Pagi pertama Larasati di mansion Arga dimulai dengan keheningan yang canggung. Ia bangun jam enam, seperti biasa, dan mandi di kamar mandi marmer yang besar. Air panas mengalir dengan deras, sesuatu yang tidak pernah ia alami di rumah kontrakan lamanya. Ia berdiri di bawah shower selama beberapa menit, membiarkan air menghangatkan tubuhnya, dan mencoba mempersiapkan diri untuk hari pertama sebagai Nyonya Mahesa.
Ia mengenakan dress sederhana berwarna biru muda yang ditemukan di lemari — ternyata Arga sudah menyuruh seseorang mengisi lemari dengan pakaian untuknya. Semua pakaian itu baru, dengan label harga yang masih menempel. Larasati memilih yang paling sederhana, yang paling tidak mencolok.
Ketika ia turun ke ruang makan, Arga sudah duduk di meja panjang, membaca koran dan minum kopi hitam. Ia tidak mengangkat kepalanya ketika Larasati masuk.
'Selamat pagi,' kata Larasati pelan.
Arga menjawab tanpa melihat. 'Pagi. Makanan sudah disiapkan di meja sebelah.'
Larasati melihat meja kecil di sudut ruangan yang penuh dengan makanan: roti, telur, buah, jus, kopi, teh. Ia mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit roti dan telur, lalu duduk di ujung meja, jauh dari Arga.
Mereka makan dalam keheningan. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring. Bu Tini masuk beberapa kali untuk mengisi ulang kopi, tapi tidak berkata apa-apa.
Akhirnya, Arga menutup korannya dan menatap Larasati. 'Ada beberapa aturan yang perlu kau tahu.'
Larasati meletakkan garpunya. 'Baik.'
'Pertama, kartu kredit.' Arga mengeluarkan sebuah kartu hitam dari saku jasnya dan meletakkannya di meja, mendorongnya ke arah Larasati. 'Ini untuk keperluanmu. Kau bisa membeli apa pun yang kau butuhkan: pakaian, kosmetik, apa pun. Tidak ada batas.'
Larasati menatap kartu itu, tapi tidak mengambilnya. 'Saya tidak butuh.'
Arga menatapnya, alisnya sedikit terangkat. 'Semua istri CEO butuh kartu kredit. Kau akan menghadiri acara-acara sosial. Kau butuh pakaian yang pantas.'
'Saya sudah punya pakaian. Dan saya tidak mau menggunakan uang Anda untuk hal-hal pribadi.'
Arga menatapnya selama beberapa detik, seperti mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal. 'Ini bukan uang pribadiku. Ini bagian dari kontrak. Anggap saja sebagai biaya operasional.'
'Kalau begitu saya tidak butuh biaya operasional.' Larasati menatap Arga dengan teguh. 'Saya akan menggunakan uang saya sendiri untuk hal-hal pribadi. Kontrak hanya untuk biaya pengobatan ibu saya dan peran sebagai istri di depan publik. Saya tidak mau lebih dari itu.'
Arga tidak menjawab untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat sesuatu yang bukan dingin di matanya: kebingungan, atau mungkin kekaguman yang tidak diinginkan.
'Baik,' kata Arga akhirnya, mengambil kembali kartu itu. 'Tapi kalau kau butuh sesuatu untuk acara resmi, katakan pada Bu Sari. Itu bagian dari peranmu.'
'Baik.'
'Kedua, kebebasanmu.' Arga melanjutkan, 'Kau bebas keluar rumah kapan saja. Tapi kalau kau pergi ke tempat umum, kau harus memberitahu Bu Sari dulu. Aku tidak mau ada foto yang tidak diinginkan di media.'
'Baik.'
'Ketiga, kakakmu.' Suara Arga menjadi lebih dingin. 'Nadia akan mencoba menghubungimu. Dia akan mencoba memprovokasimu, membuatmu marah, membuatmu melakukan sesuatu yang bodoh. Jangan terpancing. Jangan biarkan dia menang.'
Larasati menatap Arga. 'Saya tidak akan membiarkan Nadia mengendalikan saya. Saya sudah terbiasa dengannya sejak kecil.'
Arga mengangguk pelan, seperti menghargai jawaban itu. 'Bagus. Terakhir, soal ibumu. Aku sudah memindahkannya ke rumah sakit swasta terbaik di kota. Dokter terbaik akan menanganinya. Operasi akan dilakukan minggu depan.'
Larasati merasakan dadanya lega untuk pertama kalinya sejak pagi. 'Terima kasih.'
'Itu bagian dari kontrak.' Arga berdiri, mengambil jasnya dari sandaran kursi. 'Aku ke kantor. Bu Sari akan menghubungimu nanti untuk jadwal acara minggu ini. Jangan lupa: besok ada makan malam dengan investor. Kau harus hadir.'
Larasati mengangguk. 'Baik.'
Arga berjalan ke arah pintu, tapi berhenti sebelum keluar. Ia berbalik, menatap Larasati dengan tatapan yang sulit dibaca. 'Kau tidak seperti yang aku kira.'
Larasati menatapnya, tidak tahu harus berkata apa.
'Kebanyakan orang akan langsung mengambil kartu kredit itu tanpa berpikir dua kali.' Arga tidak tersenyum, tapi ada sesuatu yang lembut di suaranya. 'Kau berbeda.'
Ia berbalik dan keluar, meninggalkan Larasati sendirian di ruang makan yang besar.
Larasati duduk di sana selama beberapa menit, menatap piringnya yang masih setengah penuh, dan berpikir tentang kata-kata Arga. Ia tidak tahu apakah itu pujian atau hanya observasi. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, satu tahun ini tidak akan seburuk yang ia kira.
Siang itu, Larasati pergi ke rumah sakit untuk melihat ibunya. Rumah sakit itu besar, bersih, dengan fasilitas yang jauh lebih baik dari rumah sakit sebelumnya. Ibunya sudah dipindahkan ke kamar VIP, dengan perawat khusus dan dokter yang datang memeriksa setiap dua jam.
Ibunya terlihat lebih baik. Lebih segar. Lebih bersemangat.
'Laras, ini rumah sakit yang mahal,' kata ibunya ketika Larasati masuk. 'Bagaimana kau bisa membayarnya?'
Larasati duduk di samping tempat tidur ibunya, memegang tangannya. 'Aku sudah menemukan cara, Bu. Jangan khawatir tentang biaya. Yang penting Ibu sembuh.'
Ibunya menatapnya dengan mata yang penuh pertanyaan. 'Kau tidak melakukan sesuatu yang bodoh, kan, nak?'
Larasati memaksakan senyum. 'Tidak, Bu. Aku hanya... aku mendapatkan pekerjaan baru yang sangat baik. Gajinya besar.'
Ibunya tidak terlihat yakin, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya memegang tangan Larasati dan berkata, 'Ibu bangga denganmu, nak. Ibu selalu bangga denganmu.'
Larasati merasakan air matanya ingin jatuh, tapi ia menahannya. Ia tidak bisa menangis sekarang. Ia harus kuat. Untuk ibunya. Untuk dirinya sendiri.
Malam itu, ketika Larasati kembali ke mansion, Arga sudah ada di rumah. Ia duduk di ruang kerjanya, bekerja di depan laptop. Larasati tidak mengganggunya. Ia langsung naik ke kamarnya, mandi, dan berbaring di tempat tidur.
Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, memikirkan hari ini, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin ia bisa bertahan. Mungkin satu tahun ini tidak akan menghancurkannya.
Mungkin.