Nadia di penjara merenung tentang semua yang sudah ia lakukan. Ia merenung tentang perselingkuhannya dengan Dimas, tentang kebohongannya tentang kehamilan, tentang percobaan pembunuhannya pada Larasati, tentang penculikannya pada Aisha. Ia merenung tentang semua kejahatannya, dan untuk pertama kalinya, ia mulai menyesali perbuatannya.
Nadia tidak lagi hanya wanita yang penuh dengan dendam dan kebencian. Ia adalah wanita yang hancur, wanita yang terluka, wanita yang tidak bisa kembali dari semua yang sudah ia lakukan. Ia tidak bisa kembali dari penjara lima belas tahun. Ia tidak bisa kembali dari kebenaran bahwa ia sudah menghancurkan kehidupannya sendiri dengan dendam dan kebencian.
Suatu hari, Nadia menulis surat untuk Larasati dari penjara. Ia tidak tahu apakah Larasati akan membacanya. Ia tidak tahu apakah Larasati akan memaafkannya. Ia hanya tahu bahwa ia harus menulis surat itu, bahwa ia harus mengakui kesalahannya, bahwa ia harus meminta maaf.
'Larasati,
Aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan padamu. Aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf untuk perselingkuhanku dengan Dimas, untuk kebohonganku tentang kehamilan, untuk percobaan pembunuhanku padamu, untuk penculikanku pada Aisha.
Aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf karena aku sudah menghancurkan kehidupanmu, kehidupan Arga, kehidupan keluargamu. Aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf karena aku sudah menjadi wanita yang penuh dengan dendam dan kebencian, wanita yang tidak bisa melihat kebenaran, wanita yang tidak bisa menerima bahwa Arga sudah move on dariku.
Aku tidak meminta kau memaafkanku, Larasati. Aku tidak meminta kau melupakan apa yang sudah aku lakukan. Aku hanya meminta kau tahu bahwa aku menyesali semuanya. Aku menyesali perselingkuhanku dengan Dimas. Aku menyesali kebohonganku tentang kehamilan. Aku menyesali percobaan pembunuhanku padamu. Aku menyesali penculikanku pada Aisha.
Aku menyesali bahwa aku sudah menjadi wanita yang penuh dengan dendam dan kebencian. Aku menyesali bahwa aku sudah menghancurkan kehidupanku sendiri dengan dendam dan kebencian. Aku menyesali bahwa aku sudah tidak bisa melihat kebenaran bahwa Arga tidak mencintaiku lagi, bahwa Arga sudah move on dariku, bahwa Arga sudah menemukan kebahagiaan denganmu.
Aku tidak meminta kau memaafkanku, Larasati. Aku hanya meminta kau tahu bahwa aku menyesali semuanya. Dan aku berharap bahwa suatu hari, aku bisa menjadi wanita yang lebih baik dari ini.
Nadia'
Larasati membaca surat itu di kamar tidurnya, dengan Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan Arga di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Ia tidak tahu apakah ia harus memaafkan Nadia atau tidak. Ia tidak tahu apakah ia harus melupakan apa yang sudah Nadia lakukan atau tidak.
'Anda tidak harus memaafkannya, Larasati,' kata Arga pelan, membaca surat itu juga. 'Anda tidak harus melupakan apa yang sudah dia lakukan. Anda tidak harus membiarkan dia menghancurkanmu lagi dengan suratnya.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. 'Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, Arga. Saya tidak tahu apakah saya harus memaafkannya atau tidak.'
'Anda tidak harus memaafkannya, Larasati. Anda tidak harus melupakan apa yang sudah dia lakukan. Tapi Anda juga tidak harus membiarkan dendam dan kebencian menghancurkanmu seperti dendam dan kebencian menghancurkannya.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Anda hanya perlu memikirkan keluarga kita, kehidupan kita, kebahagiaan kita. Anda tidak perlu memikirkan Nadia lagi.'
Larasati tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar sudah move on dari masa lalu. Arga benar-benar sudah melupakan Nadia. Arga benar-benar sudah tidak lagi penuh dengan dendam dan kebencian.
'Anda benar, Arga. Saya tidak perlu memikirkan Nadia lagi. Saya hanya perlu memikirkan keluarga kita, kehidupan kita, kebahagiaan kita.' Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Dan saya tidak akan membiarkan dendam dan kebencian menghancurkan saya seperti dendam dan kebencian menghancurkan Nadia.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan kekaguman yang nyata. 'Aku bangga padamu, Larasati. Aku bangga dengan kekuatanmu. Aku bangga dengan keteguhanmu. Dan aku mencintaimu dengan sepenuh hati.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak lagi penuh dengan dendam dan kebencian. Ia tidak lagi penuh dengan rasa sakit. Ia sudah move on dari masa lalu, sama seperti Arga.
Dan itu sudah cukup.