Aisha mulai remaja, dan ia mulai tertarik pada lawan jenis. Ia mulai berbicara tentang seorang pria di sekolahnya yang ia sukai, tentang bagaimana pria itu ganteng, tentang bagaimana pria itu baik, tentang bagaimana pria itu membuatnya tersenyum.
Arga tidak bisa menerima bahwa Aisha sudah remaja dan mulai tertarik pada lawan jenis. Ia tidak bisa menerima bahwa putri kecilnya sudah tumbuh besar dan mulai memiliki kehidupan sendiri. Ia tidak bisa menerima bahwa ia akan kehilangan Aisha untuk pria lain suatu hari nanti.
'Aisha tidak boleh berkencan sampai ia berumur dua puluh tahun,' kata Arga suatu malam ketika Larasati memberitahunya bahwa Aisha menyukai seorang pria di sekolahnya. 'Aisha tidak boleh berkencan sampai ia berumur dua puluh tahun, dan itu sudah final.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. 'Arga, Aisha sudah remaja. Aisha sudah berumur dua belas tahun. Ia sudah mulai tertarik pada lawan jenis, dan itu adalah hal yang normal untuk anak remaja.'
'Aku tidak peduli apakah itu normal atau tidak. Aisha tidak boleh berkencan sampai ia berumur dua puluh tahun.' Arga menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Aku tidak akan membiarkan Aisha berkencan sampai ia berumur dua puluh tahun.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya protektif. Arga juga takut. Arga juga tidak yakin bahwa ia bisa menjadi ayah yang baik untuk Aisha yang sudah remaja.
'Arga, Anda tidak bisa melindungi Aisha dari segalanya selamanya,' kata Larasati pelan. 'Anda tidak bisa melindungi Aisha dari cinta, dari kehidupan, dari kebahagiaan selamanya. Anda harus membiarkan Aisha tumbuh, membiarkan Aisha belajar, membiarkan Aisha menemukan kebahagiaannya sendiri.'
'Aku tidak ingin Aisha terluka, Larasati. Aku tidak ingin Aisha terluka seperti ibuku terluka, seperti aku terluka, seperti kau terluka.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak ingin Aisha terluka karena cinta yang salah, karena pria yang salah, karena kehidupan yang salah.'
'Aisha tidak akan terluka seperti itu, Arga. Aisha tidak akan terluka seperti itu karena Aisha memiliki kita. Aisha memiliki Papa dan Mama yang mencintainya dengan sepenuh hati, yang akan melindunginya, yang akan membantunya menemukan kebahagiaannya sendiri.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan Aisha akan belajar dari kita bagaimana cara mencintai dengan benar, bagaimana cara memilih pria yang benar, bagaimana cara menjadi wanita yang baik.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati benar. Ia tidak bisa melindungi Aisha dari segalanya selamanya. Ia tidak bisa melindungi Aisha dari cinta, dari kehidupan, dari kebahagiaan selamanya. Ia harus membiarkan Aisha tumbuh, membiarkan Aisha belajar, membiarkan Aisha menemukan kebahagiaannya sendiri.
'Aku akan mencoba, Larasati,' kata Arga pelan, suaranya serak. 'Aku akan mencoba membiarkan Aisha tumbuh, membiarkan Aisha belajar, membiarkan Aisha menemukan kebahagiaannya sendiri. Tapi aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan bahwa ia akan terluka.'
'Saya tahu, Arga. Saya tahu Anda tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Saya juga tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Tapi kita akan menghadapi semuanya bersama-sama, Arga. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama sebagai orang tua yang baik.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan membantu Aisha menemukan kebahagiaannya sendiri dengan cinta yang benar.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan Bima.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan membantu Aisha menemukan kebahagiaannya sendiri dengan cinta yang benar. Seperti orang tua yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak hanya protektif. Ia juga siap untuk membiarkan Aisha tumbuh, membiarkan Aisha belajar, membiarkan Aisha menemukan kebahagiaannya sendiri.
Dan itu sudah cukup.