Setelah semua yang sudah mereka lalui — serangan Nadia, penculikan Aisha, semua kebohongan dan kebencian — Arga dan Larasati memutuskan untuk menggunakan pengalaman mereka untuk membantu orang lain. Mereka membangun yayasan amal bersama untuk membantu wanita dan anak-anak korban kekerasan, korban pengkhianatan, korban dendam dan kebencian.
Yayasan itu bernama "Yayasan Aisha", dari nama putri mereka, dan misinya adalah untuk memberikan tempat yang aman untuk wanita dan anak-anak yang membutuhkan perlindungan, untuk memberikan pendidikan dan dukungan untuk wanita yang ingin membangun kehidupan baru, untuk memberikan harapan untuk orang-orang yang sudah kehilangan harapan.
Larasati memimpin yayasan itu dengan sepenuh hati. Ia menggunakan pengalamannya sendiri sebagai wanita yang dulu kehilangan pekerjaan karena skandal kakaknya, sebagai wanita yang dulu tidak punya pilihan selain menerima pernikahan kontrak untuk biaya operasi ibunya, sebagai wanita yang dulu hampir kehilangan segalanya karena dendam dan kebencian orang lain.
'Aku ingin wanita-wanita lain tidak mengalami apa yang aku alami,' kata Larasati suatu sore ketika mereka meresmikan yayasan itu. 'Aku ingin wanita-wanita lain memiliki pilihan, memiliki dukungan, memiliki harapan untuk membangun kehidupan baru tanpa harus menjual diri mereka seperti aku.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kekaguman. 'Kau akan membuat perbedaan untuk banyak wanita, Larasati. Kau akan memberikan mereka harapan yang tidak pernah kau miliki.'
'Saya tidak sendirian dalam ini, Arga. Saya memiliki Anda. Kita akan membuat perbedaan bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Kita akan memberikan wanita-wanita lain harapan yang tidak pernah saya miliki, bersama-sama.'
Yayasan itu berjalan dengan baik. Mereka membantu ratusan wanita dan anak-anak dalam tahun pertama: memberikan tempat tinggal untuk wanita yang melarikan diri dari kekerasan, memberikan pendidikan untuk wanita yang ingin membangun kehidupan baru, memberikan dukungan untuk anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Suatu hari, seorang wanita muda datang ke yayasan dengan wajah yang penuh dengan ketakutan. Ia adalah korban kekerasan dari suaminya, dan ia tidak punya tempat untuk pergi, tidak punya uang, tidak punya siapa-siapa yang bisa membantunya.
Larasati duduk dengan wanita itu dan mendengarkan ceritanya dengan sabar, sama seperti ibu Arga dulu mendengarkan Larasati. Ia tidak menghakimi. Ia tidak mempertanyakan. Ia hanya mendengarkan dan memberikan dukungan.
'Anda tidak sendirian lagi,' kata Larasati pelan. 'Anda tidak sendirian lagi. Kami akan membantu Anda. Kami akan melindungi Anda. Kami akan memberikan Anda tempat yang aman untuk membangun kehidupan baru.'
Wanita itu menatap Larasati dengan tatapan yang penuh dengan kelegaan. 'Terima kasih. Terima kasih karena tidak menghakimi saya. Terima kasih karena membantu saya.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap wanita itu, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa ia sudah menggunakan pengalamannya untuk membantu orang lain. Ia sudah menggunakan rasa sakitnya untuk memberikan harapan untuk orang lain. Ia sudah menggunakan kehidupannya untuk membuat perbedaan.
Malam itu, Arga dan Larasati duduk di ruang tamu dengan teh hangat di tangan mereka, dengan Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku bangga padamu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku bangga dengan apa yang kau lakukan untuk wanita-wanita itu. Aku bangga dengan kekuatanmu, dengan kelembutanmu, dengan cinta yang kau berikan untuk orang lain.'
'Saya tidak sendirian dalam ini, Arga. Saya memiliki Anda. Kita membuat perbedaan bersama-sama.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan kita akan terus membuat perbedaan untuk wanita-wanita lain, untuk anak-anak lain, untuk orang-orang yang membutuhkan harapan.'
Arga tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Larasati tidak hanya istrinya. Larasati juga mitra hidupnya, juga pendukungnya, juga orang yang akan selalu membuat perbedaan untuk orang lain.
'Aku mencintaimu, Larasati,' kata Arga pelan. 'Aku mencintaimu dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan.'
'Saya juga mencintaimu, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Dan kita akan terus membuat perbedaan untuk orang lain, bersama-sama. Seperti keluarga yang seharusnya.'
Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Mereka hanya menikmati kebersamaan mereka sebagai keluarga, menikmati kebahagiaan yang tidak bisa disangkal, menikmati cinta yang sudah tumbuh di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa ia sudah menggunakan pengalamannya untuk membantu orang lain. Ia sudah menggunakan rasa sakitnya untuk memberikan harapan untuk orang lain. Ia sudah menggunakan kehidupannya untuk membuat perbedaan.
Dan itu sudah cukup.