Arga dan Larasati merayakan kesuksesan anak-anak mereka dengan pesta keluarga di rumah baru mereka, dengan Aisha dan Bima, dengan ibu Arga yang sudah sehat, dengan semua orang yang mereka sayangi.
Pesta itu sederhana tapi bermakna, dengan makan malam yang Arga masak sendiri, dengan musik yang Bima mainkan dengan gitarnya, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
Aisha dan Bima berdiri di tengah ruang keluarga dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat orang tua mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
'Kami ingin mengucapkan terima kasih untuk Papa dan Mama karena sudah menjadi orang tua yang luar biasa untuk kami,' kata Aisha dengan suara yang serak, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Kami ingin mengucapkan terima kasih untuk Papa dan Mama karena sudah mencintai kami dengan sepenuh hati, karena sudah mendukung kami untuk menjadi diri kami sendiri, karena sudah menjadi keluarga yang utuh untuk kami.'
'Kami ingin mengucapkan terima kasih untuk Papa dan Mama karena sudah menjadi orang tua yang luar biasa untuk kami,' kata Bima dengan suara yang serak juga, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kami ingin mengucapkan terima kasih untuk Papa dan Mama karena sudah mencintai kami dengan sepenuh hati, karena sudah mendukung kami untuk menjadi diri kami sendiri, karena sudah menjadi keluarga yang utuh untuk kami.'
Arga dan Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap Aisha dan Bima dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aisha, Bima, kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah menjadi anak-anak yang luar biasa untuk kami,' kata Arga akhirnya, suaranya serak. 'Kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah mencintai kami dengan sepenuh hati, karena sudah membuat kami bangga setiap hari, karena sudah menjadi keluarga yang utuh untuk kami.'
'Aisha, Bima, kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah menjadi anak-anak yang luar biasa untuk kami,' kata Larasati akhirnya, suaranya serak juga. 'Kami juga ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian berdua karena sudah mencintai kami dengan sepenuh hati, karena sudah membuat kami bangga setiap hari, karena sudah menjadi keluarga yang utuh untuk kami.'
Aisha dan Bima tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya memeluk satu sama lain dengan erat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Ibu Arga menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal. Ia tidak bisa lebih bahagia lagi melihat keluarga mereka utuh, melihat anak-anak mereka bahagia, melihat Arga dan Larasati mencintai satu sama lain dengan sepenuh hati.
'Aku tidak bisa lebih bahagia lagi melihat kalian seperti ini,' kata ibu Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Aku tidak bisa lebih bahagia lagi melihat keluarga kalian utuh seperti ini, dengan anak-anak kalian bahagia seperti ini, dengan kalian mencintai satu sama lain dengan sepenuh hati seperti ini.'
Arga dan Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal. 'Kami juga tidak bisa lebih bahagia lagi memiliki Anda dalam keluarga kami, Bu. Kami juga tidak bisa lebih bahagia lagi memiliki Anda dalam keluarga kami.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Malam itu, ketika Aisha dan Bima tertidur di kamar mereka masing-masing dan ibu Arga sudah pulang, Arga dan Larasati duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Kita sudah menjadi keluarga yang utuh, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Kita sudah menjadi keluarga yang utuh dengan anak-anak yang luar biasa, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan.'
'Kita sudah menjadi keluarga yang utuh, Arga. Kita sudah menjadi keluarga yang utuh dengan anak-anak yang luar biasa, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena kita bersama-sama. Itu semua karena kita tidak pernah menyerah pada satu sama lain.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi keluarga yang utuh seperti ini, Arga. Kita akan terus menjadi keluarga yang bahagia seperti ini. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah suami istri yang sudah menjadi keluarga yang utuh dengan anak-anak yang luar biasa, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, dengan cinta yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka sudah menjadi keluarga yang seharusnya. Dan itu sudah cukup.