Arga memberikan kejutan untuk Larasati: renovasi kamar yang dulu terkunci menjadi ruang keluarga. Kamar yang dulu menyimpan foto-foto Arga dan Nadia, kamar yang dulu menyimpan masa lalu Arga yang penuh dengan rasa sakit, kamar yang dulu menjadi simbol dari semua yang sudah menghancurkan Arga.
Arga mengubah kamar itu menjadi ruang keluarga yang hangat, yang penuh dengan cahaya, yang penuh dengan kebahagiaan. Ia mengubah kamar itu menjadi tempat untuk keluarga mereka berkumpul, untuk Aisha dan Bima bermain, untuk Arga dan Larasati menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga.
Larasati tidak tahu tentang renovasi itu sampai Arga mengajaknya ke kamar itu suatu sore, dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku ingin kau melihat sesuatu,' kata Arga, tersenyum tipis.
Mereka berjalan ke kamar itu, dan Arga membuka pintu dengan hati-hati. Larasati melihat kamar itu dengan mata yang membesar: kamar itu tidak lagi gelap, tidak lagi terkunci, tidak lagi menyimpan masa lalu yang penuh dengan rasa sakit. Kamar itu sudah menjadi ruang keluarga yang hangat, dengan sofa yang nyaman, dengan mainan untuk Aisha dan Bima, dengan foto-foto keluarga mereka di dinding.
'Anda mengubah kamar itu menjadi ruang keluarga,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
'Aku mengubah kamar itu menjadi ruang keluarga untuk kita, Larasati. Aku mengubah kamar itu menjadi tempat untuk keluarga kita berkumpul, untuk Aisha dan Bima bermain, untuk kita menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga.' Arga menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Aku tidak ingin kamar itu menyimpan masa lalu yang penuh dengan rasa sakit lagi. Aku ingin kamar itu menyimpan kebahagiaan yang penuh dengan cinta.'
Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap kamar itu, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar sudah move on dari masa lalu. Arga benar-benar sudah melupakan Nadia. Arga benar-benar sudah tidak lagi penuh dengan dendam dan kebencian.
'Arga, ini... ini luar biasa,' kata Larasati pelan, dengan air mata yang mengalir di wajahnya. 'Ini luar biasa, Arga. Ini adalah hadiah terbaik yang pernah Anda berikan pada saya.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Aku tidak bisa memberikanmu hadiah yang lebih baik dari ini, Larasati. Aku tidak bisa memberikanmu hadiah yang lebih baik dari ruang keluarga untuk kita, untuk Aisha, untuk Bima, untuk keluarga kita.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya suaminya. Arga juga pria yang sudah berubah menjadi lebih baik, pria yang sudah move on dari masa lalu, pria yang sudah menjadi pria yang lebih baik.
'Aku mencintaimu, Arga,' kata Larasati pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Aku juga mencintaimu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya berdiri di ruang keluarga itu, dalam cahaya sore yang hangat, dan membiarkan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal mengisi ruangan itu.
Aisha dan Bima datang ke ruang keluarga itu dengan tawa yang keras, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan kebebasan yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya. Mereka bermain di ruang keluarga itu dengan Arga dan Larasati menonton dengan tatapan yang penuh dengan cinta, dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa mereka benar-benar keluarga yang utuh.
Mereka benar-benar keluarga yang seharusnya. Dan itu sudah cukup.