Larasati dan Arga melihat kembali perjalanan mereka dengan penuh dengan rasa syukur. Mereka melihat kembali bagaimana mereka mulai dari pernikahan kontrak yang dingin, bagaimana mereka melewati serangan Nadia, penculikan Aisha, semua kebohongan dan kebencian, dan bagaimana mereka akhirnya menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata.
Suatu malam, ketika Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas, mereka duduk di ruang tamu dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan, dan berbicara tentang perjalanan mereka.
'Kau ingat hari pertama kita bertemu?' tanya Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Hari itu aku menemukanmu menangis di taman, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya tahu bahwa aku tidak bisa meninggalkanmu di sana, menangis, sendirian.'
'Saya ingat hari itu, Arga. Saya ingat bahwa Anda memberi saya payung dan menawarkan bantuan. Saya ingat bahwa Anda tidak menanyakan apa-apa, tidak menghakimi apa-apa, hanya membantu.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan mengubah kehidupan saya selamanya.'
'Aku juga tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan mengubah kehidupanku selamanya. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan jatuh cinta padamu, bahwa aku akan menikahimu dengan sungguhan, bahwa aku akan menjadi ayah untuk anak-anak kita.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Tapi aku tidak menyesal dengan apa pun yang sudah terjadi. Aku tidak menyesal dengan perjalanan kita, dengan rasa sakit kita, dengan kebahagiaan kita.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa mereka sudah melewati begitu banyak bersama-sama, dan mereka masih bersama-sama, masih mencintai satu sama lain, masih menjadi keluarga yang utuh.
'Saya juga tidak menyesal dengan apa pun yang sudah terjadi, Arga. Saya juga tidak menyesal dengan perjalanan kita, dengan rasa sakit kita, dengan kebahagiaan kita.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Karena semua itu membawa kita ke sini. Semua itu membawa kita menjadi keluarga yang utuh. Semua itu membawa kita menjadi pria dan wanita yang lebih baik.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membantunya menjadi pria yang lebih baik.
'Aku tidak bisa menjadi pria yang lebih baik tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa menjadi ayah yang baik tanpamu. Aku tidak bisa menjadi suami yang baik tanpamu.'
'Anda tidak perlu menjadi pria yang lebih baik sendirian, Arga. Anda tidak perlu menjadi ayah yang baik sendirian. Anda tidak perlu menjadi suami yang baik sendirian.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan menjadi pria dan wanita yang lebih baik bersama-sama, Arga. Kita akan menjadi orang tua yang baik bersama-sama. Kita akan menjadi suami istri yang baik bersama-sama.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya cantik, tidak hanya baik, tapi juga kuat, juga teguh, juga orang yang akan selalu ada untuknya dan anak-anaknya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus menjadi pria dan wanita yang lebih baik bersama-sama, Arga. Kita akan terus menjadi keluarga yang utuh bersama-sama. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka dan anak-anak mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa perjalanan mereka sudah selesai. Bahwa mereka sudah sampai di tujuan. Bahwa mereka sudah menjadi keluarga yang utuh dengan cinta yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang seharusnya. Dan itu sudah cukup.