Bima sakit dengan demam yang tinggi, dengan batuk yang tidak berhenti, dengan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak bisa bersekolah, tidak bisa bermain, tidak bisa melakukan apa pun selain berbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat dan mata yang lemah.
Arga dan Larasati tidak meninggalkan Bima. Mereka tidak meninggalkan samping tempat tidurnya. Mereka tidak meninggalkan Bima untuk apa pun. Mereka hanya duduk di sampingnya, merawatnya, menjaganya, dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
'Bima akan sembuh, sayang,' kata Larasati pelan, membelai rambut Bima dengan lembut. 'Bima akan sembuh. Mama dan Papa ada di sini untuk merawatmu.'
'Bima akan sembuh, sayang,' kata Arga pelan, memegang tangan Bima dengan erat. 'Bima akan sembuh. Papa dan Mama ada di sini untuk merawatmu.'
Bima tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan mata yang lemah, dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, dengan keinginan untuk sembuh yang tidak bisa dijelaskan.
Arga dan Larasati tidak tidur selama beberapa malam. Mereka bergantian merawat Bima, bergantian memberi makan, bergantian memberi obat, bergantian menyanyikan lagu tidur untuk Bima agar ia bisa tidur dengan tenang.
Suatu malam, ketika Bima akhirnya tertidur dengan tenang setelah demamnya turun sedikit, Arga dan Larasati duduk di samping tempat tidurnya dengan keheningan yang penuh dengan kekhawatiran.
'Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Bima dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran. 'Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa ia akan terluka seperti ibuku terluka, seperti aku terluka, seperti kau terluka.'
'Saya juga tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya, Arga. Saya juga tidak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa ia akan terluka seperti kita.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Tapi Bima akan sembuh, Arga. Bima akan sembuh karena Bima memiliki kita. Bima memiliki Papa dan Mama yang mencintainya dengan sepenuh hati, yang akan merawatnya, yang akan membantunya sembuh.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Bima, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati benar. Bima akan sembuh karena Bima memiliki mereka. Bima memiliki Papa dan Mama yang mencintainya dengan sepenuh hati, yang akan merawatnya, yang akan membantunya sembuh.
'Aku akan merawatmu, Bima,' kata Arga pelan, membelai rambut Bima dengan lembut. 'Aku akan merawatmu sampai kau sembuh. Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kau sembuh.'
'Saya juga akan merawatmu, Bima,' kata Larasati pelan, memegang tangan Bima dengan erat. 'Saya juga akan merawatmu sampai kau sembuh. Saya tidak akan meninggalkanmu sampai kau sembuh.'
Bima tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga dan Larasati dengan mata yang lemah, dengan kepercayaan yang tidak bisa disangkal, dengan keinginan untuk sembuh yang tidak bisa dijelaskan.
Beberapa hari kemudian, Bima akhirnya sembuh. Ia akhirnya bisa bersekolah lagi, bisa bermain lagi, bisa melakukan apa pun yang ia sukai lagi dengan energi yang penuh dengan kehidupan.
Arga dan Larasati tidak bisa lebih bahagia lagi melihat Bima sembuh. Mereka tidak bisa lebih bahagia lagi melihat Bima bermain lagi dengan tawa yang keras, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
'Bima sudah sembuh, Larasati,' kata Arga pelan, menatap Bima bermain dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan. 'Bima sudah sembuh karena Bima memiliki kita. Bima sudah sembuh karena kita merawatnya bersama-sama.'
'Bima sudah sembuh, Arga. Bima sudah sembuh karena Bima memiliki kita. Bima sudah sembuh karena kita merawatnya bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan terus merawatnya bersama-sama, Arga. Kita akan terus merawat Aisha dan Bima bersama-sama sebagai orang tua yang baik.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Bima bermain, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus merawat Aisha dan Bima bersama-sama sebagai orang tua yang baik. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya protektif. Ia juga siap untuk merawat Aisha dan Bima bersama-sama dengan Larasati sebagai orang tua yang baik.
Dan itu sudah cukup.