Setelah Nadia dihukum penjara, Arga akhirnya merasa lega. Ia akhirnya bisa melepaskan masa lalu, melepaskan dendam, melepaskan semua yang sudah menghancurkannya. Ia akhirnya bisa menjadi pria yang sebenarnya: pria yang mencintai Larasati dengan sepenuh hati, pria yang ingin menjadi suami yang baik, pria yang ingin menjadi ayah yang baik untuk Aisha.
Arga ingin melamar Larasati lagi, dengan sungguhan kali ini, dengan cinta yang nyata, dengan janji yang sebenarnya. Ia ingin melamar Larasati di tempat mereka pertama kali bertemu, di taman kecil di mana Arga menemukan Larasati menangis setelah dipecat.
Arga tidak memberitahu Larasati apa yang ia rencanakan. Ia hanya mengajak Larasati berjalan-jalan di taman kecil itu di akhir pekan, dengan Aisha di gendongan Larasati, dengan keheningan yang penuh dengan kebahagiaan.
'Kenapa kita ke sini?' tanya Larasati, menatap Arga dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
'Aku ingin kau melihat sesuatu,' kata Arga, tersenyum tipis.
Mereka berjalan ke bangku di mana Larasati dulu duduk menangis, di mana Arga menemukannya dengan payung hitam. Arga berhenti di sana, dan Larasati berhenti di sampingnya, dengan Aisha yang tertidur di gendongannya.
'Ini tempat kita pertama kali bertemu,' kata Arga pelan. 'Ini tempat aku menemukanmu menangis, dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya tahu bahwa aku tidak bisa meninggalkanmu di sana, menangis, sendirian.'
Larasati menatapnya dengan tatapan yang lembut. 'Saya ingat hari itu, Arga. Saya ingat bahwa Anda memberi saya payung dan menawarkan bantuan. Saya ingat bahwa Anda tidak menanyakan apa-apa, tidak menghakimi apa-apa, hanya membantu.'
'Aku tidak bisa menanyakan apa-apa, Larasati. Aku tidak bisa menghakimi apa-apa. Aku hanya bisa melihat bahwa kau membutuhkan bantuan, dan aku ingin membantumu.' Arga menatapnya dengan tatapan yang dalam. 'Dan sekarang, aku ingin membantumu dengan cara yang lebih besar dari itu.'
Arga berlutut di depan Larasati, dengan satu tangan di saku jasnya, dan mengeluarkan kotak beludru hitam yang sama dengan yang ia bawa di hari anniversary pernikahannya dengan Nadia. Tapi kali ini, kotak itu bukan untuk Nadia. Kotak itu untuk Larasati.
'Larasati,' kata Arga, suaranya serak. 'Aku tidak tahu bagaimana cara melakukan ini dengan benar. Aku tidak tahu bagaimana cara melamarmu dengan cara yang pantas untukmu. Tapi aku tahu bahwa aku mencintaimu, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu.'
Larasati tidak bisa bernapas. Ia hanya menatap Arga yang berlutut di depannya, dengan kotak beludru hitam di tangannya, dengan tatapan yang penuh dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
'Larasati, akan kau menikahiku lagi?' tanya Arga, suaranya serak. 'Tidak dengan kontrak. Tidak dengan peran. Dengan cinta. Dengan janji yang sebenarnya. Dengan kehidupan yang sebenarnya.'
Larasati tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Arga, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Arga benar-benar serius. Arga benar-benar ingin melamarnya dengan sungguhan. Arga benar-benar ingin menjadi suaminya dengan cinta yang nyata.
'Ya,' kata Larasati akhirnya, suaranya bergetar. 'Ya, Arga. Aku akan menikahimu lagi. Dengan cinta. Dengan janji yang sebenarnya. Dengan kehidupan yang sebenarnya.'
Arga tersenyum, dan untuk pertama kalinya, Larasati melihat senyum yang benar-benar bahagia di wajahnya. Ia berdiri, memeluk Larasati dengan erat, dan menciumnya dengan cinta yang tidak bisa disangkal.
Aisha terbangun di gendongan Larasati dan mulai menangis, tapi Larasati dan Arga tidak peduli. Mereka hanya berdiri di sana, berpelukan, berciuman, dalam kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.
Mereka akan menikah lagi. Dengan cinta. Dengan janji yang sebenarnya. Dengan kehidupan yang sebenarnya.