Aisha dan Bima tumbuh dengan baik, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan. Aisha sudah berumur dua belas tahun sekarang, dan ia sudah menjadi anak yang cerdas, yang penuh dengan kehidupan, yang penuh dengan cinta. Ia sudah bersekolah di sekolah menengah pertama terbaik di kota, dan ia sudah memiliki banyak teman yang menyayanginya.
Bima sudah berumur sembilan tahun sekarang, dan ia sudah menjadi anak yang penuh dengan energi, yang penuh dengan tawa, yang penuh dengan keingintahuan. Ia sudah bersekolah di sekolah dasar terbaik di kota, dan ia sudah memiliki banyak teman yang menyayanginya.
Aisha dan Bima sangat menyayangi orang tua mereka. Mereka sangat menyayangi Arga dan Larasati dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Suatu sore, ketika Aisha dan Bima pulang dari sekolah dengan tawa yang keras, mereka berlari ke ruang keluarga dan memeluk Arga dan Larasati dengan erat.
'Papa, Mama, kami pulang!' teriak Aisha dengan tawa yang keras, memeluk Arga dengan erat.
'Papa, Mama, kami pulang!' teriak Bima dengan tawa yang keras juga, memeluk Larasati dengan erat.
Arga dan Larasati memeluk anak-anak mereka dengan erat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Kami juga senang kalian pulang, sayang,' kata Arga pelan, memeluk Aisha dengan erat. 'Kami juga senang kalian pulang.'
'Kami juga senang kalian pulang, sayang,' kata Larasati pelan, memeluk Bima dengan erat. 'Kami juga senang kalian pulang.'
Aisha dan Bima tidak melepaskan pelukan mereka untuk waktu yang lama. Mereka hanya memeluk Arga dan Larasati dengan erat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Kami menyayangi Papa dan Mama,' kata Aisha pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Kami menyayangi Papa dan Mama dengan sepenuh hati.'
'Kami juga menyayangi Papa dan Mama dengan sepenuh hati,' kata Bima pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga.
Arga dan Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Mereka hanya memeluk anak-anak mereka dengan erat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
'Kami juga menyayangi kalian dengan sepenuh hati, sayang,' kata Arga pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kami juga menyayangi kalian dengan sepenuh hati.'
'Kami juga menyayangi kalian dengan sepenuh hati, sayang,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya juga. 'Kami juga menyayangi kalian dengan sepenuh hati.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya memeluk satu sama lain dengan erat, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Malam itu, ketika Aisha dan Bima tertidur di kamar bayi di lantai atas, Arga dan Larasati duduk di ruang keluarga dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka berdua,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa kalian berempat.'
'Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka berdua, Arga. Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa kalian berempat.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak ingin membayangkan kehidupan tanpa kalian berempat.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi keluarga yang utuh seperti ini, Arga. Kita akan terus menjadi keluarga yang bahagia seperti ini. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa perjalanan mereka sudah selesai. Bahwa mereka sudah sampai di tujuan. Bahwa mereka sudah menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang seharusnya. Dan itu sudah cukup.