Lima tahun sudah berlalu sejak Nadia dihukum penjara. Lima tahun sudah berlalu sejak Arga dan Larasati menikah dengan sungguhan. Lima tahun sudah berlalu sejak mereka menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata.
Aisha sudah berumur tujuh tahun sekarang, dan ia sudah menjadi anak yang cerdas, yang penuh dengan kehidupan, yang penuh dengan cinta. Ia sudah bersekolah di sekolah dasar terbaik di kota, dan ia sudah memiliki banyak teman yang menyayanginya.
Bima, adik Aisha, sudah berumur empat tahun sekarang, dan ia sudah menjadi anak yang penuh dengan energi, yang penuh dengan tawa, yang penuh dengan keingintahuan. Ia sudah bisa berbicara dengan jelas, bisa berjalan dengan cepat, bisa membuat semua orang di mansion tertawa dengan tingkah lakunya yang lucu.
Arga dan Larasati sudah menjadi orang tua yang baik untuk kedua anak mereka. Arga sudah menjadi ayah yang lembut, yang penuh dengan cinta, yang tidak bisa berhenti menatap anak-anaknya dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman. Larasati sudah menjadi ibu yang sabar, yang penuh dengan kelembutan, yang tidak bisa berhenti memastikan bahwa anak-anaknya tumbuh dengan cinta dan kebahagiaan.
Suatu sore, ketika Aisha dan Bima bermain di taman mansion dengan perawat yang mengawasi, Arga dan Larasati duduk di teras dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka berdua,' kata Arga pelan, menatap Aisha dan Bima bermain dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa kalian berempat.'
'Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa mereka berdua, Arga. Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa kalian berempat.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak ingin membayangkan kehidupan tanpa kalian berempat.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Aisha dan Bima bermain, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa ia benar-benar bahagia. Bahwa ia benar-benar memiliki kehidupan yang ia inginkan. Bahwa ia benar-benar tidak sendirian lagi.
'Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan menjadi sebahagia ini, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan memiliki keluarga yang utuh seperti ini, dengan anak-anak yang cantik, dengan istri yang mencintaiku dengan sepenuh hati.'
'Saya juga tidak pernah menyangka bahwa saya akan menjadi sebahagia ini, Arga. Saya juga tidak pernah menyangka bahwa saya akan memiliki keluarga yang utuh seperti ini, dengan anak-anak yang cantik, dengan suami yang mencintai saya dengan sepenuh hati.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan menjadi sebahagia ini setelah semua yang sudah terjadi.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi keluarga yang utuh seperti ini, Arga. Kita akan terus menjadi keluarga yang bahagia seperti ini. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa perjalanan mereka sudah selesai. Bahwa mereka sudah sampai di tujuan. Bahwa mereka sudah menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang seharusnya. Dan itu sudah cukup.