Aisha lulus kuliah dengan nilai yang sangat baik, dengan rekomendasi yang sangat baik, dengan masa depan yang sangat cerah. Ia lulus dari Universitas Indonesia dengan jurusan Sastra Inggris, dan ia langsung ditawari bekerja di beberapa perusahaan penerbitan terbaik di kota.
Tapi Aisha memilih untuk bekerja di Mahesa Group, di yayasan amal yang Larasati bangun, dengan keinginan untuk membantu wanita-wanita dan anak-anak yang membutuhkan seperti Larasati.
Arga dan Larasati tidak bisa lebih bangga lagi dengan Aisha. Mereka tidak bisa lebih bangga lagi dengan putri mereka yang sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang ingin membantu orang lain seperti Larasati.
Aisha memberitahu mereka di malam hari, ketika mereka makan malam bersama di ruang keluarga rumah baru mereka, dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
'Papa, Mama, saya akan bekerja di yayasan amal Mama,' kata Aisha dengan tawa yang keras, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Saya akan bekerja di yayasan amal Mama dan membantu wanita-wanita dan anak-anak yang membutuhkan seperti Mama.'
Arga dan Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya menatap Aisha dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Aisha, itu luar biasa,' kata Arga akhirnya, suaranya serak. 'Itu luar biasa, Aisha. Papa sangat bangga padamu.'
'Aisha, itu luar biasa,' kata Larasati akhirnya, suaranya serak juga. 'Itu luar biasa, Aisha. Mama sangat bangga padamu.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
'Saya akan bekerja dengan baik di yayasan amal Mama, Papa, Mama. Saya akan bekerja dengan baik dan membantu wanita-wanita dan anak-anak yang membutuhkan seperti Mama.' Aisha menatap mereka dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk menjadi seperti Larasati.
'Aisha, kau sudah menjadi wanita yang baik seperti Mama,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kau sudah menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan. Dan kau akan menjadi wanita yang lebih baik lagi di yayasan amal Mama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Aisha, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang ingin membantu orang lain seperti Larasati.
'Aisha, Papa tidak bisa lebih bangga lagi padamu,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Papa tidak bisa lebih bangga lagi dengan wanita yang sudah kau menjadi, dengan masa depan yang sudah kau buka untukmu sendiri, dengan kehidupan yang sudah kau bangun untukmu sendiri.'
Aisha tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan keinginan untuk membuat mereka bangga yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Malam itu, ketika Aisha dan Bima tertidur di kamar mereka masing-masing, Arga dan Larasati duduk di teras belakang rumah baru mereka dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebanggaan.
'Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kebanggaan. 'Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang ingin membantu orang lain sepertimu.'
'Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa, Arga. Aisha sudah tumbuh menjadi wanita yang cerdas, yang kuat, yang penuh dengan kehidupan, yang ingin membantu orang lain seperti saya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena kita bersama-sama. Itu semua karena kita menjadi orang tua yang baik untuk Aisha bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima bersama-sama. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebanggaan yang tidak bisa disangkal, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya ayah yang protektif. Ia juga ayah yang bangga dengan Aisha yang sudah tumbuh menjadi wanita yang luar biasa yang ingin membantu orang lain seperti Larasati.
Dan itu sudah cukup.