Bima merilis lagu pertamanya di platform musik online, dan lagu itu didedikasikan untuk orang tuanya: untuk Arga dan Larasati yang sudah mendukungnya untuk menjadi musisi yang luar biasa.
Lagu itu berjudul "Untuk Papa dan Mama", dan lagu itu menceritakan tentang cinta orang tua yang tidak pernah menyerah, tentang kekuatan keluarga yang tidak pernah hancur, tentang kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.
Arga dan Larasati mendengarkan lagu itu di malam hari, ketika mereka duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal.
'Lagu itu indah, Larasati,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Lagu itu indah, dan itu untuk kita.'
'Lagu itu indah, Arga. Lagu itu indah, dan itu untuk kita.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Dan itu semua karena kita bersama-sama. Itu semua karena kita menjadi orang tua yang baik untuk Bima bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku tidak bisa lebih bangga lagi dengan Bima, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa lebih bangga lagi dengan Bima yang sudah menjadi musisi yang luar biasa, dengan lagu yang sudah ia ciptakan untuk kita, dengan kehidupan yang sudah ia bangun untuknya sendiri.'
'Saya juga tidak bisa lebih bangga lagi dengan Bima, Arga. Saya juga tidak bisa lebih bangga lagi dengan Bima yang sudah menjadi musisi yang luar biasa, dengan lagu yang sudah ia ciptakan untuk kita, dengan kehidupan yang sudah ia bangun untuknya sendiri.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena kita bersama-sama. Itu semua karena kita menjadi orang tua yang baik untuk Bima bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga kuat, juga teguh, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima bersama-sama. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Bima datang ke teras belakang dengan gitar di tangannya, dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk membuat mereka bangga.
'Papa, Mama, apa kalian suka lagu yang saya ciptakan untuk kalian?' tanya Bima dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk membuat mereka bangga.
'Bima, lagu itu luar biasa,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Lagu itu luar biasa, Bima. Papa sangat bangga padamu.'
'Bima, lagu itu luar biasa,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Lagu itu luar biasa, Bima. Mama sangat bangga padamu.'
Bima tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
'Saya akan terus bermain musik untuk kalian, Papa, Mama. Saya akan terus bermain musik untuk kalian dan menjadi musisi yang luar biasa untuk kalian.' Bima menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi musisi yang luar biasa.
'Bima, kau sudah menjadi musisi yang luar biasa untuk kami,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi musisi yang luar biasa untuk kami, dan kau akan menjadi musisi yang lebih baik lagi di masa depan.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya ayah yang protektif. Ia juga ayah yang bangga dengan Bima yang sudah menjadi musisi yang luar biasa yang menciptakan lagu untuk mereka.
Dan itu sudah cukup.