia, ke Yunani, ke Jepang, ke semua tempat yang tidak pernah kita lihat sebelumnya.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra petualangnya, juga mitra hidupnya, juga orang yang akan selalu menemaninya untuk mengalami dunia bersama-sama.
'Aku tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersamamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersamamu, untuk menghabiskan sisa hidupku denganmu, untuk menghabiskan sisa hidupku dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.'
'Saya juga tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersama Anda, Arga. Saya juga tidak bisa menunggu untuk mengalami dunia bersama Anda, untuk menghabiskan sisa hidup saya dengan Anda, untuk menghabiskan sisa hidup saya dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan mengalami dunia bersama-sama, Arga. Kita akan mengalami dunia bersama-sama setelah Anda pensiun.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga penuh dengan kegembiraan, juga penuh dengan keinginan untuk mengalami dunia bersama-sama, juga orang yang akan selalu menemaninya untuk petualangan yang tidak bisa disangkal.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan mengalami dunia bersama-sama setelah Anda pensiun, Arga. Kita akan mengalami dunia bersama-sama setelah Anda pensiun. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kegembiraan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Mereka merencanakan perjalanan keliling dunia mereka dengan penuh dengan kegembiraan, dengan penuh dengan keinginan untuk mengalami dunia bersama-sama, dengan penuh dengan keinginan untuk menghabiskan sisa hidup mereka dengan petualangan yang tidak bisa disangkal.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa kehidupan mereka tidak hanya tentang bertahan. Kehidupan mereka juga tentang mengalami dunia bersama-sama, tentang menghabiskan sisa hidup mereka dengan petualangan yang tidak bisa disangkal, tentang menjadi keluarga yang bahagia selamanya.
Dan itu sudah cukup.