Pernikahan itu berlangsung di sebuah gereja kecil di pinggiran kota, jauh dari pusat bisnis, jauh dari wartawan yang biasa mengikuti setiap langkah Arga Mahesa. Hanya ada beberapa orang: Bu Sari, dua orang saksi dari pihak Arga, pendeta, dan seorang fotografer yang disewa khusus untuk mengambil beberapa foto resmi yang akan dirilis ke media.
Larasati berdiri di depan altar dengan dress putih sederhana yang dibeli oleh tim Arga. Dress itu cantik, tapi tidak berlebihan — seperti dirinya. Ia tidak memakai makeup tebal, hanya sedikit bedak dan lipstik merah muda. Rambutnya digelung sederhana dengan beberapa helai jatuh di lehernya.
Arga berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang rapi, wajahnya tenang, tidak tersenyum, tidak sedih, tidak apa-apa. Ia seperti patung yang sempurna, dan Larasati bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang hidup di dalamnya.
Pendeta berbicara tentang cinta, tentang komitmen, tentang janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka. Kata-kata itu terdengar hampa di telinga Larasati, karena ia tahu ini bukan pernikahan sungguhan. Ini hanya kontrak. Ini hanya peran.
'Saya berjanji,' suara Arga ketika diminta mengucapkan janji, suaranya datar, tanpa emosi.
'Saya berjanji,' Larasati mengulangi, suaranya hampir tidak terdengar.
Arga memasangkan cincin di jari manis Larasati. Cincin itu dingin, seperti tangan Arga yang menyentuhnya sekilas. Larasati memasangkan cincin di jari Arga, dan ketika jari-jari mereka bersentuhan, ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya — bukan cinta, bukan ketertarikan, tapi sesuatu yang lebih dalam: kesepian yang sama.
'Anda sekarang resmi menjadi suami istri,' kata pendeta, tersenyum pada mereka berdua.
Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan. Arga hanya mengangguk sekali pada Larasati, dan Larasati membalasnya dengan anggukan yang sama. Mereka berbalik menghadap tamu yang sedikit, dan Bu Sari memulai tepuk tangan yang sopan.
Fotografer mengambil beberapa foto: Arga dan Larasati berdiri berdampingan, Arga memegang tangan Larasati dengan sopan, Larasati tersenyum tipis pada kamera. Foto-foto itu akan dirilis ke media besok pagi dengan judul: "CEO Mahesa Group Menikah Lagi dengan Wanita Misterius".
Setelah itu, semuanya berakhir dengan cepat. Arga dan Larasati masuk ke mobil yang sudah menunggu, dan mereka berkendara dalam keheningan ke mansion Arga di kawasan elite.
Di dalam mobil, Larasati menatap keluar jendela, melihat kota yang berkilau di malam hari. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Takut? Pasti. Menyesal? Mungkin. Tapi juga ada sesuatu yang lain: rasa lega bahwa ibunya akan mendapatkan perawatan terbaik.
Arga tidak berkata apa-apa sepanjang perjalanan. Ia hanya duduk di samping Larasati, menatap lurus ke depan, dan Larasati bertanya-tanya apakah ia menyesali keputusannya.
Ketika mereka tiba di mansion, Arga turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Larasati — sebuah gestur yang sopan tapi tidak personal. Larasati keluar, menatap mansion besar yang akan menjadi rumahnya selama satu tahun ke depan, dan merasa seperti sedang melihat penjara yang indah.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan menyambut mereka di pintu. 'Selamat datang, Pak Arga, Bu Larasati.'
Arga mengangguk. 'Ini Bu Tini. Dia yang mengurus rumah. Kalau kau butuh sesuatu, tanyakan padanya.'
Bu Tini membungkuk sopan pada Larasati. 'Selamat datang di rumah ini, Bu Larasati. Saya akan menunjukkan kamar Anda.'
Larasati mengikuti Bu Tini menaiki tangga marmer yang besar, melalui lorong-lorong yang luas dan dingin, sampai mereka berhenti di depan sebuah pintu di ujung lorong.
'Ini kamar Anda, Bu. Kamar Pak Arga di ujung lorong sebelah sana. Ada kamar mandi dalam, lemari, dan balkon kecil. Kalau Anda butuh apa-apa, ada telepon di meja samping tempat tidur.'
Larasati masuk ke kamar itu. Kamar itu besar, lebih besar dari seluruh rumah kontrakan yang dulu ia tinggali dengan ibunya. Ada tempat tidur king size dengan seprai putih, lemari kayu besar, meja rias, dan balkon yang menghadap taman belakang.
'Terima kasih, Bu Tini.'
Bu Tini tersenyum sopan dan keluar, menutup pintu dengan pelan.
Larasati berdiri di tengah kamar, sendirian, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa lututnya lemas. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap cincin di jarinya, dan bertanya-tanya apa yang baru saja ia lakukan.
Ia baru saja menikah dengan pria asing. Pria yang penuh dendam. Pria yang menikahinya hanya untuk menghancurkan kakaknya.
Dan sekarang, ia harus bertahan selama satu tahun.
Larasati berbaring di tempat tidur yang terlalu besar itu, tidak melepas dress-nya, dan menatap langit-langit kamar yang tinggi. Ia tidak menangis. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya menatap ke atas, ke kegelapan, dan membiarkan malam membawanya ke tidur yang tidak nyenyak.
Di ujung lorong, di kamar lain, Arga Mahesa berdiri di depan jendela, tidak melepas jasnya, dan menatap keluar ke taman yang gelap. Ia juga tidak tidur. Ia hanya berdiri di sana, diam, dan bertanya-tanya apakah ia baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.