Pernikahan Arga dan Larasati yang kedua berlangsung di gereja besar di pusat kota, dengan semua keluarga, teman, dan orang-orang yang mereka sayangi. Ini bukan pernikahan kontrak yang tertutup. Ini adalah pernikahan yang sebenarnya, dengan cinta yang nyata, dengan janji yang sebenarnya.
Larasati mengenakan gaun pengantin putih yang elegan, rambutnya digelung rapi dengan bunga-bunga kecil, dan berdiri di depan altar dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan. Arga berdiri di sampingnya dengan jas hitam yang rapi, dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
Ibu Arga duduk di barisan depan dengan tatapan yang penuh dengan kebahagiaan. Ia sudah sehat sekarang, sudah bisa berjalan lagi, sudah bisa melihat putranya menikah lagi dengan wanita yang benar. Ia sudah menganggap Larasati seperti anak kandungnya, dan ia tidak bisa lebih bahagia lagi.
'Aku menyayangimu seperti anakku sendiri, Larasati,' bisik ibu Arga pada Larasati sebelum pernikahan dimulai. 'Aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan aku tidak bisa lebih bahagia lagi bahwa Arga menemukanmu.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Saya juga menyayangi Anda seperti ibu saya sendiri, Bu. Saya juga menyayangi Anda seperti ibu saya sendiri.'
Pernikahan dimulai dengan pendeta berbicara tentang cinta, tentang komitmen, tentang janji untuk saling menjaga dalam suka dan duka. Tapi kali ini, kata-kata itu tidak terdengar hampa. Kata-kata itu terdengar nyata, terdengar benar, terdengar seperti janji yang sebenarnya.
'Saya berjanji untuk mencintaimu, Larasati, dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan, dengan cara yang menakutkan,' kata Arga ketika diminta mengucapkan janji, suaranya serak. 'Saya berjanji untuk melindungimu, untuk menjagamu, untuk tidak pernah menghancurkanmu seperti ayahku menghancurkan ibuku. Saya berjanji untuk menjadi suami yang baik untukmu, untuk Aisha, untuk keluarga kita.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal. 'Saya berjanji untuk mencintaimu, Arga, dengan sepenuh hati, dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan, dengan cara yang menakutkan. Saya berjanji untuk melindungimu, untuk menjagamu, untuk tidak pernah meninggalkanmu. Saya berjanji untuk menjadi istri yang baik untukmu, untuk Aisha, untuk keluarga kita.'
Arga memasangkan cincin di jari manis Larasati, dan Larasati memasangkan cincin di jari Arga. Mereka tidak lagi hanya berperan. Mereka tidak lagi hanya berpura-pura. Mereka adalah suami istri yang sebenarnya, dengan cinta yang nyata, dengan janji yang sebenarnya.
'Anda sekarang resmi menjadi suami istri,' kata pendeta, tersenyum pada mereka berdua. 'Arga, kau boleh mencium istrimu.'
Arga mencium Larasati dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebenaran yang nyata, dengan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan. Semua tamu bertepuk tangan, dan untuk pertama kalinya, Larasati merasa bahwa ia benar-benar bahagia. Bahwa ia benar-benar memiliki kehidupan yang ia inginkan. Bahwa ia benar-benar tidak sendirian lagi.
Malam pernikahan mereka berlangsung di mansion, dengan hanya mereka berdua dan Aisha yang tertidur di kamar bayi di lantai atas. Arga membawa Larasati ke kamar tidur mereka dengan hati-hati, dengan cinta yang tidak bisa disangkal, dengan kebenaran yang nyata.
'Aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa beruntungnya aku, Larasati,' kata Arga pelan, menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. 'Aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa beruntungnya aku memiliki kau dalam hidupku.'
'Saya juga tidak bisa berhenti memikirkan betapa beruntungnya saya, Arga,' kata Larasati, tersenyum tipis. 'Saya juga tidak bisa berhenti memikirkan betapa beruntungnya saya memiliki Anda dalam hidup saya.'
Arga mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Larasati dengan lembut, sama seperti malam pertama mereka di balkon itu. Tapi kali ini, Larasati tidak mundur. Ia tidak menarik wajahnya. Ia hanya menatap Arga, dan membiarkan Arga menyentuhnya.
Arga menciumnya, dan ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Ciuman itu lebih dalam, lebih penuh dengan kebenaran, lebih penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal lagi.
Pintu kamar tertutup, dan ketika pagi datang, Arga dan Larasati tidak lagi hanya dua orang yang mencoba. Mereka adalah suami istri yang sebenarnya, dengan cinta yang nyata, dengan janji yang sebenarnya, dengan kehidupan yang sebenarnya.
Mereka sudah menjadi keluarga yang utuh. Dan itu sudah cukup.