Larasati menulis buku tentang pengalamannya: tentang bagaimana ia dulu kehilangan pekerjaan karena skandal kakaknya, tentang bagaimana ia dulu tidak punya pilihan selain menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibunya, tentang bagaimana ia dulu hampir kehilangan segalanya karena dendam dan kebencian orang lain, dan tentang bagaimana ia akhirnya menemukan cinta dan kebahagiaan dengan Arga.
Buku itu berjudul "Dari Kontrak Menjadi Cinta", dan buku itu menjadi inspirasi banyak wanita yang membaca cerita Larasati. Wanita-wanita yang juga pernah kehilangan harapan, wanita-wanita yang juga pernah tidak punya pilihan, wanita-wanita yang juga pernah hampir kehilangan segalanya karena dendam dan kebencian orang lain.
Buku itu menjadi bestseller dalam beberapa minggu, dan Larasati mulai diundang untuk berbicara di acara-acara tentang pengalamannya, tentang bagaimana ia bertahan dari semua yang sudah terjadi, tentang bagaimana ia menemukan kekuatan untuk move on dari masa lalu.
Suatu hari, Larasati berbicara di sebuah acara untuk wanita-wanita korban kekerasan, dan ia menceritakan ceritanya dengan kebenaran yang tidak bisa disangkal, dengan kekuatan yang tidak bisa diganggu gugat, dengan harapan yang tidak bisa dijelaskan.
'Saya dulu tidak punya pilihan selain menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibu saya,' kata Larasati di depan ratusan wanita. 'Saya dulu tidak punya pilihan selain menjual diri saya untuk menyelamatkan ibu saya. Saya dulu tidak punya pilihan selain menjadi istri kontrak untuk pria yang penuh dengan dendam dan kebencian.'
Wanita-wanita itu mendengarkan dengan tatapan yang penuh dengan pengertian, dengan tatapan yang penuh dengan keinginan untuk mendengar lebih banyak.
'Tapi saya tidak menyerah. Saya tidak berhenti berjuang. Saya tidak berhenti membuktikan bahwa saya adalah wanita yang baik, wanita yang tidak bersalah, wanita yang tidak pantas dihukum karena kesalahan orang lain.' Larasati menatap mereka dengan tatapan yang teguh. 'Dan saya akhirnya menemukan cinta dan kebahagiaan dengan pria yang sama yang dulu penuh dengan dendam dan kebencian. Saya akhirnya menemukan kehidupan yang saya inginkan dengan pria yang sama yang dulu menikahi saya hanya untuk balas dendam.'
Wanita-wanita itu bertepuk tangan dengan keras, dengan kekaguman yang tidak bisa disangkal, dengan keinginan untuk menjadi seperti Larasati.
'Anda tidak sendirian,' kata Larasati pelan. 'Anda tidak sendirian. Anda tidak perlu menyerah. Anda tidak perlu berhenti berjuang. Anda tidak perlu berhenti membuktikan bahwa Anda adalah wanita yang baik, wanita yang tidak bersalah, wanita yang tidak pantas dihukum karena kesalahan orang lain.'
Malam itu, Arga dan Larasati pulang ke mansion dengan Aisha dan Bima tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
'Aku bangga padamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku bangga dengan apa yang kau lakukan untuk ribuan wanita itu. Aku bangga dengan kekuatanmu, dengan kelembutanmu, dengan cinta yang kau berikan untuk orang lain.'
'Saya tidak sendirian dalam ini, Arga. Saya memiliki Anda. Kita membuat perbedaan bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan terus membuat perbedaan untuk ribuan wanita lain, untuk anak-anak lain, untuk orang-orang yang membutuhkan harapan.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membuat perbedaan untuk orang lain.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus membuat perbedaan untuk orang lain, bersama-sama. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa ia sudah menggunakan pengalamannya untuk membantu ribuan wanita seperti wanita itu. Ia sudah menggunakan rasa sakitnya untuk memberikan harapan untuk ribuan wanita seperti wanita itu. Ia sudah menggunakan kehidupannya untuk membuat perbedaan untuk ribuan wanita seperti wanita itu.
Dan itu sudah cukup.