Setelah Nadia dan Bara dihukum, Arga dan Larasati akhirnya mendapatkan kedamaian yang sudah lama mereka rindukan. Mereka akhirnya bisa berhenti melihat ke belakang, bisa berhenti mengkhawatirkan Nadia dan Bara, bisa berhenti memikirkan masa lalu yang penuh dengan rasa sakit.
Mereka memutuskan untuk merayakan kedamaian mereka dengan perjalanan keluarga ke pantai, dengan Aisha dan Bima, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
Pantai itu indah, dengan pasir putih yang halus, dengan air laut yang biru jernih, dengan langit yang cerah tanpa awan. Aisha dan Bima bermain di pasir dengan tawa yang keras, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, dengan kebebasan yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.
Arga dan Larasati duduk di pasir pantai, menonton Aisha dan Bima bermain dengan tatapan yang penuh dengan cinta, dengan kebahagiaan yang tidak bisa disangkal.
'Aku tidak pernah melihat Aisha dan Bima sebahagia ini,' kata Arga pelan, menatap anak-anaknya bermain dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Aku tidak pernah melihat mereka sebahagia ini sebelumnya.'
'Saya juga tidak pernah melihat mereka sebahagia ini, Arga. Saya juga tidak pernah melihat mereka sebahagia ini sebelumnya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena kita akhirnya damai. Itu semua karena kita akhirnya tidak perlu mengkhawatirkan Nadia dan Bara lagi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Aisha dan Bima bermain, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa ia benar-benar damai. Bahwa ia benar-benar tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi. Bahwa ia benar-benar tidak sendirian lagi.
'Aku tidak pernah merasa damai seperti ini sebelumnya, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak pernah merasa damai seperti ini sejak ayahku meninggalkan kami. Aku tidak pernah merasa damai seperti ini sejak ibuku meninggal.'
'Saya juga tidak pernah merasa damai seperti ini sebelumnya, Arga. Saya juga tidak pernah merasa damai seperti ini sejak ayah saya meninggalkan kami. Saya juga tidak pernah merasa damai seperti ini sejak ibu saya sakit.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan itu semua karena Anda, karena Aisha, karena Bima, karena keluarga kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus merasa damai seperti ini, Arga. Kita akan terus menjadi keluarga yang bahagia seperti ini. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kedamaian yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Malam itu, ketika Aisha dan Bima tertidur di kamar hotel, Arga dan Larasati berjalan-jalan di pantai di bawah bintang-bintang, dengan ombak yang berbisik di kejauhan, dengan angin malam yang lembut di wajah mereka.
Arga memeluk Larasati dari belakang, dengan tangan di pinggangnya, dengan keheningan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
'Aku tidak pernah merasa damai seperti ini sebelumnya, Larasati,' bisik Arga di telinganya. 'Aku tidak pernah merasa damai seperti ini sebelumnya, dan itu semua karenamu.'
'Saya juga tidak pernah merasa damai seperti ini sebelumnya, Arga. Saya juga tidak pernah merasa damai seperti ini sebelumnya, dan itu semua karena Anda.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut di kegelapan. 'Dan itu semua karena keluarga kita.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya memeluk Larasati dari belakang, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia benar-benar damai. Bahwa ia benar-benar tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi. Bahwa ia benar-benar tidak sendirian lagi.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah keluarga yang sudah damai, dengan cinta yang nyata, dengan kebahagiaan yang nyata, dengan kehidupan yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang utuh. Dan itu sudah cukup.