Arga dan Larasati membangun rumah impian mereka di pinggir kota, jauh dari hiruk pikuk, dengan taman yang besar, dengan ruang yang cukup untuk keluarga mereka yang semakin besar, dengan kedamaian yang tidak bisa disangkal.
Rumah itu indah, dengan arsitektur yang modern tapi hangat, dengan banyak cahaya alami, dengan ruang keluarga yang besar, dengan kamar untuk Aisha dan Bima yang nyaman, dengan taman yang indah di belakang.
Arga dan Larasati membangun rumah itu bersama-sama, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan keinginan untuk membuat rumah yang sempurna untuk keluarga mereka.
Malam pertama mereka di rumah baru itu, mereka berdiri di teras belakang dengan tangan yang bergandengan, dengan Aisha dan Bima tertidur di kamar mereka masing-masing di lantai atas, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Kita akhirnya memiliki rumah impian kita, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Kita akhirnya memiliki rumah yang sempurna untuk keluarga kita.'
'Kita akhirnya memiliki rumah impian kita, Arga. Kita akhirnya memiliki rumah yang sempurna untuk keluarga kita.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena kita bersama-sama. Itu semua karena kita tidak pernah menyerah pada satu sama lain.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku tidak bisa membangun rumah impian ini tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa membangun rumah impian ini tanpa cinta yang kau berikan padaku, tanpa kelembutan yang kau berikan padaku, tanpa kebahagiaan yang kau berikan padaku.'
'Anda tidak perlu membangun rumah impian ini sendirian, Arga. Anda tidak perlu membangun rumah impian ini tanpa saya. Kita membangun rumah impian ini bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan terus membangun kehidupan impian kita bersama-sama, Arga. Kita akan terus membangun kehidupan impian kita bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga kuat, juga teguh, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus membangun kehidupan impian kita bersama-sama, Arga. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah suami istri yang sudah membangun rumah impian mereka bersama-sama, dengan cinta yang nyata, dengan kebahagiaan yang nyata, dengan kehidupan yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang utuh. Dan itu sudah cukup.