Setelah Bima sembuh, Arga dan Larasati semakin dekat. Mereka semakin percaya bahwa mereka bisa menjadi orang tua yang baik untuk Aisha dan Bima bersama-sama, bahwa mereka bisa merawat anak-anak mereka dengan cinta yang benar, bahwa mereka bisa menjadi keluarga yang utuh selamanya.
Mereka merayakan kesehatan Bima dengan makan malam romantis di rumah, dengan Aisha dan Bima tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
Arga memasak makan malam untuk Larasati di dapur mansion, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan mereka sekarang. Ia memasak dengan lebih percaya diri sekarang, dengan lebih banyak pengalaman, dengan lebih banyak cinta.
Larasati duduk di meja kecil di dapur, menonton Arga memasak dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak pernah menyangka bahwa Arga akan menjadi seperti ini: begitu penuh dengan perhatian, begitu penuh dengan cinta, begitu ingin membuatnya bahagia.
'Anda tidak perlu memasak untuk saya setiap malam, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis.
'Aku ingin memasak untukmu. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu, sesuatu yang bukan pekerjaan, sesuatu yang bukan bisnis.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hangat. 'Aku ingin kita menjadi pasangan normal malam ini.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya suaminya. Arga juga pria yang mencintainya dengan sepenuh hati, pria yang ingin membuatnya bahagia, pria yang ingin menjadi suami yang baik.
Mereka makan malam di dapur, di meja kecil, dengan lilin yang menyala redup. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, tentang Bima yang sudah sembuh, tentang Aisha yang sudah remaja, tentang yayasan amal yang berjalan dengan baik. Mereka tidak berbicara tentang Nadia. Mereka tidak berbicara tentang Bara. Mereka hanya berbicara tentang mereka, tentang kehidupan mereka, tentang masa depan mereka.
Setelah makan malam, Arga mengajak Larasati berdansa di ruang keluarga, dengan musik yang lembut mengalun dari speaker kecil. Ia sudah lebih baik dalam berdansa sekarang, sudah lebih percaya diri, sudah tidak menginjak kaki Larasati lagi.
'Anda sudah lebih baik dalam berdansa, Arga,' kata Larasati, tertawa kecil ketika mereka berdansa dengan langkah yang lebih teratur.
'Aku belajar dari yang terbaik.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hangat. 'Aku belajar darimu, Larasati. Aku belajar bagaimana cara menjadi suami yang baik, bagaimana cara menjadi ayah yang baik, bagaimana cara menjadi pria yang lebih baik.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya suaminya. Arga juga pria yang sudah berubah menjadi lebih baik, pria yang sudah belajar dari kesalahannya, pria yang sudah menjadi pria yang lebih baik.
'Aku mencintaimu, Arga,' kata Larasati pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Aku juga mencintaimu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Mereka berhenti berdansa, tapi tidak melepaskan pelukan mereka. Mereka berdiri di tengah ruang keluarga, dalam cahaya lilin yang redup, dan menatap satu sama lain dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal lagi.
'Aku tidak tahu apa yang aku lakukan tanpamu, Larasati,' bisik Arga di telinganya. 'Aku tidak tahu bagaimana cara hidup tanpamu lagi.'
'Anda tidak perlu tahu, Arga. Anda tidak perlu hidup tanpa saya lagi.' Larasati memeluknya lebih erat. 'Saya di sini. Saya tidak akan pergi.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Mereka tidak berhenti berciuman untuk waktu yang lama. Mereka hanya berdiri di sana, di tengah ruang keluarga, dalam cahaya lilin yang redup, dan membiarkan cinta mereka mengambil alih.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah dua orang yang sudah menang. Mereka adalah dua orang yang sudah membuktikan bahwa cinta mereka nyata. Mereka adalah dua orang yang sudah memutuskan untuk menjadi keluarga yang bahagia selamanya.
Mereka sudah menjadi suami istri yang sebenarnya. Dan itu sudah cukup.