Larasati tidak tidur malam itu. Ia duduk di samping tempat tidur ibunya di rumah sakit kecil di pinggiran kota, memegang tangan ibunya yang kurus dan pucat, dan menatap wajah ibunya yang tertidur dengan tenang karena obat penghilang rasa sakit.
Biaya operasi sudah ditagihkan. Rumah sakit memberi waktu sampai akhir minggu. Setelah itu, jika mereka tidak bisa membayar, ibunya akan dipindahkan ke ruang perawatan umum yang fasilitasnya jauh lebih buruk, atau bahkan dipulangkan.
Larasati tidak punya uang. Ia tidak punya pekerjaan. Ia tidak punya siapa-siapa yang bisa ia minta tolong. Ia hanya punya satu tawaran gila dari seorang pria yang penuh dendam, dan waktu yang semakin menipis.
Ibunya bergerak pelan di tempat tidur, membuka matanya sedikit. 'Laras,' suaranya lemah.
'Ssh, Ibu, istirahat saja.' Larasati membelai rambut ibunya dengan lembut.
'Kau tidak tidur?'
'Aku tidak ngantuk, Bu.'
Ibunya menatapnya dengan mata yang masih setengah terbuka. 'Ada masalah apa, nak?'
Larasati ingin berkata tidak ada. Ia ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi ia tidak bisa berbohong pada ibunya. Tidak sekarang.
'Aku dipecat, Bu,' kata Larasati akhirnya, suaranya hancur. 'Karena berita tentang Nadia. Karena nama belakangku.'
Ibunya menutup matanya sejenak, dan ketika membukanya lagi, ada air mata di sana. 'Maaf, nak. Maaf karena ibu tidak bisa melindungimu.'
'Jangan begitu, Bu. Ini bukan salah Ibu.' Larasati memegang tangan ibunya lebih erat. 'Aku akan cari jalan. Aku janji.'
Tapi ia tidak tahu jalan apa. Ia tidak tahu bagaimana caranya.
Pagi harinya, jam delapan tepat, telepon Larasati berdering. Nama di layar: Bu Sari.
Larasati menatap teleponnya selama beberapa detik, tangannya gemetar. Ia tahu apa yang harus ia jawab. Ia tahu apa yang benar. Tapi ia juga tahu bahwa kebenaran tidak akan menyelamatkan ibunya.
Ia mengangkat teleponnya. 'Halo.'
'Selamat pagi, Nona Larasati. Saya Bu Sari, sekretaris Pak Arga Mahesa. Pak Arga ingin mendengar jawaban Anda tentang tawaran yang beliau berikan kemarin.'
Larasati menutup matanya. Ia melihat ibunya yang tertidur di tempat tidur rumah sakit, wajahnya pucat, tubuhnya semakin kurus. Ia melihat tagihan rumah sakit yang menumpuk di meja. Ia melihat masa depan yang gelap dan tanpa harapan.
'Saya terima,' kata Larasati, suaranya hampir tidak terdengar.
Hening sejenak di ujung telepon. 'Baik, Nona. Pak Arga akan mengirimkan kontraknya siang ini. Dan beliau ingin bertemu dengan Anda besok pagi jam sembilan di kantornya untuk membahas detail pernikahan.'
'Baik.'
'Dan Nona, Pak Arga meminta saya menyampaikan bahwa mulai hari ini, semua biaya pengobatan ibu Anda akan ditanggung oleh Mahesa Group. Rumah sakit akan dihubungi dalam satu jam ke depan.'
Larasati merasakan air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. 'Terima kasih.'
Ia menutup telepon dan duduk di samping tempat tidur ibunya, menangis dalam diam. Ia tidak tahu apakah ia baru saja menyelamatkan ibunya atau menghancurkan dirinya sendiri. Mungkin keduanya.
Siang itu, seorang kurir datang dengan amplop besar berisi kontrak pernikahan. Larasati membacanya di lorong rumah sakit, di bawah lampu neon yang berkedip, dan setiap kata yang ia baca membuat dadanya semakin sesak.
Kontrak itu jelas dan tidak berbelit-belit:
- Pernikahan berlangsung selama satu tahun, dapat diperpanjang jika disepakati kedua belah pihak.
- Larasati akan tinggal di mansion Arga Mahesa, di kamar terpisah.
- Larasati akan berperan sebagai istri Arga Mahesa di semua acara publik dan sosial.
- Larasati tidak diperbolehkan memiliki hubungan dengan pria lain selama kontrak berlangsung.
- Arga Mahesa akan membiayai seluruh biaya pengobatan ibu Larasati sampai sembuh.
- Setelah satu tahun, Larasati akan menerima kompensasi sebesar lima miliar rupiah.
- Tidak ada kewajiban hubungan fisik apa pun antara kedua belah pihak.
- Kontrak dapat diakhiri lebih awal jika salah satu pihak melanggar kesepakatan.
Larasati membaca kontrak itu dua kali, tiga kali, mencari celah, mencari jebakan. Tapi tidak ada. Kontrak itu lurus dan jelas. Arga tidak memintanya menjadi istri sungguhan. Ia hanya memintanya berperan.
Tapi berperan sebagai istri pria yang penuh dendam, pria yang menikahinya hanya untuk menghancurkan kakaknya, bukanlah peran yang mudah.
Besok paginya, Larasati berdiri di depan gedung Mahesa Group, menatap menara kaca yang menjulang tinggi, dan merasa seperti sedang berdiri di depan gerbang neraka. Ia mengenakan dress sederhana yang ia beli dengan uang pesangonnya, rambutnya diikat rapi, wajahnya pucat tapi tegar.
Bu Sari menjemputnya di lobi dan membawanya ke lantai tiga puluh, ke kantor Arga Mahesa.
Arga berdiri di depan jendela besar, menghadap kota, ketika Larasati masuk. Ia berbalik, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat sesuatu yang bukan dingin di matanya: kelelahan yang dalam.
'Kau datang,' kata Arga.
'Saya tidak punya pilihan,' jawab Larasati, suaranya tenang meskipun hatinya berteriak.
Arga mengangguk pelan. 'Kita semua tidak punya pilihan, Larasati. Kita hanya melakukan apa yang harus dilakukan.'
Ia berjalan ke mejanya, mengambil sebuah cincin dari kotak kecil, dan berjalan ke arah Larasati. Ia berhenti di depannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca.
'Ini cincin pernikahanmu. Pernikahan akan dilangsungkan minggu depan, tertutup, hanya dengan beberapa saksi dan media terpilih. Setelah itu, kau pindah ke mansionku.'
Larasati menatap cincin itu, cincin berlian sederhana tapi elegan, dan merasa tangannya gemetar saat mengambilnya.
'Ada satu aturan yang tidak tertulis di kontrak,' kata Arga, suaranya rendah. 'Jangan pernah jatuh cinta padaku. Karena aku tidak akan pernah bisa membalasnya.'
Larasati mengangkat kepalanya, menatap Arga dengan mata yang akhirnya menemukan kekuatannya. 'Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria yang menikahiku untuk balas dendam, Pak Arga. Itu janji.'
Arga menatapnya selama beberapa detik, lalu mengangguk pelan. 'Bagus. Kalau begitu kita sepakat.'
Ia berbalik dan kembali ke mejanya, meninggalkan Larasati berdiri di tengah ruangan dengan cincin di tangannya dan masa depan yang tidak pasti di depannya.
Minggu depan, Larasati akan menikah dengan pria asing yang penuh dendam. Dan entah bagaimana, ia harus bertahan selama satu tahun tanpa kehilangan dirinya sendiri.