Larasati dan Arga berbagi kekhawatiran dan harapan tentang masa depan anak-anak mereka. Mereka berbagi kekhawatiran tentang Aisha yang mulai remaja dan tertarik pada lawan jenis, tentang Bima yang akan segera mengikuti jejak kakaknya, tentang bagaimana mereka akan menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak mereka yang sedang tumbuh besar.
Suatu malam, ketika Aisha dan Bima tertidur di kamar bayi di lantai atas, Arga dan Larasati duduk di ruang keluarga dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kekhawatiran dan harapan.
'Aku khawatir tentang Aisha,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran. 'Aku khawatir bahwa ia akan terluka karena cinta yang salah, karena pria yang salah, karena kehidupan yang salah.'
'Saya juga khawatir tentang Aisha, Arga. Saya juga khawatir bahwa ia akan terluka karena cinta yang salah, karena pria yang salah, karena kehidupan yang salah.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Tapi saya juga berharap bahwa Aisha akan menemukan cinta yang benar, pria yang benar, kehidupan yang benar. Saya juga berharap bahwa Aisha akan menjadi wanita yang baik, wanita yang kuat, wanita yang tidak akan terluka seperti kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya khawatir. Larasati juga berharap. Larasati juga percaya bahwa Aisha akan menemukan kebahagiaannya sendiri dengan cinta yang benar.
'Aku juga berharap bahwa Aisha akan menemukan kebahagiaannya sendiri dengan cinta yang benar,' kata Arga pelan. 'Aku juga berharap bahwa Aisha akan menjadi wanita yang baik, wanita yang kuat, wanita yang tidak akan terluka seperti kita.'
'Kita juga akan menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima, Arga. Kita juga akan membantu mereka menemukan kebahagiaan mereka sendiri dengan cinta yang benar.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama sebagai orang tua yang baik.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama sebagai orang tua yang baik.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kekhawatiran dan harapan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya khawatir. Mereka juga berharap. Mereka juga percaya bahwa Aisha dan Bima akan menemukan kebahagiaan mereka sendiri dengan cinta yang benar.
Dan itu sudah cukup.