Larasati dan Arga merayakan anniversary pernikahan mereka yang ketiga dengan sederhana tapi bermakna. Mereka tidak mengadakan pesta besar, tidak mengundang banyak orang, tidak melakukan apa pun yang berlebihan. Mereka hanya menghabiskan malam bersama di rumah, dengan Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan makan malam yang Arga masak sendiri, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Tiga tahun sudah berlalu sejak kita menikah dengan kontrak,' kata Arga pelan, menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Tiga tahun sudah berlalu sejak aku menawarkanmu pernikahan kontrak untuk menghukum Nadia, dan tiga tahun sudah berlalu sejak aku jatuh cinta padamu tanpa aku sadari.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Tiga tahun sudah berlalu sejak saya menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibu saya, dan tiga tahun sudah berlalu sejak saya jatuh cinta pada Anda tanpa saya sadari.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa mereka sudah melewati begitu banyak bersama-sama: pernikahan kontrak, serangan Nadia, penculikan Aisha, semua kebohongan dan kebencian, dan mereka masih bersama-sama, masih mencintai satu sama lain, masih menjadi keluarga yang utuh.
'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa cinta yang kau berikan padaku, tanpa kelembutan yang kau berikan padaku, tanpa kebahagiaan yang kau berikan padaku.'
'Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa Anda, Arga. Saya juga tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa cinta yang Anda berikan pada saya, tanpa kelembutan yang Anda berikan pada saya, tanpa kebahagiaan yang Anda berikan pada saya.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak ingin membayangkan kehidupan tanpa Anda.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, suaranya bergetar. 'Saya juga mencintaimu dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Mereka tidak berhenti berciuman untuk waktu yang lama. Mereka hanya berdiri di sana, di tengah ruang tamu, dalam cahaya lilin yang redup, dan membiarkan cinta mereka mengambil alih.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah suami istri yang sudah melewati tiga tahun bersama-sama, dengan cinta yang nyata, dengan kebahagiaan yang nyata, dengan kehidupan yang nyata.
Mereka sudah menjadi keluarga yang utuh selama tiga tahun. Dan itu sudah cukup.