Arga dan Larasati semakin sukses dalam bisnis dan kehidupan setelah Nadia dan Bara dihukum. Mahesa Group semakin besar, semakin kuat, semakin dihormati oleh investor-investor dan mitra bisnis.
Yayasan Aisha yang mereka bangun bersama juga semakin besar, semakin berpengaruh, semakin membantu ribuan wanita dan anak-anak korban kekerasan, korban pengkhianatan, korban dendam dan kebencian.
Larasati memimpin yayasan itu dengan sepenuh hati, dan ia sudah membantu ribuan wanita dan anak-anak dalam beberapa tahun terakhir. Ia sudah memberikan tempat tinggal untuk wanita yang melarikan diri dari kekerasan, memberikan pendidikan untuk wanita yang ingin membangun kehidupan baru, memberikan dukungan untuk anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Suatu hari, seorang wanita muda datang ke yayasan dengan wajah yang penuh dengan ketakutan. Ia adalah korban kekerasan dari suaminya, dan ia tidak punya tempat untuk pergi, tidak punya uang, tidak punya siapa-siapa yang bisa membantunya.
Larasati duduk dengan wanita itu dan mendengarkan ceritanya dengan sabar, sama seperti ibu Arga dulu mendengarkan Larasati. Ia tidak menghakimi. Ia tidak mempertanyakan. Ia hanya mendengarkan dan memberikan dukungan.
'Anda tidak sendirian lagi,' kata Larasati pelan. 'Anda tidak sendirian lagi. Kami akan membantu Anda. Kami akan melindungi Anda. Kami akan memberikan Anda tempat yang aman untuk membangun kehidupan baru.'
Wanita itu menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kelegaan. 'Terima kasih. Terima kasih karena tidak menghakimi saya. Terima kasih karena membantu saya.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap wanita itu, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa ia sudah menggunakan pengalamannya untuk membantu ribuan wanita seperti wanita itu. Ia sudah menggunakan rasa sakitnya untuk memberikan harapan untuk ribuan wanita seperti wanita itu. Ia sudah menggunakan kehidupannya untuk membuat perbedaan untuk ribuan wanita seperti wanita itu.
Malam itu, Arga dan Larasati duduk di ruang tamu dengan teh hangat di tangan mereka, dengan Aisha dan Bima tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku bangga padamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku bangga dengan apa yang kau lakukan untuk ribuan wanita itu. Aku bangga dengan kekuatanmu, dengan kelembutanmu, dengan cinta yang kau berikan untuk orang lain.'
'Saya tidak sendirian dalam ini, Arga. Saya memiliki Anda. Kita membuat perbedaan bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan terus membuat perbedaan untuk ribuan wanita lain, untuk anak-anak lain, untuk orang-orang yang membutuhkan harapan.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membuat perbedaan untuk orang lain.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus membuat perbedaan untuk orang lain, bersama-sama. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa ia sudah menggunakan pengalamannya untuk membantu ribuan wanita seperti wanita itu. Ia sudah menggunakan rasa sakitnya untuk memberikan harapan untuk ribuan wanita seperti wanita itu. Ia sudah menggunakan kehidupannya untuk membuat perbedaan untuk ribuan wanita seperti wanita itu.
Dan itu sudah cukup.