Beberapa bulan setelah pernikahan mereka yang sebenarnya, Larasati menemukan bahwa ia hamil lagi. Ia tidak menyangka bahwa kehidupan mereka akan berubah dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan lagi.
Ia memberitahu Arga di malam hari, ketika Aisha tertidur di kamar bayi di lantai atas, dengan teh hangat di tangan mereka, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Arga, saya hamil lagi,' kata Larasati pelan, menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan.
Arga tidak bergerak untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Larasati, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di mata Arga: kebahagiaan yang murni, kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, kebahagiaan yang nyata.
'Kau hamil lagi,' kata Arga, suaranya serak. 'Kau hamil anak kedua kita.'
'Ya.' Larasati tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak tahu apakah Arga bahagia atau tidak. Ia tidak tahu apakah Arga menginginkan anak kedua ini atau tidak.
Arga berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Larasati. Ia berlutut di depannya, mengambil tangan Larasati dengan tangan yang gemetar, dan menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Aku akan menjadi ayah lagi,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku akan menjadi ayah lagi, Larasati. Aku akan menjadi ayah untuk anak kedua kita.'
Larasati menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar bahagia. Arga benar-benar menginginkan anak kedua ini. Arga benar-benar ingin menjadi ayah lagi.
'Tapi...' Arga berhenti, dan kebahagiaan di matanya berubah menjadi ketakutan yang mendalam. 'Tapi aku takut, Larasati. Aku takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan anak kita. Aku takut bahwa aku akan menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Anda tidak akan menghancurkan saya, Arga. Anda tidak akan kehilangan saya. Dan Anda tidak akan kehilangan anak kita. Anda sudah menjadi ayah yang baik untuk Aisha, dan Anda akan menjadi ayah yang baik untuk anak kedua kita juga.'
'Aku tidak tahu itu, Larasati. Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi ayah yang baik untuk dua anak. Aku tidak tahu apakah aku bisa melindungi kalian bertiga.' Arga menatapnya dengan tatapan yang hancur. 'Aku tidak ingin kalian terluka. Aku tidak ingin kalian menjadi seperti ibuku dan aku.'
Larasati mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Arga dengan lembut. 'Anda tidak seperti ayah Anda, Arga. Anda tidak akan menghancurkan kami. Anda akan menjadi ayah yang baik untuk kedua anak kita. Saya tahu itu.'
Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam, dengan ketakutan yang masih ada, dengan keinginan untuk percaya yang masih berjuang.
'Aku akan melindungi kalian bertiga dengan nyawaku,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku akan melindungi kalian bertiga, Larasati. Aku berjanji.'
Larasati tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga tidak hanya bahagia. Arga juga takut. Arga juga khawatir. Arga juga ingin menjadi ayah yang baik untuk kedua anak mereka.
Dan Larasati tahu bahwa Arga akan menjadi ayah yang baik untuk kedua anak mereka. Ia tahu itu dengan sepenuh hati.
Keluarga mereka akan semakin besar. Dan itu sudah cukup.