Arga tidak pernah bisa memaafkan ayahnya. Ia tidak pernah bisa melupakan bahwa ayahnya mengkhianati ibunya, bahwa ayahnya meninggalkan mereka, bahwa ayahnya menghancurkan ibunya sampai ibunya meninggal karena patah hati.
Tapi setelah menjadi ayah sendiri, setelah melihat bagaimana Aisha dan adiknya membutuhkannya, setelah melihat bagaimana Larasati mencintainya dengan sepenuh hati, Arga mulai memahami bahwa ia tidak bisa terus membawa dendam dan kebencian untuk ayahnya selamanya.
Suatu hari, Arga mengajak Larasati mengunjungi makam ayahnya di pemakaman kota. Ia tidak pernah mengunjungi makam ayahnya sebelumnya, tidak pernah ingin mengunjungi makam ayahnya sebelumnya. Tapi ia merasa bahwa ia harus pergi, bahwa ia harus memaafkan ayahnya, bahwa ia harus move on dari masa lalu untuk menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Larasati berdiri di samping Arga di depan makam ayahnya, dengan tangan di tangannya, dengan keheningan yang penuh dengan pengertian.
'Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya, Larasati,' kata Arga pelan, menatap makam ayahnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak tahu apakah aku bisa melupakan apa yang sudah dia lakukan pada ibuku, pada keluarga kami, pada aku.'
'Anda tidak harus melupakan apa yang sudah dia lakukan, Arga. Anda tidak harus melupakan bahwa dia mengkhianati ibumu, bahwa dia meninggalkan kalian, bahwa dia menghancurkan ibumu sampai ibumu meninggal.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Tapi Anda juga tidak harus membawa dendam dan kebencian untuknya selamanya. Anda juga tidak harus membiarkan dendam dan kebencian menghancurkan Anda seperti dendam dan kebencian menghancurkan ibumu.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap makam ayahnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati benar. Ia tidak harus membawa dendam dan kebencian untuk ayahnya selamanya. Ia tidak harus membiarkan dendam dan kebencian menghancurkannya seperti dendam dan kebencian menghancurkan ibunya.
'Aku tidak akan menjadi seperti ayahku,' kata Arga pelan, suaranya serak. 'Aku tidak akan mengkhianati keluargaku seperti ayahku mengkhianati keluarganya. Aku tidak akan meninggalkan anak-anakku seperti ayahku meninggalkanku. Aku tidak akan menghancurkan keluargaku seperti ayahku menghancurkan keluarganya.'
'Anda tidak akan menjadi seperti ayah Anda, Arga. Anda tidak akan mengkhianati keluarga Anda. Anda tidak akan meninggalkan anak-anak Anda. Anda tidak akan menghancurkan keluarga Anda.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang teguh. 'Anda akan menjadi ayah yang baik untuk Aisha dan adiknya. Anda akan menjadi suami yang baik untuk saya. Anda akan menjadi pria yang lebih baik dari ayah Anda.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap makam ayahnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak lagi penuh dengan dendam dan kebencian. Ia tidak lagi penuh dengan rasa sakit. Ia sudah move on dari masa lalu, sama seperti Larasati.
'Aku memaafkanmu, Ayah,' kata Arga pelan, suaranya hampir tidak terdengar. 'Aku memaafkanmu karena aku tidak ingin menjadi seperti kamu. Aku memaafkanmu karena aku ingin menjadi ayah yang lebih baik darimu. Aku memaafkanmu karena aku ingin menjadi pria yang lebih baik darimu.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar sudah move on dari masa lalu. Arga benar-benar sudah melupakan ayahnya. Arga benar-benar sudah tidak lagi penuh dengan dendam dan kebencian.
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya berdiri di depan makam ayahnya, dalam keheningan yang penuh dengan kelegaan, dan membiarkan kehadiran satu sama lain menjadi cukup.
Dan untuk pertama kalinya, Arga merasa bahwa ia tidak lagi penuh dengan dendam dan kebencian. Ia tidak lagi penuh dengan rasa sakit. Ia sudah move on dari masa lalu, dan ia siap untuk menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Dan itu sudah cukup.