Nadia bebas dari penjara setelah lima tahun. Ia tidak lagi hanya wanita yang penuh dengan dendam dan kebencian. Ia adalah wanita yang hancur, wanita yang terluka, wanita yang tidak bisa kembali dari semua yang sudah ia lakukan.
Tapi Nadia tidak menyerah. Ia tidak berhenti mencoba menghancurkan Arga dan Larasati. Ia menggunakan cara yang paling jahat, cara yang paling berbahaya, cara yang bisa menghancurkan segalanya: ia mencoba menghancurkan reputasi Larasati dengan foto-foto lama yang diedit.
Nadia menyebarkan foto-foto lama Larasati yang diedit untuk membuat Larasati terlihat tidak setia kepada Arga. Foto-foto itu menunjukkan Larasati dengan pria lain, dengan pakaian yang tidak senonoh, dengan pose yang tidak pantas. Foto-foto itu palsu, tapi foto-foto itu terlihat nyata, dan media menyerang Larasati dengan kebencian yang tidak bisa dijelaskan.
'Istri Arga Mahesa tidak setia!' judul berita di portal gosip terkenal. 'Istri Arga Mahesa berselingkuh dengan pria lain sebelum menikah dengan Arga!'
Berita itu menyebar dengan cepat. Dalam beberapa jam, ribuan komentar muncul di media sosial, kebanyakan menghakimi Larasati. Komentar-komentar itu kejam, penuh dengan tuduhan, penuh dengan kebencian.
'Pelacur yang tidak setia.'
'Wanita yang tidak tahu malu yang berselingkuh sebelum menikah.'
'Arga dibohongi oleh wanita jahat ini.'
Larasati membaca komentar-komentar itu di ponselnya di kamar tidur, dengan Bima tertidur di pelukannya, dan merasa dunianya runtuh lagi. Ia tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa berpikir. Ia hanya duduk di sana, menatap layar ponselnya, dan merasa seperti sedang tenggelam.
Arga menemukan Larasati di kamar tidur dengan wajah yang pucat dan mata yang kosong. Ia berjalan ke arahnya dan berhenti di depannya dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran.
'Kau tidak apa-apa?' tanya Arga, suaranya rendah.
Larasati menggeleng. Air matanya sudah mengalir tanpa bisa ditahan. 'Saya tidak bisa, Arga. Saya tidak bisa menghadapi ini lagi. Semua orang membenci saya. Semua orang menghakimi saya tanpa tahu kebenarannya. Semua orang mengira saya tidak setia pada Anda.'
Arga berjalan ke arahnya dan berhenti di depannya. Ia tidak menyentuhnya, tapi ia berdiri cukup dekat sehingga Larasati bisa merasakan kehadirannya yang kuat.
'Larasati, dengarkan aku.' Suara Arga tenang tapi tegas. 'Aku tidak percaya pada Nadia. Aku tidak percaya bahwa kau tidak setia padaku. Aku tidak percaya bahwa foto-foto itu nyata.'
'Tapi semua orang percaya padanya, Arga. Semua orang percaya bahwa saya tidak setia pada Anda. Semua orang percaya bahwa foto-foto itu nyata.' Larasati menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. 'Bagaimana saya bisa membuktikan bahwa itu tidak benar?'
'Kau tidak perlu membuktikan apa-apa, Larasati. Aku akan membuktikannya untukmu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Aku akan membuktikan bahwa foto-foto itu palsu. Aku akan membuktikan bahwa kau setia padaku. Dan aku akan membuktikan bahwa Nadia berbohong lagi.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar percaya padanya. Arga benar-benar tidak meragukan Larasati. Arga benar-benar tidak menghakimi Larasati.
'Arga—' suaranya hancur.
'Aku percaya padamu, Larasati. Aku percaya padamu dengan sepenuh hati, dan aku tidak akan membiarkan Nadia menghancurkanmu lagi.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kebenaran yang nyata. 'Dan aku akan membuktikan bahwa foto-foto itu palsu dengan bukti keaslian.'
Larasati tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa ia tidak sendirian lagi. Ia memiliki Arga. Dan Arga memiliki dia.
Dan mereka akan membuktikan bahwa Nadia berbohong lagi. Mereka akan membuktikan bahwa foto-foto itu palsu. Mereka akan membuktikan bahwa cinta mereka nyata.